RADARBONANG.ID – Banyak orang memiliki kebiasaan menggunakan handuk yang sama berulang kali setelah mandi.
Setelah dipakai, handuk biasanya langsung dijemur atau digantung hingga kering, lalu kembali digunakan pada waktu mandi berikutnya.
Sekilas kebiasaan ini terlihat normal dan praktis. Namun ternyata, para ahli kesehatan kulit memperingatkan bahwa handuk yang tampak kering belum tentu benar-benar bersih dari bakteri.
Sisa air, minyak tubuh, sel kulit mati, hingga kelembapan yang tertinggal pada serat kain dapat membuat handuk menjadi tempat berkembangnya berbagai mikroorganisme.
Baca Juga: Viral di TikTok, MPASI Slow Cooker Disebut Jadi Penyelamat Ibu Muda: Praktis atau Sekadar Ikut Tren?
Handuk Kering Tetap Bisa Dipenuhi Bakteri
Dokter kulit Annie Chiu menjelaskan bahwa banyak orang belum menyadari bahwa handuk yang sudah dijemur tetap dapat menyimpan bakteri.
Menurutnya, kondisi lembap pada kain handuk menjadi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan kuman, terutama jika handuk digunakan berkali-kali tanpa dicuci.
Annie Chiu menyarankan agar handuk sebaiknya diganti atau dicuci setelah digunakan sekitar tiga hingga empat kali.
Langkah tersebut dianggap cukup efektif untuk mencegah penumpukan bakteri sekaligus menghindari munculnya bau tidak sedap pada handuk.
Bisa Memicu Jerawat hingga Infeksi Kulit
Selain bakteri, handuk bekas pakai juga dapat menyimpan sisa sel kulit mati, minyak tubuh, hingga kotoran yang tidak terlihat secara kasat mata.
Jika handuk yang sudah terkontaminasi terus digunakan, risiko gangguan kulit dapat meningkat.
Mulai dari iritasi, jerawat, infeksi kulit, hingga memperburuk masalah kulit yang sebelumnya sudah ada.
Kondisi ini terutama berisiko pada orang yang memiliki kulit sensitif atau sedang mengalami gangguan kulit tertentu.
Karena itu, menjaga kebersihan handuk ternyata sama pentingnya dengan menjaga kebersihan tubuh itu sendiri.
Orang yang Mudah Berkeringat Harus Lebih Sering Ganti
Frekuensi penggantian handuk juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan lingkungan tempat tinggal.
Orang yang mudah berkeringat atau memiliki aktivitas fisik tinggi disarankan lebih sering mengganti handuk.
Begitu pula bagi mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat kelembapan udara tinggi.
Di lingkungan lembap, handuk biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar kering. Kondisi tersebut membuat bakteri dan jamur lebih mudah berkembang.
Akibatnya, handuk bisa cepat berbau apek dan menjadi tidak higienis meski terlihat masih layak pakai.
Tanda Handuk Sudah Harus Diganti
Selain rutin dicuci, handuk juga memiliki masa pakai tertentu dan perlu diganti secara berkala.
Pakar dari Cozy Earth menjelaskan bahwa serat kain handuk akan mengalami kerusakan seiring waktu dan proses pencucian berulang.
Jika handuk mulai terasa kasar, tidak empuk, atau tidak mampu menyerap air dengan baik, itu menjadi tanda bahwa kualitas kain sudah menurun.
Penurunan daya serap biasanya terjadi akibat rusaknya serat kain atau penumpukan residu deterjen pada handuk.
Dalam kondisi tersebut, handuk bukan hanya terasa tidak nyaman digunakan, tetapi juga kurang efektif mengeringkan tubuh.
Cara Merawat Handuk agar Tetap Higienis
Agar handuk tetap bersih dan tahan lama, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, selalu jemur handuk di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik dan terkena sinar matahari jika memungkinkan.
Hindari menggantung handuk dalam keadaan menumpuk atau di area lembap seperti kamar mandi tertutup terlalu lama.
Selain itu, gunakan deterjen secukupnya agar residu sabun tidak menumpuk di serat kain.
Mencuci handuk dengan air hangat sesekali juga dapat membantu membunuh bakteri dan menjaga kebersihannya lebih optimal.
Kebiasaan Kecil yang Sering Diremehkan
Meski terlihat sepele, kebiasaan memakai handuk terlalu lama ternyata dapat berdampak pada kesehatan kulit.
Banyak orang fokus menjaga kebersihan tubuh, tetapi lupa bahwa benda yang digunakan untuk mengeringkan tubuh juga perlu dijaga kebersihannya.
Karena pada akhirnya, handuk yang terlihat bersih belum tentu bebas bakteri.
Dan terkadang, masalah kulit kecil yang sering muncul bisa saja berasal dari kebiasaan sederhana yang selama ini dianggap tidak berbahaya.
Editor : Muhammad Azlan Syah