RADARBONANG.ID – Beberapa tahun terakhir, minuman literan tiba-tiba muncul di mana-mana. Mulai dari kopi susu, teh kekinian, cokelat, matcha, sampai boba, semuanya kini hadir dalam ukuran jumbo yang terlihat menggiurkan.
Bahkan kadang muncul pertanyaan sederhana: ini beli minuman atau lagi isi ulang galon?
Fenomena ini bukan lagi sekadar tren kecil di dunia kuliner. Minuman literan perlahan berubah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, terutama kalangan Gen Z dan milenial.
Karena sekarang orang membeli minuman bukan cuma untuk menghilangkan haus.
Tapi juga untuk foto, konten, nongkrong, kerja di kafe, bahkan sekadar terlihat produktif sambil membuka laptop.
Dan harus diakui, botol minuman ukuran besar memang punya “aura estetik” tersendiri.
Media Sosial Jadi Alasan Utama Tren Ini Meledak
Popularitas minuman literan sangat erat kaitannya dengan media sosial.
Ukuran jumbo membuat minuman terlihat lebih menarik ketika difoto. Apalagi kalau desain kemasannya minimalis, warna minumannya cantik, lalu diletakkan di meja kerja dengan laptop terbuka dan playlist lo-fi menyala.
Auto jadi konten.
Banyak brand akhirnya sadar bahwa konsumen zaman sekarang membeli pengalaman visual, bukan sekadar rasa.
Karena itu, muncul berbagai istilah seperti “sharing size”, “lebih hemat”, atau “lebih puas” untuk menarik perhatian pembeli.
Padahal kadang yang lebih puas sebenarnya bukan perut, tapi feed Instagram.
Benarkah Lebih Hemat?
Nah, ini bagian yang paling menarik.
Minuman literan memang sering terlihat lebih murah dibanding membeli dua gelas reguler. Misalnya, ukuran biasa Rp25 ribu, sedangkan literan Rp45 ribu.
Secara hitungan kasar memang terlihat hemat.
Tapi kenyataannya tidak selalu begitu.
Karena banyak brand sebenarnya menjual ilusi value.
Ukuran dibuat besar supaya konsumen merasa mendapatkan “lebih banyak”, padahal belum tentu benar-benar dibutuhkan.
Apalagi kalau akhirnya minuman itu tidak habis diminum.
Banyak orang membeli minuman literan sendirian, lalu baru setengah botol sudah enek. Sisanya disimpan di kulkas, lupa diminum, lalu besok rasanya berubah dan akhirnya dibuang.
Kalau ujungnya dibuang, hematnya di mana?
Minuman Literan dan Pola Konsumsi Berlebihan
Selain soal harga, ada satu hal yang sering tidak disadari: kandungan gula.
Mayoritas minuman kekinian punya kadar gula cukup tinggi. Nah, ketika porsinya dibuat satu liter, otomatis jumlah gula yang masuk ke tubuh juga meningkat drastis.
Tanpa sadar, satu botol literan bisa setara beberapa gelas minuman biasa.
Masalahnya, banyak orang tetap menghabiskannya sendirian dalam sehari.
Kalau sesekali mungkin tidak masalah. Tapi kalau rutin, risiko kesehatan mulai mengintai.
Mulai dari kenaikan berat badan, gangguan gula darah, sampai risiko diabetes di usia muda.
Ironisnya, banyak orang membeli minuman literan sambil bilang, “lagi hemat.”
Padahal tagihan kesehatan di masa depan bisa jauh lebih mahal.
Strategi Marketing yang Sangat Cerdas
Kalau dilihat dari sisi bisnis, minuman literan sebenarnya strategi yang jenius.
Brand cukup menjual produk dengan volume lebih besar untuk meningkatkan nilai transaksi pelanggan.
Daripada orang membeli satu gelas Rp20 ribu, mereka diarahkan membeli versi literan Rp40–50 ribu.
Sekali transaksi langsung naik dua kali lipat.
Dan uniknya, konsumen merasa senang karena mengira sedang mendapatkan penawaran lebih untung.
Selain itu, kemasan besar membuat branding lebih kuat.
Logo lebih terlihat, botol lebih mencolok, dan peluang muncul di media sosial jadi lebih tinggi.
Semakin sering muncul di TikTok atau Instagram, semakin besar kemungkinan produk itu viral.
Tren yang Mungkin Masih Bertahan Lama
Walaupun mulai banyak orang sadar soal kesehatan, tren minuman literan tampaknya belum akan hilang dalam waktu dekat.
Karena ada tiga hal yang masih sangat disukai generasi sekarang: value, sharing, dan visual menarik.
Selama orang masih suka nongkrong, membuat konten, dan mencari sesuatu yang terlihat “worth it”, minuman literan kemungkinan tetap punya pasar besar.
Apalagi budaya membeli makanan dan minuman sekarang sering dipengaruhi rasa penasaran, bukan kebutuhan.
Kadang orang beli bukan karena haus, tapi karena “lagi viral.”
Jadi, Worth It atau Cuma Overrated?
Jawabannya sebenarnya tergantung cara konsumsi masing-masing.
Kalau dipakai untuk berbagi bersama teman atau diminum bertahap dengan bijak, minuman literan memang bisa jadi pilihan menarik.
Tapi kalau cuma demi konten atau takut ketinggalan tren, bisa jadi kita sebenarnya sedang membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, yang dijual bukan cuma minumannya.
Tapi juga sensasi, gaya hidup, dan ilusi bahwa ukuran besar selalu lebih menguntungkan.
Jadi sebelum checkout minuman literan berikutnya, mungkin ada baiknya bertanya dulu ke diri sendiri:
Benar haus… atau cuma tergoda estetikanya? (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah