RADARBONANG.ID – Dulu tren DIY atau Do It Yourself identik dengan aktivitas santai seperti membuat dekor kamar, scrapbook, atau kerajinan lucu ala Pinterest. Tapi sekarang, arah tren ini mulai berubah.
Gen Z tidak lagi sekadar membuat sesuatu yang estetik untuk dipamerkan di media sosial.
Mereka mulai memikirkan satu hal yang lebih besar: dampaknya bagi lingkungan.
Di tengah isu sampah plastik, limbah fashion, dan perubahan iklim yang semakin sering dibahas, banyak anak muda mulai sadar bahwa gaya hidup sehari-hari ternyata punya pengaruh besar terhadap bumi.
Dan menariknya, perubahan itu dimulai dari hal kecil.
Mulai dari barang bekas di rumah, botol kosong, kaos lama, sampai sisa lilin yang sebelumnya dianggap sampah.
Kini semuanya bisa berubah jadi sesuatu yang bernilai.
DIY Tidak Lagi Sekadar Konten Estetik
Media sosial punya peran besar dalam perubahan tren ini.
Kalau dulu konten DIY lebih fokus pada “lucu” dan “Instagramable”, sekarang banyak kreator mulai menambahkan unsur sustainability atau keberlanjutan.
Anak muda mulai bertanya:
“Barang ini masih bisa dipakai nggak?”
“Kalau dibuang bakal jadi sampah berapa lama?”
“Atau justru bisa diubah jadi sesuatu yang lebih berguna?”
Perubahan pola pikir inilah yang membuat DIY ramah lingkungan semakin populer.
Bukan cuma terlihat keren, tapi juga memberi rasa bahwa mereka ikut berkontribusi terhadap lingkungan.
Dan buat Gen Z, kombinasi antara estetik dan meaningful memang sangat sulit ditolak.
DIY Ramah Lingkungan yang Lagi Viral
Ada beberapa jenis DIY eco-friendly yang sekarang ramai dicoba anak muda karena dianggap mudah, murah, dan tetap menarik secara visual.
Tote Bag dari Kaos Bekas
Kaos lama yang sudah jarang dipakai kini banyak diubah menjadi tote bag reusable.
Selain mengurangi limbah pakaian, tas ini juga bisa dipakai belanja agar tidak terus memakai kantong plastik sekali pakai.
Menariknya lagi, hasil akhirnya sering terlihat unik karena motif setiap kaos berbeda.
Lilin Aromaterapi dari Sisa Lilin Lama
Banyak orang tidak sadar kalau sisa lilin ternyata masih bisa digunakan lagi.
Gen Z mulai mengumpulkan potongan lilin, melelehkannya kembali, lalu mencetak ulang menjadi lilin aromaterapi baru.
Selain hemat, hasilnya juga estetik dan cocok jadi dekor kamar.
Konten seperti ini cukup viral di TikTok karena proses pembuatannya terlihat satisfying.
Botol Bekas Jadi Pot Tanaman Mini
Botol plastik atau kaca yang biasanya dibuang kini sering diubah menjadi pot tanaman kecil.
Tren urban gardening membuat DIY jenis ini semakin populer, terutama di kalangan anak muda yang tinggal di kos atau apartemen kecil.
Selain mempercantik meja kerja, tanaman mini juga dianggap bisa membantu mengurangi stres.
Sabun Homemade dari Bahan Alami
Belakangan ini banyak Gen Z mulai tertarik membuat sabun sendiri dari bahan alami.
Selain ingin menghindari bahan kimia berlebihan, mereka juga mulai sadar bahwa kemasan produk skincare dan sabun menghasilkan cukup banyak sampah plastik.
Karena itu, sabun homemade dianggap lebih personal, lebih alami, dan lebih ramah lingkungan.
Upcycling Jeans Jadi Fashion Item Baru
Celana jeans bekas kini tidak selalu berakhir di tempat sampah.
Banyak kreator muda mengubahnya menjadi tas, dompet, pouch, bahkan bucket hat.
Selain membantu mengurangi limbah tekstil, hasil upcycling seperti ini juga punya nilai jual tinggi karena terlihat unik dan tidak pasaran.
Tidak sedikit yang akhirnya menjadikannya bisnis kecil-kecilan.
DIY Kini Jadi Simbol Gaya Hidup Baru
Fenomena ini menunjukkan bahwa DIY bukan lagi sekadar hobi iseng pengisi waktu luang.
Bagi banyak Gen Z, DIY ramah lingkungan mulai berubah menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup.
Mereka ingin terlihat kreatif, peduli lingkungan, dan lebih sadar konsumsi.
Karena itu, produk handmade berbasis eco-friendly sekarang punya pasar sendiri yang terus berkembang.
Apalagi generasi muda mulai lebih suka membeli barang yang terasa personal dan punya cerita dibanding produk massal biasa.
Tidak Semua DIY Otomatis Ramah Lingkungan
Walaupun terlihat positif, ada satu hal penting yang tetap perlu dipahami.
Tidak semua DIY otomatis eco-friendly.
Kadang ada tren DIY yang justru menghasilkan limbah baru atau memakai bahan yang sebenarnya tidak berkelanjutan.
Artinya, kesadaran tetap jadi hal utama.
Tujuannya bukan sekadar ikut tren viral, tapi benar-benar memahami dampak dari apa yang dibuat dan digunakan.
Karena pada akhirnya, sustainability bukan soal terlihat hijau di media sosial.
Baca Juga: Marcus Rashford Cetak Sejarah usai Antar Barcelona Juara La Liga, Real Madrid Tumbang di Camp Nou
Tapi soal kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Tren yang Diprediksi Tidak Akan Cepat Hilang
Berbeda dari tren internet lain yang cepat lewat, DIY ramah lingkungan punya kemungkinan bertahan lebih lama.
Karena tren ini lahir bukan cuma dari kebutuhan konten, tapi juga dari keresahan nyata soal lingkungan dan gaya hidup konsumtif.
Selama isu sampah, limbah, dan perubahan iklim masih jadi perhatian dunia, tren DIY eco-friendly kemungkinan akan terus berkembang.
Dan Gen Z tampaknya mulai membuktikan bahwa perubahan besar memang bisa dimulai dari langkah kecil.
Bahkan dari barang bekas yang selama ini hanya dianggap sampah di sudut rumah. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah