Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dulu Harus Antre dan Memasak, Sekarang Tinggal Pesan Online. Lalu Kenapa Kita Tetap Merasa Sibuk?

M. Afiqul Adib • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:04 WIB
paradoks kehidupan modern: teknologi membuat segalanya lebih praktis, termasuk memesan makanan, tetapi justru banyak orang merasa waktu semakin sempit. (Photo by Jason Miraples on Unsplash)
paradoks kehidupan modern: teknologi membuat segalanya lebih praktis, termasuk memesan makanan, tetapi justru banyak orang merasa waktu semakin sempit. (Photo by Jason Miraples on Unsplash)

 

RADARBONANG.ID – Jika dibandingkan dengan 10 atau 20 tahun lalu, kehidupan saat ini sebenarnya jauh lebih praktis.

Banyak aktivitas yang dahulu membutuhkan waktu dan tenaga kini bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel.

Memesan makanan menjadi salah satu contoh paling nyata. Dulu seseorang harus keluar rumah, mencari tempat makan, mengantre, lalu menunggu pesanan selesai dibuat.

Kini, makanan favorit bisa datang ke depan pintu hanya dalam hitungan menit melalui aplikasi pesan-antar.

Secara logika, kemudahan seperti ini seharusnya membuat kita memiliki lebih banyak waktu luang. Namun kenyataannya justru sebaliknya.

Banyak orang merasa waktu semakin cepat habis. Hari terasa singkat, pekerjaan tidak ada habisnya, dan waktu istirahat sering kali terasa kurang. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Merasa Hidupnya Jalan di Tempat Padahal Sibuk Setiap Hari? Ini Penyebab yang Sering Tak Disadari

Teknologi Memang Menghemat Waktu, Tapi Tidak Mengurangi Kesibukan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang teknologi adalah anggapan bahwa kemudahan otomatis akan membuat hidup lebih santai.

Faktanya, ketika teknologi menghemat waktu di satu sisi, manusia cenderung mengisi waktu yang tersisa dengan aktivitas baru.

Saat memesan makanan menjadi lebih cepat, waktu yang tersedia tidak selalu digunakan untuk beristirahat.

Sebaliknya, waktu tersebut sering diisi dengan pekerjaan tambahan, membuka media sosial, menonton video, membalas pesan, atau mengerjakan aktivitas lain yang sebelumnya tidak dilakukan.

Akibatnya, waktu yang berhasil dihemat tidak benar-benar menjadi waktu luang.

Kesibukan hanya berubah bentuk.

Dunia Modern Selalu Menuntut Lebih Banyak

Kemajuan teknologi juga meningkatkan ekspektasi terhadap produktivitas.

Jika dulu membalas email bisa menunggu hingga keesokan hari, kini banyak orang merasa harus merespons dalam hitungan menit.

Jika dulu pekerjaan selesai saat pulang kantor, sekarang pekerjaan dapat terus mengikuti melalui smartphone yang selalu berada di genggaman.

Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.

Tidak sedikit orang yang tetap memeriksa pesan pekerjaan saat makan malam, liburan, bahkan sebelum tidur.

Inilah yang membuat banyak orang merasa selalu sibuk meskipun berbagai teknologi telah membantu menyederhanakan aktivitas sehari-hari.

Perasaan Sibuk Belum Tentu Produktif

Fenomena lain yang semakin sering terjadi adalah munculnya "kesibukan semu".

Hari terasa penuh dengan aktivitas, tetapi belum tentu menghasilkan kemajuan yang signifikan.

Banyak orang menghabiskan waktu berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa fokus yang jelas.

Mereka sibuk membalas notifikasi, mengecek media sosial, membuka berbagai aplikasi, dan melakukan banyak hal secara bersamaan.

Akibatnya, otak merasa terus bekerja meskipun hasil yang dicapai tidak selalu sebanding dengan energi yang dikeluarkan.

Perasaan sibuk akhirnya lebih dominan dibanding perasaan produktif.

Gadget Menjadi Penyedot Waktu yang Tidak Disadari

Salah satu alasan terbesar mengapa waktu terasa semakin sedikit adalah penggunaan gadget yang berlebihan.

Rata-rata orang membuka ponsel puluhan hingga ratusan kali dalam sehari. Sebagian besar dilakukan secara otomatis tanpa tujuan yang jelas.

Notifikasi media sosial, video pendek, berita terbaru, hingga berbagai aplikasi hiburan dirancang untuk menarik perhatian selama mungkin.

Lima menit yang awalnya hanya digunakan untuk melihat satu video sering berubah menjadi setengah jam tanpa disadari.

Fenomena ini dikenal sebagai "time sink" atau aktivitas yang menyerap waktu secara perlahan.

Karena terjadi sedikit demi sedikit, banyak orang tidak menyadari berapa banyak waktu yang sebenarnya hilang setiap hari.

Kemudahan Justru Membuat Kita Ingin Melakukan Lebih Banyak Hal

Ada alasan psikologis menarik di balik fenomena ini.

Ketika suatu aktivitas menjadi lebih mudah, manusia cenderung meningkatkan jumlah aktivitas yang dilakukan.

Misalnya, karena memesan makanan kini lebih praktis, orang memiliki waktu tambahan untuk mencoba hal lain.

Karena komunikasi lebih cepat, jumlah percakapan yang dilakukan juga bertambah.

Karena informasi lebih mudah diakses, konsumsi informasi pun meningkat drastis.

Akibatnya, kemudahan tidak selalu menghasilkan ketenangan.

Sebaliknya, kemudahan sering menciptakan lebih banyak pilihan, lebih banyak aktivitas, dan lebih banyak tuntutan terhadap waktu.

Mengapa Kita Merasa Hari Berjalan Lebih Cepat?

Selain karena kesibukan, ada faktor lain yang memengaruhi persepsi waktu.

Saat seseorang menjalani rutinitas yang padat dan berulang, otak cenderung memproses pengalaman dengan lebih cepat.

Akibatnya, hari terasa berlalu begitu saja.

Sebaliknya, ketika seseorang menikmati momen dengan penuh kesadaran, mencoba pengalaman baru, atau memiliki waktu untuk beristirahat, persepsi waktu biasanya terasa lebih panjang dan bermakna.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa satu minggu kerja berlalu sangat cepat, tetapi tetap merasa kelelahan saat akhir pekan tiba.

Pentingnya Mengelola Waktu di Era Digital

Di tengah dunia yang semakin cepat, kemampuan mengelola waktu menjadi keterampilan yang sangat penting.

Bukan hanya soal membuat jadwal, tetapi juga soal menentukan prioritas.

Membatasi penggunaan media sosial, mengatur waktu khusus untuk bekerja, dan menyediakan waktu tanpa gangguan digital dapat membantu mengurangi perasaan selalu terburu-buru.

Selain itu, memberi ruang untuk benar-benar beristirahat juga tidak kalah penting.

Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan agar tubuh dan pikiran dapat bekerja secara optimal.

Baca Juga: Chrome Dino Berubah Jadi Bintang Lapangan, Google Rilis Koleksi Merchandise Edisi Piala Dunia 2026

Kemudahan Harusnya Membuat Hidup Lebih Baik

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia.

Aplikasi pesan makanan, layanan digital, dan berbagai inovasi modern memang berhasil membuat banyak aktivitas menjadi lebih praktis.

Namun kemudahan tersebut hanya akan bermanfaat jika digunakan dengan bijak.

Jika setiap waktu yang berhasil dihemat langsung diisi dengan kesibukan baru, maka kita akan terus merasa kekurangan waktu meskipun hidup semakin praktis.

Pada akhirnya, masalahnya bukan karena waktu semakin sedikit, melainkan karena semakin banyak hal yang berusaha mengisi waktu kita.

Karena itu, di tengah dunia yang serba cepat, mungkin yang paling penting bukan mencari cara agar semuanya lebih cepat, melainkan belajar menentukan apa yang benar-benar layak mendapatkan perhatian dan waktu kita.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#manajemen waktu #teknologi digital #gaya hidup modern #produktivitas #media sosial