RADARBONANG.ID – Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa baru biasanya langsung dikenalkan dengan satu “doktrin” yang hampir selalu terdengar setiap tahun:
“Kalau mau berkembang, harus ikut organisasi.”
Kalimat itu sering diucapkan dengan penuh keyakinan.
Seolah-olah kuliah tanpa organisasi adalah sebuah kegagalan.
Akibatnya, banyak mahasiswa baru mulai merasa takut jika tidak ikut himpunan, BEM, UKM, atau kepanitiaan kampus.
Takut dianggap pasif.
Takut dicap kupu-kupu.
Datang, duduk, pulang.
Padahal kenyataannya, dunia kampus jauh lebih luas daripada sekadar organisasi.
Organisasi Memang Penting, Tapi Bukan Satu-Satunya Jalan
Tidak bisa dimungkiri, organisasi memang punya banyak manfaat.
Di sana mahasiswa bisa belajar:
- kerja tim,
- komunikasi,
- kepemimpinan,
- manajemen acara,
- hingga menghadapi konflik.
Pengalaman seperti itu memang penting.
Namun masalahnya muncul ketika organisasi dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk berkembang.
Padahal setiap mahasiswa punya cara bertumbuh yang berbeda.
Ada yang berkembang lewat organisasi.
Ada juga yang justru berkembang lewat jalur lain.
Dan keduanya sama-sama valid.
Kampus Itu Luas, Cara Bertumbuh Tidak Tunggal
Banyak mahasiswa yang tidak aktif organisasi, tetapi diam-diam mengembangkan diri dengan serius.
Ada yang:
- ikut pelatihan online,
- membangun portofolio,
- magang,
- freelance,
- belajar skill digital,
- menulis,
- membuat bisnis kecil,
- atau memperdalam bidang yang mereka sukai.
Aktivitas seperti itu sering tidak terlihat “rame” seperti organisasi.
Tetapi dampaknya bisa sangat besar untuk masa depan.
Karena pada akhirnya, dunia kerja biasanya lebih melihat kemampuan nyata dibanding seberapa banyak seseorang ikut rapat kampus.
Tidak Ikut Organisasi Bukan Berarti Tidak Pintar Bersosialisasi
Salah satu alasan paling sering dipakai untuk mendorong mahasiswa ikut organisasi adalah supaya berani bicara dan tidak grogi presentasi.
Argumen ini memang ada benarnya.
Tetapi sering disalahpahami.
Karena kemampuan komunikasi sebenarnya tidak otomatis muncul hanya karena ikut organisasi.
Orang yang benar-benar menguasai materi biasanya akan lebih percaya diri saat berbicara.
Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang aktif organisasi tetapi tetap kesulitan menjelaskan sesuatu dengan runtut karena kurang memahami isi pembahasannya.
Kemampuan presentasi lebih sering lahir dari:
- kebiasaan belajar,
- latihan berpikir,
- dan pemahaman materi yang kuat.
Bukan sekadar aktif rapat sampai malam.
Banyak Orang Sukses Justru Tumbuh dari Jalannya Sendiri
Dalam dunia nyata, banyak orang sukses yang berkembang bukan karena organisasi kampus.
Mereka tumbuh karena konsisten belajar hal yang mereka sukai.
Contohnya seperti Raditya Dika yang sering dikenal sebagai sosok introvert dan bukan tipe mahasiswa aktif organisasi.
Namun ia mampu mengembangkan kemampuan menulis dan kreativitasnya hingga menjadi salah satu figur sukses di industri kreatif Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa setiap orang punya ritme dan jalannya masing-masing.
Tidak semua harus berkembang dengan pola yang sama.
Mahasiswa yang tidak ikut organisasi biasanya punya waktu lebih fleksibel.
Dan waktu itu sebenarnya bisa menjadi aset besar jika digunakan dengan benar.
Misalnya untuk:
- belajar skill baru,
- memperbanyak pengalaman kerja,
- memperdalam teknologi,
- atau membangun personal branding sejak kuliah.
Di era digital sekarang, kemampuan seperti desain, editing video, coding, public speaking, hingga content creation justru sering lebih dibutuhkan di dunia kerja.
Karena itu, perkembangan diri tidak selalu harus datang dari organisasi formal.
Yang Penting Bukan Ikut Apa, Tapi Belajar Apa
Masalah utamanya sebenarnya bukan soal ikut organisasi atau tidak.
Tetapi apakah seseorang benar-benar berkembang dari aktivitas yang dijalani.
Karena ikut organisasi pun tidak otomatis membuat seseorang hebat.
Kalau hanya sibuk rapat tanpa belajar apa-apa, hasilnya juga akan biasa saja.
Sebaliknya, mahasiswa yang tidak ikut organisasi tetapi konsisten belajar dan membangun kemampuan bisa saja jauh lebih siap menghadapi dunia kerja.
Karena itu, mahasiswa baru tidak perlu terlalu takut dengan label “kupu-kupu”.
Mahasiswa Tidak Harus Jadi Versi yang Sama
Kampus bukan pabrik yang mencetak semua mahasiswa menjadi manusia dengan pola identik.
Setiap orang datang dengan:
- latar belakang berbeda,
- minat berbeda,
- kemampuan berbeda,
- dan tujuan hidup berbeda.
Ada yang nyaman di organisasi.
Ada yang berkembang lewat karya.
Ada yang tumbuh lewat pengalaman kerja.
Ada pula yang lebih fokus akademik.
Semua punya jalannya sendiri.
Jangan Sampai Sibuk Terlihat Berkembang, Tapi Tidak Benar-Benar Bertumbuh
Di dunia kampus, kadang ada budaya yang membuat mahasiswa merasa harus terlihat sibuk agar dianggap keren.
Padahal sibuk belum tentu berkembang.
Dan tidak terlihat aktif bukan berarti tidak belajar.
Karena pada akhirnya, fase kuliah adalah fase mencari arah hidup dan mengenali diri sendiri.
Organisasi memang bisa menjadi salah satu pintu pertumbuhan.
Tetapi itu bukan satu-satunya jalan menuju masa depan yang baik.
Jadi kalau ada senior yang terlalu memaksa mahasiswa baru ikut organisasi sambil merendahkan pilihan lain, tidak perlu langsung percaya.
Apalagi kalau ternyata dia sendiri lebih sibuk rapat daripada belajar. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah