Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Saat Hidup Terasa Berisik, Begini Cara Gen Z Menemukan Ketenangan Lewat Hal-Hal Sederhana di Tengah Dunia Digital

Widodo • Selasa, 26 Mei 2026 | 16:47 WIB
Di tengah notifikasi tanpa henti dan hidup yang terasa makin cepat, banyak anak muda mulai menemukan tenang lewat hal sederhana: jalan sore, menyeduh kopi, sampai mematikan ponsel sejenak. (ilustrasi)
Di tengah notifikasi tanpa henti dan hidup yang terasa makin cepat, banyak anak muda mulai menemukan tenang lewat hal sederhana: jalan sore, menyeduh kopi, sampai mematikan ponsel sejenak. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID — Notifikasi berbunyi tanpa henti. Deadline datang silih berganti. Grup chat aktif sepanjang hari. Timeline media sosial terus bergerak cepat seolah tidak memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.

Di tengah ritme hidup modern yang semakin padat, banyak anak muda kini mulai mencari satu hal yang terasa semakin mahal: ketenangan.

Bukan ketenangan yang identik dengan liburan panjang atau menghilang dari keramaian dunia. Bagi banyak Gen Z, rasa tenang justru hadir dari aktivitas sederhana yang sering dianggap sepele.

Menyeduh kopi di pagi hari. Mendengarkan playlist favorit saat perjalanan pulang. Menyiram tanaman di sore hari. Jalan kaki tanpa tujuan khusus. Hingga mematikan ponsel sejenak agar bisa menikmati waktu tanpa notifikasi.

Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat biasa.

Namun bagi banyak orang, justru di sanalah ruang bernapas perlahan ditemukan.

Baca Juga: Apple Buka Peluang Google Cast Masuk ke iPhone Mulai iOS 27, AirPlay Tak Lagi Jadi Satu-Satunya Pilihan

Slow Living Jadi Cara Baru Menikmati Hidup

Belakangan, konsep slow living semakin populer di kalangan generasi muda.

Slow living bukan berarti hidup malas atau pasif. Konsep ini lebih menekankan pada cara menjalani hidup dengan lebih sadar, lebih pelan, dan tidak terus-menerus terburu-buru.

Banyak anak muda mulai merasa lelah dengan budaya serba cepat yang menuntut seseorang selalu produktif setiap waktu.

Media sosial sering membuat orang merasa harus terus aktif, terus berkembang, dan terus mengejar sesuatu tanpa jeda.

Akibatnya, rasa lelah mental perlahan menumpuk tanpa disadari.

Karena itu, sebagian orang mulai mencoba memperlambat ritme hidup mereka.

Ada yang mulai mengurangi aktivitas berlebihan, membatasi penggunaan media sosial, hingga lebih menikmati momen kecil dalam keseharian.

Konsep ini dianggap membantu seseorang lebih fokus pada hal yang benar-benar penting dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Ritual Kecil yang Diam-Diam Menenangkan

Menariknya, cara setiap orang menemukan ketenangan ternyata berbeda-beda.

Sebagian merasa lebih rileks setelah menulis jurnal sebelum tidur. Ada pula yang merasa lebih tenang setelah mendengarkan musik favorit atau merapikan kamar.

Aktivitas sederhana seperti memasak, olahraga ringan, membaca buku, hingga menonton film favorit juga sering menjadi “tempat pulang” bagi banyak orang setelah menjalani hari yang melelahkan.

Bentuknya memang sederhana, tetapi efeknya terasa nyata.

Rutinitas kecil yang dilakukan secara konsisten sering memberi rasa aman di tengah hidup yang tidak selalu mudah diprediksi.

Di era ketika banyak orang merasa kewalahan secara mental, ritual kecil seperti ini menjadi cara sederhana untuk menjaga diri tetap stabil.

Alam Jadi Tempat Menenangkan Pikiran

Selain aktivitas harian sederhana, banyak anak muda kini mulai kembali dekat dengan alam untuk mencari rasa tenang.

Duduk di taman, melihat langit sore, menikmati suara hujan, atau berjalan santai tanpa tergesa-gesa sering memberikan efek menenangkan yang sulit dijelaskan.

Interaksi dengan alam dianggap membantu pikiran terasa lebih ringan dan tubuh menjadi lebih rileks.

Tidak heran jika belakangan aktivitas seperti hiking ringan, piknik sederhana, hingga sekadar menikmati suasana senja semakin diminati anak muda.

Kadang yang dibutuhkan memang bukan solusi atas semua masalah.

Melainkan jeda yang cukup agar pikiran kembali jernih.

Tidak Selalu Online Ternyata Bisa Lebih Menenangkan

Generasi muda juga mulai menyadari bahwa terus terhubung ke dunia digital tidak selalu membuat hidup lebih nyaman.

Sebaliknya, terlalu banyak informasi dan interaksi di media sosial justru bisa memicu rasa lelah mental, overthinking, hingga kecemasan sosial.

Karena itu, muncul kebiasaan baru untuk mengambil waktu offline sejenak.

Ada yang mulai membatasi screen time, mematikan notifikasi tertentu, hingga sengaja tidak membuka media sosial pada jam-jam tertentu.

Hal sederhana seperti menaruh ponsel beberapa saat ternyata bisa membantu seseorang kembali fokus pada dirinya sendiri.

Fenomena ini menjadi bentuk self-care modern yang kini semakin banyak dilakukan generasi muda.

Tenang Itu Tidak Harus Sama untuk Semua Orang

Menariknya, ketenangan ternyata sangat personal.

Apa yang membuat satu orang merasa nyaman belum tentu memberi efek yang sama bagi orang lain.

Ada yang menemukan rasa tenang dalam suasana ramai bersama teman-teman terdekat.

Ada pula yang justru membutuhkan kesunyian dan waktu sendiri.

Dan semua itu tidak salah.

Yang paling penting adalah mengenali aktivitas yang benar-benar membuat tubuh terasa rileks dan pikiran menjadi lebih ringan.

Baca Juga: BGN Luncurkan Aplikasi Reviu Menu MBG, Guru dan Posyandu Kini Bisa Pantau Kualitas Makanan Secara Langsung

Menjaga Diri di Tengah Dunia yang Sibuk

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi hal penting yang mulai dipelajari banyak anak muda.

Bukan untuk lari dari tanggung jawab, melainkan agar diri tetap kuat menjalaninya.

Karena pada akhirnya, ketenangan tidak selalu datang dari perubahan besar atau kehidupan yang sempurna.

Sering kali, rasa tenang hadir dari keputusan sederhana untuk memberi ruang bagi diri sendiri.

Menarik napas lebih pelan.

Mengurangi kebisingan.

Dan menikmati momen kecil yang membuat hati terasa sedikit lebih lega di tengah hidup yang terus berjalan cepat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#self healing sederhana #gaya hidup anak muda #Slow Living #kesehatan mental Gen Z #media sosial