Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Punya Akun Kedua dan Close Friends Berbeda? Fenomena Multi Identitas Gen Z di Instagram Makin Marak

Widodo • Selasa, 23 Juni 2026 | 13:26 WIB
Di feed terlihat estetik, di story suka berbagi meme, dan di akun kedua lebih jujur. Mengapa Gen Z kini memiliki banyak "versi diri" di Instagram? Ternyata fenomena ini berkaitan dengan cara mereka bertahan di dunia digital yang penuh tekanan dan penilaian. (ilustrasi)
Di feed terlihat estetik, di story suka berbagi meme, dan di akun kedua lebih jujur. Mengapa Gen Z kini memiliki banyak "versi diri" di Instagram? Ternyata fenomena ini berkaitan dengan cara mereka bertahan di dunia digital yang penuh tekanan dan penilaian. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Coba perhatikan akun Instagram teman, saudara, atau bahkan diri sendiri.

Di feed, seseorang mungkin terlihat rapi, estetik, dan penuh foto yang sudah dipilih dengan sangat hati-hati.

Warna yang seragam, komposisi yang menarik, serta caption yang tampak dipikirkan matang-matang membuat profil mereka terlihat seperti majalah digital pribadi.

Namun saat membuka story, gambaran itu bisa berubah drastis.

Orang yang sama mungkin membagikan meme lucu, curhatan singkat tengah malam, tangkapan layar percakapan, atau lagu galau yang sedang diputar berulang kali.

Baca Juga: Dari Palet Bekas Menjadi Patung Raksasa, Kisah Thomas Dambo yang Menghidupkan Dongeng dan Pesan Lingkungan

Lalu ada akun kedua atau akun privat yang hanya bisa diakses oleh lingkaran pertemanan tertentu.

Di sana, versi diri yang muncul sering kali jauh lebih santai, spontan, dan terasa lebih autentik.

Fenomena satu orang dengan banyak identitas digital seperti ini semakin umum ditemukan di kalangan Generasi Z.

Bukan Sekadar Pura-Pura

Banyak orang menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk kepura-puraan atau penggunaan "topeng" di media sosial.

Namun para peneliti justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi banyak Gen Z, memiliki beberapa versi diri di media sosial bukan berarti mereka tidak jujur. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan digital yang semakin kompleks.

Media sosial memberi kebebasan untuk berekspresi, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan tekanan sosial yang tidak kecil.

Setiap unggahan dapat dilihat, dinilai, dikomentari, bahkan dibandingkan dengan unggahan orang lain dalam hitungan detik.

Akibatnya, banyak pengguna muda merasa perlu membagi ruang ekspresi mereka ke dalam beberapa lapisan.

Feed digunakan untuk membangun citra publik.

Story menjadi tempat berbagi keseharian.

Close Friends dipakai untuk orang-orang terdekat.

Sementara akun kedua sering menjadi ruang yang lebih bebas untuk menampilkan sisi diri yang tidak ingin ditunjukkan kepada semua orang.

Identitas Digital Tidak Lagi Tunggal

Perubahan ini sejalan dengan berbagai kajian mengenai perilaku generasi muda di internet.

Menurut sejumlah penelitian yang dilakukan oleh lembaga seperti Pew Research Center, generasi muda cenderung membangun identitas secara dinamis sesuai dengan konteks sosial yang mereka hadapi.

Dengan kata lain, identitas digital tidak lagi bersifat tunggal.

Seseorang dapat menampilkan sisi yang berbeda tergantung siapa audiensnya dan di ruang mana ia berinteraksi.

Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru.

Dalam kehidupan nyata, manusia juga memiliki banyak peran.

Seseorang bisa menjadi anak di rumah, mahasiswa di kampus, pekerja di kantor, dan sahabat di lingkungan pergaulan.

Masing-masing peran memiliki cara komunikasi yang berbeda.

Media sosial hanya membuat proses tersebut menjadi lebih terlihat.

Instagram Mempermudah Fenomena Ini

Menariknya, desain Instagram sendiri secara tidak langsung mendukung munculnya multi identitas digital.

Feed dirancang sebagai etalase utama yang sifatnya lebih permanen dan dapat dilihat siapa saja.

Story memberikan ruang yang lebih santai karena kontennya akan hilang dalam 24 jam.

Fitur Close Friends menciptakan area semi privat yang memungkinkan pengguna berbagi sesuatu hanya kepada kelompok tertentu.

Sementara pesan langsung atau DM menjadi ruang komunikasi paling personal.

Dalam satu aplikasi, pengguna dapat mengelola berbagai lapisan identitas sekaligus.

Tidak mengherankan jika banyak Gen Z merasa lebih nyaman menggunakan beberapa ruang tersebut untuk mengekspresikan sisi diri yang berbeda.

Antara Kebebasan dan Tekanan

Di balik fleksibilitas yang ditawarkan media sosial, terdapat konsekuensi yang tidak selalu disadari.

Semakin banyak identitas yang dibangun, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menjaga semuanya tetap berjalan.

Seseorang mungkin merasa harus menjaga feed tetap estetik.

Harus tetap terlihat lucu dan menarik di story.

Harus tetap aktif di akun privat.

Dan terkadang harus tetap terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang menghadapi masalah.

Tekanan semacam ini menjadi perhatian banyak ahli kesehatan mental.

Laporan dari American Psychological Association menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi persepsi diri, rasa percaya diri, dan kecenderungan membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di internet.

Mana yang Sebenarnya Diri Asli?

Pertanyaan yang sering muncul dari fenomena ini adalah: mana yang sebenarnya diri asli seseorang?

Apakah yang muncul di feed?

Yang ada di story?

Atau yang hanya terlihat di akun kedua?

Dalam perspektif psikologi modern, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sesederhana memilih salah satu.

Manusia memang secara alami menyesuaikan perilaku dan cara berkomunikasi berdasarkan lingkungan sosial yang dihadapi.

Artinya, seseorang bisa tetap menjadi dirinya sendiri meskipun menampilkan sisi yang berbeda dalam konteks yang berbeda pula.

Yang berubah adalah bentuk ekspresinya, bukan selalu esensi kepribadiannya.

Peran Ekonomi Perhatian

Fenomena multi identitas juga tidak bisa dilepaskan dari cara kerja media sosial modern.

Platform seperti Instagram beroperasi dalam sistem yang dikenal sebagai ekonomi perhatian.

Semakin menarik sebuah konten, semakin besar peluangnya mendapatkan perhatian, interaksi, dan jangkauan yang lebih luas.

Akibatnya, banyak pengguna terdorong untuk mengkurasi diri mereka agar sesuai dengan standar visual maupun algoritma platform.

Menurut sejumlah kajian yang dibahas oleh World Economic Forum, ekonomi perhatian telah mengubah cara manusia membangun identitas, berinteraksi, hingga memandang dirinya sendiri.

Popularitas kini sering diukur melalui jumlah like, komentar, tayangan, dan pengikut.

Hal itu membuat citra digital menjadi sesuatu yang semakin diperhatikan.

Menjadi Banyak Versi Diri Adalah Adaptasi

Pada akhirnya, memiliki banyak versi diri di media sosial bukan lagi sesuatu yang aneh bagi Generasi Z.

Baca Juga: Pantai Sukaresik Pangandaran Tercemar Setelah Tongkang Batu Bara Patah dan Tenggelam, Ekosistem Laut Terancam

Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap dunia digital yang terus berkembang.

Di tengah ruang online yang sangat terbuka, cepat, dan penuh penilaian, banyak anak muda merasa perlu menciptakan batas antara kehidupan publik dan kehidupan pribadi.

Mereka membangun ruang-ruang berbeda untuk menyeimbangkan kebutuhan akan pengakuan sosial dengan kebutuhan untuk tetap menjadi diri sendiri.

Karena di era media sosial saat ini, menjadi satu versi diri saja sering kali terasa tidak cukup.

Dan mungkin, justru kemampuan mengelola berbagai identitas digital itulah yang menjadi salah satu keterampilan sosial baru yang harus dipelajari generasi muda di abad ke-21.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gen Z Instagram #akun kedua Instagram #fenomena digital #identitas digital #media sosial Gen Z