Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Hidup Terlihat Tenang, Tapi Benarkah? Di Balik Tren Matcha, Pilates, dan Journaling yang Sedang Digandrungi Gen Z

Arinie Khaqqo • Senin, 8 Juni 2026 | 16:03 WIB
Hidup tenang kini punya "paket lengkap": minum matcha, pilates pagi, dan journaling sebelum tidur. Di media sosial semuanya terlihat damai dan sempurna. Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar lebih tenang, atau hanya berusaha terlihat tenang di depan orang lain? (ilustrasi)
Hidup tenang kini punya "paket lengkap": minum matcha, pilates pagi, dan journaling sebelum tidur. Di media sosial semuanya terlihat damai dan sempurna. Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar lebih tenang, atau hanya berusaha terlihat tenang di depan orang lain? (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi oleh gambaran kehidupan yang terlihat tenang dan tertata.

Segelas matcha di pagi hari, sesi pilates dengan pencahayaan alami yang hangat, hingga halaman jurnal yang ditulis rapi sebelum tidur menjadi bagian dari tren gaya hidup yang semakin populer di kalangan Generasi Z.

Fenomena ini sering disebut sebagai "calm life" atau gaya hidup yang berfokus pada ketenangan, kesadaran diri, dan keseimbangan hidup.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tren tersebut menawarkan sesuatu yang terasa langka: kesempatan untuk melambat.

Baca Juga: Wamenhaj Tegaskan Syarat Kesehatan Jemaah Haji 2027 Akan Lebih Ketat, Istithaah Jadi Fokus Utama

Namun di balik unggahan yang tampak damai dan menenangkan, muncul pertanyaan yang semakin sering dibahas.

Apakah gaya hidup ini benar-benar membantu anak muda menemukan ketenangan, atau justru menciptakan standar baru yang diam-diam memberi tekanan?

Ketika Hidup Terlalu Cepat, Ketenangan Menjadi Barang Mewah

Generasi muda saat ini tumbuh di era yang dipenuhi informasi tanpa henti.

Notifikasi datang setiap saat, media sosial menghadirkan berbagai perbandingan hidup, sementara tuntutan untuk terus produktif terasa semakin besar.

Di tengah kondisi tersebut, banyak orang mulai mencari cara untuk memperlambat ritme kehidupan sehari-hari.

Mereka ingin menemukan ruang untuk bernapas, menikmati momen kecil, dan melepaskan diri sejenak dari kebisingan dunia digital.

Tren calm life lahir dari kebutuhan tersebut. Ia menawarkan alternatif terhadap budaya serba cepat yang selama ini mendominasi kehidupan modern.

Tidak mengherankan jika berbagai aktivitas yang identik dengan ketenangan mulai mendapat tempat khusus di hati banyak anak muda.

Matcha, Simbol Kehidupan yang Lebih Lambat

Salah satu ikon paling kuat dalam tren ini adalah matcha.

Jika dahulu kopi menjadi simbol produktivitas dan energi, kini banyak anak muda mulai beralih ke matcha yang dianggap lebih lembut dan menenangkan.

Minuman berwarna hijau ini tidak hanya dinikmati karena rasanya, tetapi juga karena citra yang melekat padanya.

Di media sosial, matcha sering diasosiasikan dengan gaya hidup mindful, rutinitas pagi yang tenang, dan kemampuan menikmati momen sederhana.

Segelas matcha yang disajikan dengan estetik seolah mewakili kehidupan yang lebih teratur dan terkendali.

Ia menjadi simbol bahwa seseorang sedang menjalani hidup dengan ritme yang lebih santai dibandingkan hiruk-pikuk dunia di sekitarnya.

Meski demikian, daya tarik matcha sebenarnya tidak terletak pada minumannya semata, melainkan pada makna yang dibangun di sekitarnya.

Pilates yang Berubah Menjadi Bagian dari Identitas

Selain matcha, pilates juga menjadi salah satu aktivitas yang mengalami peningkatan popularitas yang signifikan.

Berbeda dengan olahraga berintensitas tinggi yang identik dengan kompetisi dan target fisik tertentu, pilates menawarkan pendekatan yang lebih lembut dan terkontrol.

Banyak anak muda menyukai pilates karena memberikan kombinasi antara aktivitas fisik dan relaksasi mental.

Gerakannya membantu meningkatkan kekuatan tubuh, fleksibilitas, dan kesadaran terhadap postur.

Namun seiring berkembangnya tren ini, pilates juga mulai menjadi bagian dari identitas sosial.

Tidak sedikit orang yang mengaitkan pilates dengan gaya hidup sehat, elegan, dan seimbang.

Akibatnya, aktivitas yang awalnya bertujuan menjaga kesehatan perlahan berubah menjadi simbol status tertentu di media sosial.

Journaling dan Kebutuhan untuk Mengenal Diri Sendiri

Tren lain yang berkembang pesat adalah journaling atau menulis jurnal.

Di tengah kehidupan yang serba digital, aktivitas sederhana seperti menulis tangan justru kembali diminati.

Banyak anak muda menggunakan jurnal untuk menuangkan pikiran, merefleksikan pengalaman, mengelola emosi, hingga merencanakan tujuan hidup.

Journaling memberikan ruang yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern: ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.

Melalui tulisan, seseorang dapat memahami perasaan yang sedang dialami tanpa tekanan untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain.

Namun menariknya, aktivitas yang sangat personal ini kini juga sering dibagikan ke media sosial.

Halaman jurnal yang dihias rapi, alat tulis estetik, hingga rutinitas refleksi diri menjadi bagian dari konten yang banyak diminati.

Di sinilah batas antara kebutuhan pribadi dan konsumsi publik mulai menjadi kabur.

Ketika Ketenangan Menjadi Standar Baru

Fenomena yang menarik dari tren calm life adalah munculnya paradoks baru.

Banyak orang mulai merasa bahwa mereka juga harus terlihat tenang, produktif, dan seimbang seperti yang mereka lihat di media sosial.

Tanpa disadari, ketenangan berubah menjadi standar yang harus dicapai.

Akibatnya, sebagian orang justru mengalami tekanan baru. Mereka merasa tertinggal karena belum memiliki rutinitas pagi yang sempurna, belum rutin mengikuti kelas pilates, atau belum mampu menjalani hidup setenang yang ditampilkan orang lain.

Ironisnya, upaya mencari ketenangan justru dapat memunculkan kecemasan baru ketika dijadikan alat perbandingan sosial.

Self-Care atau Sekadar Validasi?

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan menikmati matcha, mengikuti kelas pilates, atau menulis jurnal setiap hari.

Ketiga aktivitas tersebut bahkan dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan fisik maupun mental.

Masalah mulai muncul ketika aktivitas tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Ketika tujuan utama bergeser menjadi validasi sosial, makna dari self-care perlahan menghilang.

Aktivitas yang seharusnya membantu seseorang merasa lebih baik justru berubah menjadi beban tambahan.

Karena itu, penting untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: apakah aktivitas ini membuat saya lebih tenang, atau hanya membuat saya terlihat tenang di mata orang lain?

Ketenangan yang Sesungguhnya Tidak Selalu Estetik

Salah satu hal yang sering terlupakan dalam tren gaya hidup modern adalah bahwa ketenangan sejati tidak selalu terlihat menarik di kamera.

Bagi sebagian orang, ketenangan bisa hadir saat berjalan kaki tanpa tujuan, membaca buku favorit, berbincang dengan keluarga, mendengarkan musik, atau sekadar beristirahat tanpa melakukan apa pun.

Tidak semua bentuk self-care perlu dipublikasikan. Tidak semua proses penyembuhan harus dibagikan. Dan tidak semua kebahagiaan membutuhkan validasi dari orang lain.

Baca Juga: Sekali Viral Bisa Dikenal Jutaan Orang, Namun Mengapa Banyak yang Hilang dari Perhatian Publik dalam Hitungan Hari?

Pada akhirnya, tren matcha, pilates, dan journaling menunjukkan satu hal penting: generasi muda sedang berusaha menemukan keseimbangan di tengah kehidupan yang semakin kompleks.

Namun ketenangan yang sesungguhnya bukanlah tentang mengikuti tren tertentu atau membangun citra kehidupan yang sempurna.

Ketenangan lahir ketika seseorang mampu menerima dirinya sendiri, menikmati hidup sesuai kebutuhannya, dan tidak lagi merasa harus membuktikan apa pun kepada dunia.

Karena hidup yang benar-benar tenang sering kali tidak terlihat spektakuler. Ia hanya terasa lebih ringan, lebih jujur, dan lebih damai dari dalam.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#calm life gen z #matcha lifestyle #pilates trend #self care anak muda #journaling