Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Media Sosial Semakin Membuat Orang Mudah Membandingkan Hidup, Banyak yang Diam-Diam Merasa Minder

M. Afiqul Adib • Senin, 25 Mei 2026 | 15:45 WIB
bagaimana media sosial membentuk persepsi kehidupan yang terlihat sempurna (Photo by Sydney Latham on Unsplash)
bagaimana media sosial membentuk persepsi kehidupan yang terlihat sempurna (Photo by Sydney Latham on Unsplash)

RADARBONAG.ID - Media sosial kini telah menjadi bagian besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Hampir setiap orang menghabiskan waktu untuk melihat unggahan teman, selebritas, hingga influencer yang tampak menjalani hidup penuh kebahagiaan dan kesuksesan.

Foto liburan mewah, pencapaian karier, hubungan asmara yang terlihat harmonis, hingga gaya hidup glamor terus memenuhi layar ponsel setiap hari.

Tanpa disadari, kondisi tersebut membuat banyak orang mulai membandingkan hidup mereka dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna.

Baca Juga: Tren Pernikahan Gen Z Viral di Media Sosial, Intimate Wedding Kini Lebih Diminati daripada Pesta Mewah

Fenomena ini semakin nyata terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan dunia digital.

Banyak orang akhirnya merasa hidupnya kurang menarik, kurang sukses, atau tertinggal dibanding orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Otak Manusia Memang Mudah Membandingkan

Psikolog menyebut bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Hal tersebut terjadi karena otak mencoba mengukur posisi diri dalam lingkungan sosial.

Ketika seseorang melihat orang lain meraih kesuksesan atau menikmati hidup yang terlihat menyenangkan, muncul dorongan untuk memiliki hal serupa.

Dari situlah rasa iri, minder, atau tidak puas mulai muncul secara perlahan.

Masalahnya, media sosial membuat proses perbandingan tersebut terjadi hampir tanpa henti setiap hari.

Dulu seseorang mungkin hanya membandingkan diri dengan lingkungan terdekatnya.

Kini, melalui media sosial, seseorang bisa membandingkan hidupnya dengan ribuan orang sekaligus hanya dalam beberapa menit scrolling.

Akibatnya, tekanan mental yang muncul menjadi jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Konten Bahagia Sering Tidak Menampilkan Realita Sebenarnya

Salah satu hal yang sering dilupakan banyak orang adalah bahwa media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang.

Orang cenderung mengunggah momen bahagia, pencapaian besar, atau pengalaman menyenangkan dibanding memperlihatkan kesulitan dan masalah yang sedang mereka hadapi.

Karena itu, kehidupan di media sosial sering terlihat sangat sempurna dan bebas masalah.

Padahal di balik foto estetik dan senyum bahagia, setiap orang tetap memiliki tekanan hidup, kegagalan, dan perjuangan yang tidak selalu diperlihatkan ke publik.

Namun karena yang terlihat hanya sisi indahnya saja, banyak pengguna media sosial akhirnya merasa kehidupan mereka jauh lebih buruk dibanding orang lain.

Tekanan untuk Selalu Produktif dan Sukses Semakin Kuat

Media sosial juga menciptakan standar baru tentang kesuksesan dan produktivitas.

Setiap hari, pengguna internet disuguhkan cerita tentang orang-orang yang terlihat sibuk bekerja, membangun bisnis, mencapai target besar, hingga menjalani gaya hidup ideal.

Tanpa sadar, muncul tekanan bahwa semua orang harus selalu produktif agar dianggap berhasil.

Banyak anak muda akhirnya merasa bersalah ketika beristirahat atau merasa tertinggal jika belum mencapai sesuatu di usia tertentu.

Fenomena tersebut membuat media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan atau komunikasi, tetapi juga ruang yang memunculkan tekanan sosial baru.

Dampaknya Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

Kebiasaan terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain ternyata dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental.

Rasa minder, cemas, kehilangan percaya diri, hingga depresi bisa muncul ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup baik dibanding standar yang ia lihat di media sosial.

Yang berbahaya, kondisi ini sering terjadi secara perlahan tanpa disadari.

Seseorang mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi pikirannya terus dipenuhi rasa tidak puas terhadap hidup sendiri.

Energi mental yang seharusnya digunakan untuk berkembang justru habis untuk memikirkan kekurangan diri dan pencapaian orang lain.

Membatasi Media Sosial Bisa Membantu Pikiran Lebih Tenang

Banyak pakar kesehatan mental menyarankan agar masyarakat mulai lebih bijak menggunakan media sosial.

Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membatasi waktu scrolling agar pikiran tidak terus-menerus dipenuhi perbandingan sosial.

Mengurangi konsumsi konten yang memicu rasa tidak aman juga dapat membantu menjaga kesehatan mental tetap stabil.

Selain itu, fokus pada kehidupan nyata dan menghargai pencapaian pribadi menjadi hal penting agar seseorang tidak mudah merasa tertinggal.

Menulis rasa syukur, menikmati proses hidup sendiri, dan memberi waktu istirahat dari dunia digital bisa membantu menciptakan pikiran yang lebih sehat.

Baca Juga: Hull City Resmi Promosi ke Premier League Setelah Menang Dramatis 2-1 atas Middlesbrough di Wembley

Media Sosial Bisa Jadi Inspirasi atau Tekanan

Pada akhirnya, media sosial sebenarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya.

Media sosial dapat menjadi sumber inspirasi, tempat belajar, dan sarana membangun relasi.

Namun jika digunakan tanpa batas, platform tersebut juga bisa menjadi sumber tekanan mental yang cukup besar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penting bagi masyarakat untuk lebih sadar terhadap pengaruh media sosial terhadap kondisi psikologis mereka.

Belajar menikmati hidup tanpa terus membandingkan diri menjadi salah satu kunci agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah derasnya arus kehidupan digital modern.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#overthinking generasi muda #membandingkan hidup #dampak media sosial #kesehatan mental #media sosial