RADARBONANG.ID – Chat yang dibiarkan terbaca tanpa balasan, telepon yang sengaja didiamkan, hingga janji nongkrong yang mendadak dibatalkan kini seperti menjadi bagian dari kehidupan sosial generasi muda.
Fenomena ghosting semakin sering terjadi, terutama di kalangan Gen Z yang hidup di tengah budaya komunikasi serba digital.
Banyak orang langsung menganggap pelaku ghosting sebagai sosok yang tidak dewasa, tidak bertanggung jawab, atau sengaja mempermainkan perasaan orang lain.
Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pola Asuh, Studi Ungkap Makanan Anak Ternyata Berpengaruh pada Emosi dan Perilaku
Di balik kebiasaan menghilang tanpa kabar, ternyata ada sisi psikologis yang mulai banyak dibahas: social anxiety atau kecemasan sosial.
Tanpa sadar, banyak anak muda sebenarnya sedang berjuang menghadapi rasa takut berlebihan saat harus berinteraksi dengan orang lain.
Dan ironisnya, semakin mudah teknologi membuat orang terhubung, semakin banyak pula yang merasa kesulitan untuk benar-benar berkomunikasi.
Ghosting Tidak Selalu Berarti Tidak Peduli
Banyak kasus ghosting ternyata bukan karena seseorang tidak peduli.
Justru sebaliknya, mereka terlalu banyak berpikir.
Takut salah bicara.
Takut mengecewakan orang lain.
Takut dianggap aneh.
Bahkan takut memulai percakapan kembali setelah lama menghilang.
Akhirnya mereka memilih diam.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan social anxiety, yaitu rasa cemas berlebihan terhadap penilaian sosial dari orang lain.
Bagi sebagian Gen Z, membalas pesan sederhana saja bisa terasa seperti tekanan besar.
Mereka mengetik balasan berkali-kali, lalu menghapusnya lagi.
Membuka chat berulang kali tanpa benar-benar berani membalas.
Semakin lama ditunda, rasa bersalah semakin besar.
Dan pada akhirnya, memilih menghilang terasa lebih mudah dibanding menghadapi percakapan yang membuat cemas.
Media Sosial Membuat Interaksi Jadi Lebih Melelahkan
Generasi sekarang tumbuh di era ketika semua hal terasa bisa dinilai.
Mulai dari cara mengetik, waktu membalas chat, pilihan emoji, sampai gaya komunikasi sering dianggap punya makna tertentu.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa kini menjadi sumber overthinking.
Tidak sedikit anak muda yang memikirkan pesan sederhana selama berjam-jam hanya karena takut dianggap salah.
Pikiran seperti:
- “Kok dia balasnya dingin?”
- “Aku terlalu ganggu nggak ya?”
- “Kalau aku jawab sekarang aneh nggak?”
menjadi semakin umum terjadi.
Tekanan sosial digital inilah yang diam-diam membuat banyak Gen Z kelelahan secara mental.
Karena itu, sebagian akhirnya memilih menghindar daripada menghadapi rasa cemas yang terus muncul setiap kali harus bersosialisasi.
Fenomena “Low Energy Socializing” Kini Makin Normal
Belakangan muncul istilah low energy socializing, yaitu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah secara mental untuk bersosialisasi.
Bahkan sekadar membalas pesan atau datang ke acara pertemanan bisa terasa sangat menguras energi.
Fenomena ini banyak dialami Gen Z yang hidup di tengah tekanan akademik, karier, media sosial, dan tuntutan untuk selalu terlihat produktif.
Di luar mungkin terlihat baik-baik saja.
Tetapi sebenarnya mereka sedang berjuang menghadapi kecemasan sosial yang tidak terlihat.
Karena itulah, banyak anak muda sekarang lebih memilih menghindar dibanding menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa tidak punya energi mental untuk menghadapi percakapan.
Ghosting Tetap Bisa Melukai Orang Lain
Meski ada faktor kecemasan sosial di balik ghosting, kebiasaan ini tetap bisa meninggalkan luka bagi orang lain.
Orang yang ditinggalkan tanpa penjelasan sering merasa bingung, kecewa, bahkan mempertanyakan dirinya sendiri.
Karena itu, komunikasi tetap menjadi hal penting dalam hubungan apa pun.
Baik dalam pertemanan, pekerjaan, maupun percintaan.
Sekalipun sulit, memberi penjelasan singkat biasanya jauh lebih baik dibanding menghilang begitu saja.
Kadang kalimat sederhana seperti:
“Aku lagi capek mental dan belum siap ngobrol dulu.”
sudah cukup membantu orang lain memahami situasi tanpa merasa diabaikan.
Gen Z Kini Mulai Lebih Terbuka Soal Mental Health
Kabar baiknya, kesadaran soal kesehatan mental di kalangan anak muda mulai meningkat.
Banyak Gen Z kini mulai memahami bahwa social anxiety bukan sekadar malu biasa.
Mereka juga mulai berani mencari bantuan profesional, membuat batasan sosial yang sehat, dan belajar berkomunikasi lebih jujur tentang kondisi mental mereka.
Karena itu, fenomena ghosting sekarang tidak lagi dilihat secara hitam-putih.
Di balik seseorang yang tiba-tiba menghilang, bisa jadi ada pertarungan mental yang tidak terlihat oleh orang lain.
Dan mungkin, mereka sebenarnya bukan tidak peduli.
Baca Juga: Mengapa Banyak Dewasa Muda Sulit Memiliki Circle Pertemanan yang Stabil? Ini 5 Penyebab Utamanya
Mereka hanya belum tahu bagaimana cara menghadapi rasa cemasnya sendiri.
Teknologi Membuat Orang Dekat, Tapi Tidak Selalu Nyaman
Fenomena ghosting di era Gen Z menunjukkan satu hal menarik:
Teknologi memang membuat komunikasi jadi lebih mudah.
Tetapi bukan berarti interaksi sosial menjadi lebih ringan.
Justru di tengah dunia yang serba terhubung, banyak anak muda merasa semakin takut dinilai, semakin mudah overthinking, dan semakin kelelahan secara mental.
Karena itu, tantangan terbesar generasi sekarang mungkin bukan sekadar mencari koneksi baru.
Tetapi mempertahankan keberanian untuk tetap terhubung secara jujur dengan orang lain. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah