RADARBONANG.ID – Di era media sosial seperti sekarang, istilah healing sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Sedikit stres langsung cari staycation.
Lelah kerja buru-buru pesan tiket liburan.
Pusing kuliah langsung cari pantai, gunung, atau cafe estetik untuk “menenangkan diri”.
Fenomena ini begitu umum terjadi, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang hidup di tengah tekanan pekerjaan, akademik, dan tuntutan sosial yang semakin besar.
Namun menariknya, meski sudah sering healing, banyak orang justru mengaku tetap merasa capek, kosong, bahkan lebih emosional setelahnya.
Pertanyaannya, kenapa seseorang masih bisa merasa lelah meski sudah berkali-kali mencoba healing?
Healing Bukan Solusi Instan untuk Semua Masalah
Banyak orang menganggap healing hanya soal pergi liburan atau mencari suasana baru.
Padahal kesehatan mental jauh lebih kompleks daripada sekadar jalan-jalan.
Faktanya, rasa lelah mental sering berasal dari tekanan yang terus menumpuk dan tidak benar-benar diselesaikan.
Mulai dari:
- beban pekerjaan,
- tuntutan keluarga,
- hubungan sosial,
- overthinking,
- hingga tekanan finansial.
Masalahnya, banyak orang hanya “mengistirahatkan diri sementara”, tetapi kembali ke pola hidup dan tekanan yang sama setelah liburan selesai.
Akibatnya muncul perasaan:
“Kok tetap capek ya, padahal baru healing?”
Karena sebenarnya yang lelah bukan tubuh saja, tetapi emosi dan pikiran yang sudah terlalu penuh.
Banyak Anak Muda Mengalami Emotional Exhaustion
Tanpa disadari, banyak generasi muda saat ini mengalami emotional exhaustion atau kelelahan emosional.
Kondisi ini terjadi ketika seseorang terlalu lama menahan stres, tekanan, dan emosi negatif tanpa benar-benar memprosesnya.
Gejalanya sering dianggap biasa, padahal cukup serius.
Misalnya:
- gampang marah,
- sulit fokus,
- kehilangan motivasi,
- mudah sedih,
- merasa kosong,
- hingga ingin menjauh dari orang lain.
Ironisnya, banyak orang tetap memaksakan diri terlihat bahagia di media sosial meski mentalnya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Media Sosial Membuat Healing Terlihat Seperti Kompetisi
Fenomena healing kini juga berubah menjadi tren sosial.
Banyak orang merasa harus terlihat punya hidup menyenangkan di internet.
Mulai dari unggahan sunrise di gunung, kopi mahal di cafe aesthetic, sampai foto liburan penuh senyum.
Semuanya terlihat sempurna.
Padahal di balik layar, tidak sedikit yang sebenarnya masih merasa cemas, burnout, bahkan kesepian.
Karena itu, mental health sering kali disalahartikan hanya sebatas tampilan luar.
Orang sibuk mengejar momen healing yang terlihat estetik, tetapi lupa memperbaiki kondisi emosinya sendiri.
Mental Health Tidak Selalu Terlihat dari Ekspresi Seseorang
Salah satu fakta penting yang sering tidak disadari adalah gangguan mental tidak selalu terlihat jelas.
Banyak orang tampak ceria, tetap produktif, dan aktif bersosialisasi, tetapi sebenarnya sedang kelelahan secara mental.
Ada yang tetap datang kerja setiap hari sambil menahan anxiety.
Ada yang tetap tertawa di tongkrongan meski pikirannya penuh tekanan.
Karena itu, kesehatan mental tidak bisa dinilai hanya dari ekspresi luar seseorang.
Kadang orang yang terlihat paling baik-baik saja justru sedang menyimpan beban paling besar.
Healing yang Sehat Bukan Sekadar Kabur dari Masalah
Psikolog menyebut healing yang sehat justru dimulai dari kemampuan memahami diri sendiri.
Bukan hanya menghindari stres sementara, tetapi belajar mengelola emosi dengan benar.
Ada beberapa langkah sederhana yang sebenarnya lebih efektif menjaga kesehatan mental dibanding terus mencari pelarian sesaat.
Misalnya:
- tidur cukup,
- membatasi media sosial,
- punya waktu istirahat,
- belajar berkata “tidak”,
- bercerita kepada orang terpercaya,
- hingga mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Liburan memang bisa membantu mengurangi stres.
Tetapi kalau pola hidup dan tekanan emosional tidak berubah, rasa lelah biasanya akan kembali lagi.
Kesadaran Mental Health Memang Meningkat, Tapi…
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran soal kesehatan mental memang meningkat drastis.
Banyak anak muda kini mulai terbuka membahas burnout, trauma, anxiety, dan overthinking.
Ini tentu menjadi perkembangan positif.
Namun di sisi lain, muncul fenomena baru: penggunaan istilah mental health yang kadang hanya sebatas tren.
Akibatnya, healing sering berubah menjadi pelarian sementara, bukan proses pemulihan yang benar-benar sehat.
Padahal mental health bukan sekadar istilah viral atau konten media sosial.
Ini adalah kondisi nyata yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan menjalani hidup sehari-hari.
Healing Terbaik Kadang Dimulai dari Kejujuran pada Diri Sendiri
Kalau merasa lelah terus-menerus, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar tempat healing baru.
Baca Juga: Tragis, Satpam Perumahan di Kota Malang Meninggal Setelah Ditusuk Pelaku Pencurian Saat Bertugas
Bisa jadi tubuh memang kurang istirahat.
Atau lingkungan terlalu toxic.
Atau pikiran terlalu lama memendam tekanan tanpa pernah benar-benar diproses.
Karena pada akhirnya, healing terbaik tidak selalu tentang pergi jauh.
Kadang justru dimulai dari keberanian untuk berhenti sejenak, memahami diri sendiri, dan jujur bahwa mental memang sedang tidak baik-baik saja. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah