Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kenapa Gen Z Sulit Lepas dari Ponsel? Fenomena FOMO Diam-Diam Bisa Menguras Kesehatan Mental

Widodo • Rabu, 3 Juni 2026 | 11:17 WIB
Merasa gelisah saat belum membuka Instagram atau TikTok? Bisa jadi itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan tanda FOMO yang diam-diam memengaruhi kesehatan mental. (ilustrasi)
Merasa gelisah saat belum membuka Instagram atau TikTok? Bisa jadi itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan tanda FOMO yang diam-diam memengaruhi kesehatan mental. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa ada yang kurang ketika belum membuka Instagram, TikTok, atau X dalam sehari? Baru bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel.

Bahkan sebelum benar-benar sadar sepenuhnya, banyak orang sudah membuka media sosial untuk melihat apa yang terjadi saat mereka tidur.

Story teman bertambah. Video viral baru bermunculan. Grup percakapan ramai dengan topik yang belum sempat dibaca. Dalam hitungan menit, muncul perasaan tidak nyaman seolah ada sesuatu yang terlewat.

Fenomena itulah yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO.

Meski terdengar seperti istilah populer khas generasi digital, FOMO sebenarnya menggambarkan kondisi psikologis yang cukup serius. Seseorang merasa cemas karena takut tertinggal pengalaman, informasi, atau momen yang sedang dinikmati orang lain.

Baca Juga: Duolingo Hadirkan Streak Revival, Pengguna Kini Bisa Mengembalikan Rekor Belajar yang Hilang Tanpa Biaya

Di era media sosial yang bergerak tanpa henti, perasaan tersebut semakin sering dialami, terutama oleh Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital.

Ketika Media Sosial Menjadi Kebutuhan Emosional

Awalnya media sosial hadir sebagai sarana komunikasi dan hiburan. Namun seiring waktu, fungsinya berkembang jauh lebih besar.

Bagi banyak anak muda, media sosial menjadi tempat mencari informasi, membangun identitas diri, memperoleh inspirasi, hingga mendapatkan pengakuan sosial.

Masalahnya, algoritma media sosial dirancang agar pengguna terus kembali.

Setiap kali membuka aplikasi, selalu ada hal baru yang muncul. Mulai dari tren terbaru, konser musik, rekomendasi tempat nongkrong, promo belanja, kabar selebritas, hingga aktivitas teman-teman yang tampak menarik.

Akibatnya, muncul dorongan untuk terus memeriksa layar ponsel.

Satu kali scroll terasa belum cukup. Lima menit berubah menjadi setengah jam. Tanpa disadari, waktu habis hanya untuk memastikan tidak ada hal penting yang terlewat.

Hidup Orang Lain Selalu Terlihat Lebih Menarik

Media sosial memiliki satu karakteristik yang sering kali terlupakan.

Sebagian besar orang hanya membagikan momen terbaik dalam hidup mereka.

Foto liburan yang indah. Prestasi yang membanggakan. Makanan yang menarik. Hubungan yang tampak harmonis. Kesuksesan yang membahagiakan.

Jarang ada yang mengunggah kegagalan, tagihan yang menumpuk, konflik pribadi, atau kecemasan yang sedang dirasakan.

Karena terus-menerus melihat potongan kehidupan yang tampak sempurna tersebut, seseorang bisa mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

Perbandingan inilah yang menjadi salah satu pemicu utama munculnya FOMO.

Tanpa sadar, muncul pertanyaan dalam benak:

"Mengapa hidup mereka terlihat lebih seru?"

"Mengapa aku tidak ada di sana?"

"Mengapa aku belum mencapai hal yang sama?"

FOMO Lebih dari Sekadar Takut Ketinggalan Tren

Banyak orang mengira FOMO hanya berkaitan dengan tren media sosial.

Padahal, dampaknya jauh lebih luas.

FOMO merupakan perasaan cemas ketika melihat orang lain memperoleh pengalaman yang tidak kita rasakan.

Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Observatorio (OBS*) pada 2025 menunjukkan bahwa FOMO memiliki hubungan erat dengan penggunaan media sosial yang intens, kecenderungan membandingkan diri, serta meningkatnya tingkat kecemasan pada Generasi Z.

Penelitian lain dari Universitas Tarumanagara juga menemukan bahwa FOMO dapat memunculkan perasaan khawatir, iri, dan dorongan kuat untuk terus terhubung dengan platform digital seperti TikTok, Instagram, maupun media sosial lainnya.

Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan kehidupan digital orang lain, semakin besar pula kemungkinan munculnya tekanan emosional.

Tekanan untuk Selalu Update

Gen Z hidup di era ketika informasi bergerak sangat cepat.

Apa yang viral pagi ini bisa terlupakan sore nanti. Tren yang ramai minggu ini mungkin sudah digantikan tren baru beberapa hari kemudian.

Kecepatan tersebut menciptakan tekanan tidak tertulis untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru.

Banyak anak muda merasa harus mengetahui semua kabar agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau kurang relevan dalam pergaulan.

Padahal kenyataannya, tidak mengikuti semua tren bukan berarti kehilangan kesempatan hidup.

Justru mengejar semuanya sekaligus sering kali membuat seseorang merasa lelah secara mental.

Muncul Tren Baru Bernama JOMO

Sebagai respons terhadap FOMO, kini semakin banyak anak muda mulai mengenal konsep Joy of Missing Out atau JOMO.

Berbeda dengan FOMO yang dipenuhi kecemasan, JOMO mengajarkan seseorang untuk merasa nyaman meski tidak mengikuti semua hal.

Tidak harus hadir di setiap acara.

Tidak harus mengikuti setiap tren.

Tidak harus mengetahui semua gosip yang sedang ramai dibicarakan.

Prinsipnya sederhana: menerima bahwa tidak semua hal perlu diikuti dan hidup tetap berjalan dengan baik.

Banyak orang justru merasa lebih tenang, lebih fokus, dan lebih bahagia ketika mulai menerapkan pola pikir ini.

Cara Sederhana Mengurangi FOMO

Jika rasa takut ketinggalan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, ada beberapa langkah yang dapat dicoba.

Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari agar tidak terus-menerus terpapar informasi yang memicu perbandingan diri.

Matikan notifikasi yang tidak penting sehingga perhatian tidak selalu terpecah oleh aktivitas digital.

Kurangi mengikuti akun-akun yang sering membuat diri merasa kurang atau tidak cukup baik.

Perbanyak aktivitas offline seperti olahraga, membaca buku, berkumpul dengan keluarga, atau menjalankan hobi yang disukai.

Yang paling penting, ingatlah bahwa media sosial hanyalah cuplikan kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang kenyataan yang mereka jalani.

Tidak Harus Selalu Online untuk Tetap Relevan

Di tengah derasnya arus informasi digital, mudah sekali merasa bahwa semua hal harus diketahui dan diikuti.

Baca Juga: Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman, ChatGPT Dituding Berkontribusi pada Kasus Kekerasan dan Membahayakan Pengguna

Padahal, tidak semua tren perlu dikejar. Tidak semua undangan harus dihadiri. Tidak semua kabar harus diketahui saat itu juga.

Kadang, keputusan terbaik justru datang ketika kita meletakkan ponsel sejenak dan menikmati kehidupan yang sedang berlangsung di sekitar.

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk selalu menjadi yang paling update.

Tidak membuka media sosial selama beberapa jam tidak membuat seseorang tertinggal dari kehidupan.

Sebaliknya, memberi diri ruang untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia digital sering kali menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental dan menemukan kembali ketenangan yang selama ini dicari.

Sebab sesungguhnya, kamu tidak sedang tertinggal. Kamu hanya sedang menjalani hidupmu sendiri, dengan ritme yang berbeda dari orang lain.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gen Z #fomo #fear of missing out #kesehatan mental #media sosial