RADARBONANG.ID – Banyak orang sering mendengar berita soal dolar naik, rupiah melemah, atau kurs tembus angka tertentu.
Tapi sebagian masyarakat masih bingung, sebenarnya kenapa kalau dolar naik justru rakyat kecil yang ikut pusing?
Padahal banyak orang merasa tidak pernah pegang dolar sama sekali.
Tidak belanja ke luar negeri. Tidak punya tabungan dolar. Bahkan paspor saja mungkin belum pernah bikin.
Baca Juga: Marcus Rashford Cetak Sejarah usai Antar Barcelona Juara La Liga, Real Madrid Tumbang di Camp Nou
Tapi anehnya, ketika dolar naik, harga-harga di warung juga ikut naik. Minyak goreng naik, mie instan naik, ongkos naik, bahkan harga jajan pun kadang ikut berubah.
Sebenarnya penjelasannya sederhana.
Bayangkan dolar itu seperti mainan yang sedang diperebutkan banyak orang.
Kalau semakin banyak orang butuh dolar, sementara jumlahnya terbatas, maka harga dolar jadi naik.
Sama seperti ketika satu mainan viral diburu semua anak komplek, pasti harganya ikut mahal.
Kenapa Banyak Orang Butuh Dolar?
Karena banyak barang dari luar negeri dibeli menggunakan dolar Amerika.
Contohnya gandum, kedelai, mesin pabrik, bahan bakar, sampai bahan baku industri makanan dan obat-obatan.
Indonesia masih membeli banyak kebutuhan itu dari luar negeri.
Nah, ketika perusahaan Indonesia mau membeli barang impor, mereka harus menukar rupiah menjadi dolar dulu.
Kalau dolar mahal, otomatis biaya membeli barang juga ikut mahal.
Ibaratnya begini:
Biasanya beli satu kotak susu cukup Rp10 ribu. Tapi karena dolar naik, sekarang harus bayar Rp12 ribu untuk barang yang sama.
Perusahaan akhirnya keluar uang lebih banyak.
Harga Barang Jadi Ikut Naik
Karena modal perusahaan naik, mereka tidak mungkin terus-terusan jual murah.
Akhirnya harga barang ke masyarakat ikut dinaikkan.
Inilah kenapa saat dolar naik, harga-harga di pasar perlahan ikut berubah.
Walaupun kita tidak pernah transaksi pakai dolar, dampaknya tetap masuk ke kehidupan sehari-hari.
Contohnya minyak goreng.
Bahan baku atau proses produksinya sering berkaitan dengan barang impor, entah mesin, bahan tambahan, atau distribusi.
Begitu biaya naik, harga jual juga ikut naik.
Begitu juga dengan tepung, makanan olahan, susu, obat-obatan, elektronik, bahkan sparepart kendaraan.
Semua bisa ikut terdampak.
Ongkos Transportasi Juga Bisa Ikut Mahal
Tidak cuma makanan, biaya transportasi juga bisa terkena efek domino.
Karena harga bahan bakar dan komponen kendaraan sering dipengaruhi harga internasional yang memakai dolar.
Kalau biaya operasional kendaraan naik, tarif angkutan juga bisa ikut naik.
Akibatnya, ongkos kirim barang menjadi lebih mahal.
Kalau ongkos kirim mahal, harga barang di toko juga ikut naik lagi.
Jadilah semua saling sambung seperti rantai.
Dolar naik sedikit, efeknya bisa menjalar ke mana-mana.
Kenapa Rakyat Kecil yang Paling Terasa?
Karena masyarakat kalangan bawah biasanya hidup dengan penghasilan yang pas-pasan.
Mereka tidak punya banyak tabungan cadangan untuk menghadapi kenaikan harga.
Jadi ketika harga kebutuhan pokok naik sedikit saja, dampaknya langsung terasa.
Misalnya harga beras naik Rp1.000.
Bagi orang dengan penghasilan besar mungkin terasa biasa saja.
Tapi bagi keluarga yang uang bulanannya sudah dihitung pas untuk makan, listrik, sekolah anak, dan transportasi, kenaikan kecil itu bisa sangat berat.
Kadang yang dikurangi akhirnya bukan pengeluaran mewah, tapi justru kebutuhan penting.
Ada yang mengurangi uang jajan anak, mengurangi lauk makan, bahkan menunda membeli kebutuhan rumah tangga lain.
Dolar Naik Itu Bukan Sekadar Angka di Berita
Banyak orang mengira berita ekonomi hanya urusan pejabat, pengusaha besar, atau orang kantoran.
Padahal kenyataannya, angka dolar yang naik di televisi bisa berdampak sampai ke dapur rumah tangga.
Karena ekonomi dunia sekarang saling terhubung.
Kalau dolar menguat, harga impor naik.
Kalau harga impor naik, biaya produksi naik.
Kalau biaya produksi naik, harga jual ikut naik.
Dan ketika harga kebutuhan naik, rakyat kecil biasanya jadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanannya.
Ekonomi Global Bisa Sampai ke Meja Makan
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi global ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dolar bukan cuma angka di layar berita atau topik rumit anak ekonomi.
Dampaknya nyata.
Bisa terasa saat belanja di warung, isi bensin motor, bayar ongkos, sampai membeli kebutuhan dapur.
Karena itu, ketika dolar naik, yang berubah bukan cuma nilai tukar mata uang.
Tetapi juga pengeluaran harian masyarakat kecil yang perlahan ikut membengkak.
Dan pada akhirnya, rakyat biasa lagi-lagi harus pintar mengatur uang agar kebutuhan hidup tetap cukup sampai akhir bulan. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah