Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Gen Z Mulai Tinggalkan Gaya Hidup Boros, Nongkrong dan Healing Kini Harus Tetap Masuk Budget

Widodo • Kamis, 21 Mei 2026 | 14:38 WIB
Nongkrong tetap jalan, healing tetap gas, tapi rekening nggak auto nangis. Ini cara Gen Z hidup hemat tanpa kehilangan gaya! (ilustrasi)
Nongkrong tetap jalan, healing tetap gas, tapi rekening nggak auto nangis. Ini cara Gen Z hidup hemat tanpa kehilangan gaya! (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Dulu hidup hemat sering identik dengan menahan diri, menolak ajakan nongkrong, atau sekadar bertahan dengan gaya hidup seadanya.

Namun bagi generasi sekarang, khususnya Gen Z, konsep hemat mulai berubah total.

Hemat bukan lagi soal pelit atau tidak menikmati hidup, melainkan tentang pintar mengatur prioritas agar tetap bisa bersenang-senang tanpa membuat kondisi keuangan berantakan.

Fenomena ini semakin terlihat di kalangan anak muda urban.

Mereka tetap nongkrong, ngopi, membeli outfit, bahkan healing tipis-tipis, tetapi mulai lebih sadar terhadap pengeluaran sehari-hari.

Baca Juga: Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 305,5 Triliun hingga April 2026, Begini Penjelasan Kemenkeu soal Kondisi APBN

Karena banyak yang mulai menyadari, penyebab dompet cepat kosong sering kali bukan pengeluaran besar, melainkan kebiasaan kecil yang terasa sepele.

Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Menguras Dompet

Kalimat seperti:

sering terdengar ringan.

Namun jika dilakukan berulang kali, pengeluaran kecil tersebut bisa membuat saldo rekening terkuras sebelum akhir bulan.

Kesadaran inilah yang membuat banyak Gen Z mulai mengubah pola hidup mereka.

Mereka ingin tetap menikmati hidup, tetapi tanpa harus panik saat tanggal tua tiba.

Hidup Hemat Bukan Berarti Kudet

Menurut edukasi dari Otoritas Jasa Keuangan, hidup hemat berarti mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta mengelola uang secara disiplin.

Artinya, seseorang tetap boleh menikmati hiburan selama masih sesuai kemampuan finansial.

Mau nongkrong? Boleh.

Mau beli outfit baru? Tidak masalah.

Mau staycation atau healing? Sah-sah saja.

Yang penting semuanya sudah masuk perencanaan dan tidak mengganggu kebutuhan utama.

Kini banyak anak muda tidak lagi sekadar ingin terlihat kaya di media sosial, tetapi juga ingin memiliki kondisi finansial yang benar-benar sehat.

Self Reward Tetap Penting, Tapi Jangan Berlebihan

Istilah self reward memang semakin populer di kalangan generasi muda.

Setelah sibuk bekerja atau kuliah, banyak orang merasa perlu memberi hadiah kecil untuk diri sendiri.

Namun masalah muncul ketika self reward berubah menjadi kebiasaan konsumtif berlebihan.

Baru menerima gaji, langsung checkout banyak barang, membeli tiket konser, nongkrong mahal, hingga berburu promo tanpa kontrol.

Alih-alih merasa tenang, kondisi ini justru sering memicu stres saat uang mulai menipis.

Padahal self reward tidak selalu harus mahal.

Membeli kopi favorit, makan sederhana bersama teman, atau menonton film juga bisa menjadi bentuk penghargaan diri yang tetap menyenangkan tanpa membuat dompet “sesak napas”.

Nongkrong Tetap Bisa Seru Tanpa Harus Mahal

Banyak anak muda merasa harus selalu mengikuti agenda tongkrongan agar tidak dianggap kurang gaul.

Padahal konsep nongkrong kini mulai bergeser.

Banyak Gen Z justru lebih menyukai aktivitas sederhana tetapi tetap menyenangkan, seperti:

Selain lebih hemat, aktivitas seperti ini juga terasa lebih santai dan tidak terlalu membebani keuangan.

Konsep “nongkrong sederhana tapi berkualitas” kini justru semakin diminati.

Rumus 50/30/20 Mulai Populer di Kalangan Anak Muda

Salah satu metode yang banyak digunakan untuk mengatur keuangan adalah aturan 50/30/20.

50% Kebutuhan30% Keinginan20% Tabungan dan Investasi50\%\ \text{Kebutuhan} \quad 30\%\ \text{Keinginan} \quad 20\%\ \text{Tabungan dan Investasi}50% Kebutuhan30% Keinginan20% Tabungan dan Investasi

Artinya:

Metode ini dianggap sederhana dan mudah diterapkan, terutama bagi anak muda yang baru mulai belajar mengelola keuangan.

Promo dan Paylater Jadi Godaan Besar

Di era digital, godaan belanja semakin besar.

Diskon besar-besaran, flash sale, hingga fitur paylater membuat transaksi terasa sangat mudah dilakukan.

Padahal, barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetaplah pengeluaran.

Begitu pula dengan layanan kredit digital yang bisa memicu kebiasaan konsumtif jika digunakan tanpa kontrol.

Otoritas Jasa Keuangan juga berkali-kali mengingatkan pentingnya bijak menggunakan fasilitas paylater agar generasi muda tidak terjebak utang konsumtif.

Definisi “Keren” Kini Mulai Bergeser

Jika dulu keren identik dengan flexing dan gaya hidup mewah, kini banyak anak muda mulai melihat finansial sehat sebagai sesuatu yang lebih penting.

Baca Juga: Saat Dolar Menguat, Ini Cara Menjaga Keuangan Tetap Aman agar Tidak Panik di Tengah Harga Naik

Punya tabungan, tidak tergantung paylater, tetap bisa nongkrong tanpa rasa bersalah, dan tidak panik saat akhir bulan kini dianggap lebih “worth it”.

Karena pada akhirnya, hidup hemat bukan berarti tidak menikmati hidup.

Melainkan tahu kapan harus bersenang-senang dan kapan harus menjaga dompet tetap aman.

Tetap gaya boleh. Tetap nongkrong juga boleh.

Asal jangan sampai feed media sosial terlihat estetik, tetapi rekening justru diam-diam masuk zona kritis. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#tips keuangan anak muda #gaya hidup hemat gen z #nongkrong hemat #self reward Gen Z #mengatur keuangan