RADARBONANG.ID – Ketika hujan deras mengguyur kota-kota besar di Indonesia, banjir sering kali menjadi ancaman yang sulit dihindari.
Genangan air mengganggu aktivitas warga, merusak fasilitas umum, hingga menimbulkan berbagai risiko kesehatan akibat air yang tercemar.
Di banyak daerah, solusi yang paling sering digunakan adalah pembangunan saluran drainase yang lebih besar, normalisasi sungai, atau pembangunan tanggul dan tembok penahan air.
Namun, di belahan dunia lain, tepatnya di Belanda, pendekatan yang digunakan justru berbeda.
Alih-alih terus membangun benteng beton yang semakin tinggi, negara yang dikenal sebagai Negeri Kincir Angin tersebut memilih cara yang lebih bersahabat dengan alam.
Mereka tidak lagi berupaya melawan air sepenuhnya, melainkan memberikan ruang bagi air untuk bergerak dan ditampung secara aman.
Negara di Bawah Permukaan Laut yang Hidup Berdampingan dengan Air
Belanda merupakan salah satu negara yang memiliki tantangan besar dalam pengelolaan air.
Sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut, sehingga risiko banjir selalu menjadi ancaman yang nyata.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Belanda mengandalkan sistem tanggul raksasa, bendungan, serta infrastruktur beton untuk melindungi kota-kota mereka dari ancaman air laut maupun luapan sungai.
Namun, perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem membuat pendekatan tersebut mulai dievaluasi.
Curah hujan yang semakin tinggi dan naiknya permukaan laut membuat ketergantungan terhadap beton dianggap tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan masa depan.
Dari situlah lahir sebuah pendekatan baru yang kini banyak dipelajari oleh negara-negara lain, yakni konsep pengelolaan air berbasis alam.
Filosofi “Room for the River”
Salah satu program paling terkenal di Belanda adalah konsep “Room for the River” atau “Ruang untuk Sungai”.
Filosofi dasarnya cukup sederhana tetapi revolusioner. Jika selama ini manusia berusaha mempersempit ruang gerak air melalui tanggul dan beton, maka Belanda justru memberikan lebih banyak ruang bagi sungai untuk meluap secara terkendali.
Melalui program ini, area di sekitar sungai ditata ulang agar mampu menampung debit air berlebih saat musim hujan atau ketika permukaan air meningkat.
Pendekatan tersebut terbukti mampu mengurangi risiko banjir tanpa harus terus-menerus meninggikan tanggul yang membutuhkan biaya besar dan perawatan jangka panjang.
Ruang Hijau Menjadi Senjata Utama
Keberhasilan Belanda tidak hanya bertumpu pada rekayasa teknik, tetapi juga pada pemanfaatan ruang hijau secara maksimal.
Pemerintah memperluas kawasan resapan air dengan menanam vegetasi yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap air hujan.
Selain itu, berbagai taman kota dirancang agar dapat berfungsi ganda sebagai area penampungan air sementara ketika hujan deras terjadi.
Konsep ini membuat air tidak langsung mengalir ke permukiman atau sistem drainase yang sudah penuh, melainkan terserap terlebih dahulu oleh area hijau yang telah dipersiapkan.
Selain mengurangi risiko banjir, ruang hijau tersebut juga memberikan manfaat ekologis berupa peningkatan kualitas udara, penurunan suhu perkotaan, dan peningkatan keanekaragaman hayati.
Water Square, Lapangan yang Bisa Menjadi Kolam Penampung
Salah satu inovasi menarik yang banyak mendapat perhatian dunia adalah konsep Water Square atau alun-alun air.
Sekilas, tempat ini tampak seperti lapangan publik biasa yang digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Namun ketika hujan deras turun, area tersebut berubah fungsi menjadi tempat penampungan air hujan sementara.
Air yang terkumpul kemudian akan dialirkan secara perlahan ke sistem pengelolaan air kota setelah kondisi memungkinkan.
Dengan cara ini, air hujan tidak langsung membebani saluran drainase dan risiko banjir dapat ditekan secara signifikan.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa ruang publik tidak harus memiliki satu fungsi saja.
Dengan desain yang tepat, sebuah area dapat menjadi tempat rekreasi sekaligus bagian dari sistem mitigasi bencana.
Dari Ancaman Menjadi Ruang Bermain yang Aman
Salah satu hal yang paling menarik dari pendekatan Belanda adalah bagaimana mereka mengubah ancaman menjadi peluang.
Di banyak negara, genangan air setelah hujan sering dianggap berbahaya karena mengandung lumpur, sampah, maupun polutan. Namun di Belanda, sistem filtrasi alami yang melibatkan tanaman, lahan basah, dan manajemen air modern mampu menjaga kualitas air hujan tetap lebih bersih.
Akibatnya, ruang terbuka yang sebelumnya digunakan untuk menampung air dapat kembali dimanfaatkan warga dalam waktu singkat setelah hujan reda.
Tidak jarang anak-anak terlihat bermain di area tersebut dengan mengenakan jas hujan dan sepatu bot warna-warni. Bagi mereka, hujan bukan sekadar ancaman, melainkan bagian dari pengalaman bermain yang menyenangkan dan aman.
Pelajaran Berharga untuk Kota-Kota di Indonesia
Indonesia memiliki tantangan yang berbeda dengan Belanda, baik dari segi iklim, jumlah penduduk, maupun kondisi geografis.
Meski demikian, prinsip dasar yang diterapkan Belanda dapat menjadi inspirasi penting.
Selama ini, pembangunan perkotaan sering kali mengorbankan ruang hijau demi kawasan permukiman atau infrastruktur baru.
Akibatnya, kemampuan tanah menyerap air semakin berkurang dan risiko banjir meningkat.
Pengalaman Belanda menunjukkan bahwa solusi banjir tidak selalu harus berupa beton dan proyek fisik berskala besar.
Menambah ruang terbuka hijau, memperbanyak area resapan, memperbaiki tata ruang kota, dan mengelola air secara berkelanjutan dapat menjadi langkah yang sama pentingnya.
Pada akhirnya, keberhasilan Belanda mengendalikan banjir membuktikan bahwa hidup berdampingan dengan alam sering kali lebih efektif dibanding terus berusaha menaklukkannya.
Dengan memberikan ruang bagi air, mereka tidak hanya mengurangi risiko bencana, tetapi juga menciptakan kota yang lebih nyaman, sehat, dan ramah bagi generasi masa depan.
Editor : Muhammad Azlan Syah