RADARBONANG.ID – Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian psikologi menemukan bahwa orang religius cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki keyakinan religius.
Banyak ahli sebelumnya menduga hal tersebut berkaitan dengan dukungan sosial, rutinitas ibadah, rasa tenang, hingga kemampuan menghadapi tekanan hidup dengan lebih baik.
Namun, penelitian terbaru mengungkap adanya faktor lain yang ternyata memiliki pengaruh sangat besar terhadap kebahagiaan seseorang, yaitu keyakinan bahwa keberadaannya benar-benar dibutuhkan oleh dunia di sekitarnya.
Penelitian Libatkan Ribuan Orang Dewasa
Temuan ini dipublikasikan dalam The Journal of Positive Psychology melalui penelitian yang dilakukan oleh tim dari Penn Primals Project.
Dalam riset tersebut, para peneliti melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa di Amerika Serikat melalui delapan studi berbeda.
Tujuan penelitian adalah memahami hubungan antara religiusitas, kebahagiaan, dan cara seseorang memandang dirinya dalam kehidupan sosial.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang religius memang cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi.
Namun setelah para peneliti mengontrol faktor psikologis tertentu, hubungan antara agama dan kebahagiaan ternyata hampir sepenuhnya menghilang.
Faktor Utamanya: Merasa Diri Dibutuhkan
Faktor yang dimaksud adalah keyakinan bahwa “dunia membutuhkan diri Anda” atau dalam penelitian disebut sebagai the world needs me.
Konsep ini bukan berarti seseorang merasa lebih hebat dibanding orang lain.
Sebaliknya, keyakinan tersebut lebih berkaitan dengan rasa bahwa hidup memiliki tujuan, keberadaan diri berarti, dan tindakan yang dilakukan memberi dampak positif bagi orang lain.
Orang yang merasa dirinya dibutuhkan biasanya memiliki semangat hidup, rasa tanggung jawab, dan tujuan yang lebih jelas.
Misalnya, orang tua yang merasa kehadirannya penting bagi anak-anaknya, guru yang merasa pekerjaannya membantu masa depan murid, atau relawan yang merasa kontribusinya bermanfaat bagi masyarakat.
Mengapa Rasa Dibutuhkan Bisa Membuat Bahagia?
Para peneliti menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan emosional untuk merasa berarti.
Ketika seseorang merasa dibutuhkan, muncul rasa diterima, dihargai, dan memiliki tempat dalam kehidupan sosial.
Perasaan tersebut membantu seseorang lebih optimistis dan lebih kuat menghadapi tekanan hidup.
Bagi orang religius, rasa itu sering diperkuat oleh ajaran agama yang menanamkan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki tujuan hidup tertentu.
Perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar membuat seseorang merasa hidupnya memiliki makna mendalam.
Tidak Harus Religius untuk Bahagia
Meski penelitian ini banyak membahas orang religius, para peneliti menegaskan bahwa rasa dibutuhkan sebenarnya juga bisa dimiliki siapa saja, termasuk mereka yang tidak religius.
Orang nonreligius tetap bisa menemukan makna hidup melalui hubungan sosial, pekerjaan, keluarga, aktivitas sukarela, hingga kegiatan kreatif yang memberi dampak positif bagi orang lain.
Membantu teman, merawat hewan peliharaan, mengajar, mendukung keluarga, atau aktif di komunitas sosial juga dapat memunculkan rasa bahwa keberadaan diri memiliki arti penting.
Karena itu, kebahagiaan tidak selalu berasal dari agama semata, tetapi dari perasaan bahwa hidup seseorang memiliki nilai dan manfaat.
Makna Hidup Jadi Kunci Penting
Penelitian ini memberikan sudut pandang baru bahwa salah satu sumber kebahagiaan terbesar manusia adalah rasa bermakna dalam hidup.
Ketika seseorang merasa keberadaannya penting bagi orang lain, ia cenderung memiliki kondisi mental yang lebih stabil dan optimistis.
Sebaliknya, perasaan tidak dibutuhkan atau kehilangan tujuan hidup sering dikaitkan dengan kesepian, stres, hingga penurunan kesehatan mental.
Karena itu, menjaga hubungan sosial, memiliki aktivitas yang bermakna, dan merasa bisa memberi kontribusi positif menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan modern.
Penelitian Masih Terus Dikembangkan
Meski hasil penelitian ini cukup menarik, para peneliti menegaskan bahwa studi tersebut masih bersifat korelasional.
Baca Juga: Psikologi Ungkap Kebiasaan Orang yang Bangun Pagi: Lebih Fokus, Minim Stres, dan Punya Hidup Teratur
Artinya, penelitian belum bisa memastikan secara langsung apakah rasa dibutuhkan benar-benar menjadi penyebab utama kebahagiaan dalam jangka panjang.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami hubungan antara makna hidup, religiusitas, dan kesehatan mental secara lebih mendalam.
Namun satu hal yang mulai terlihat jelas adalah bahwa manusia ternyata tidak hanya membutuhkan uang, kenyamanan, atau kesuksesan untuk merasa bahagia.
Sering kali, kebahagiaan justru muncul dari kesadaran sederhana bahwa keberadaan kita berarti bagi orang lain.
Editor : Muhammad Azlan Syah