Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Skinny Fat Makin Mengkhawatirkan, Risiko Penyakit Jantung Bisa Mengintai Meski Berat Badan Normal

M Robit Bilhaq • Senin, 11 Mei 2026 | 09:38 WIB
Tubuh kurus belum tentu sehat. Lemak viseral tersembunyi pada fenomena skinny fat ternyata bisa memicu diabetes hingga serangan jantung di usia muda. (sumber: jawapos.com, ilustrasi seseorang yang sedang menimbang berat adan)
Tubuh kurus belum tentu sehat. Lemak viseral tersembunyi pada fenomena skinny fat ternyata bisa memicu diabetes hingga serangan jantung di usia muda. (sumber: jawapos.com, ilustrasi seseorang yang sedang menimbang berat adan)

RADARBONANG.ID - Banyak orang masih menganggap tubuh kurus identik dengan sehat.

Padahal, para ahli kesehatan kini mengingatkan adanya fenomena yang dikenal dengan istilah skinny fat, yakni kondisi ketika seseorang terlihat ramping tetapi sebenarnya memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi dan massa otot yang rendah.

Fenomena ini disebut semakin sering terjadi, terutama pada masyarakat modern dengan pola hidup minim aktivitas fisik namun tinggi konsumsi makanan olahan dan gula.

Secara medis, kondisi skinny fat juga dikenal sebagai obesitas dengan berat badan normal.

Artinya, angka timbangan mungkin terlihat ideal, tetapi komposisi tubuh sebenarnya tidak sehat.

Baca Juga: Tes Kepribadian Receh yang Lagi Viral: Pilihan Es Krim Favorit Disebut Ungkap Sisi Tersembunyi Dirimu

Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis tanpa disadari.

Tubuh Kurus Belum Tentu Bebas Risiko

Dokter spesialis gizi, Putri Sakti Dwi Permanasari menjelaskan bahwa masyarakat masih sering menilai obesitas hanya dari tampilan fisik.

Padahal, obesitas sebenarnya merupakan gangguan metabolik jangka panjang yang juga bisa dialami oleh orang bertubuh kurus atau memiliki berat badan normal.

Menurutnya, seseorang yang memiliki kadar lemak tinggi namun massa otot rendah tetap memiliki risiko besar mengalami gangguan kesehatan serius.

Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa risiko penyakit pada individu skinny fat bisa dua kali lebih tinggi dibanding orang yang tampak obesitas secara fisik.

Pernyataan tersebut disampaikan dr. Putri dalam kegiatan Hari Obesitas Sedunia 2026 yang membahas pentingnya kesadaran terhadap penyakit obesitas dan gangguan metabolik.

Lemak Viseral Jadi Ancaman Tersembunyi

Salah satu bahaya utama pada kondisi skinny fat adalah tingginya lemak viseral.

Dokter Gia Pratama menjelaskan bahwa lemak viseral merupakan lemak yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam tubuh.

Jenis lemak ini dianggap jauh lebih berbahaya dibanding lemak di bawah kulit karena dapat mengganggu fungsi organ vital secara langsung.

Lemak viseral dapat menyelimuti hati, ginjal, pankreas, hingga jantung sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Kondisi seperti fatty liver atau perlemakan hati menjadi salah satu dampak nyata dari penumpukan lemak viseral dalam tubuh.

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah seseorang tetap bisa memiliki kadar lemak viseral tinggi meski tubuhnya terlihat kurus dari luar.

Risiko Penyakit Serius Mengintai

Fenomena skinny fat tidak boleh dianggap sepele karena berkaitan erat dengan berbagai penyakit berbahaya.

Menurut dr. Gia, lemak viseral dapat meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, hingga penyakit jantung.

Ia juga menyoroti fakta bahwa usia penderita serangan jantung di Indonesia kini semakin muda.

Jika pada tahun 2013 rata-rata penderita serangan jantung berada di usia 50-an, maka dalam satu dekade terakhir usia tersebut turun drastis.

Pada tahun 2023, banyak kasus serangan jantung mulai ditemukan pada usia awal 40-an.

Perubahan gaya hidup modern, kurang olahraga, pola makan tinggi gula dan lemak, serta stres menjadi faktor yang disebut ikut memperparah kondisi tersebut.

Berat Badan Saja Tidak Cukup

Dokter Putri menegaskan bahwa menimbang berat badan saja tidak cukup untuk menilai kondisi kesehatan seseorang.

Selain memperhatikan indeks massa tubuh (IMT), masyarakat juga perlu memahami komposisi tubuh, termasuk persentase lemak dan massa otot.

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mendeteksi risiko obesitas sentral adalah mengukur lingkar pinggang.

Bagi perempuan, lingkar pinggang di atas 80 sentimeter sudah masuk kategori obesitas sentral. Sedangkan pada pria, batasnya berada di atas 90 sentimeter.

Artinya, ukuran celana atau pakaian sebenarnya juga dapat menjadi indikator awal kondisi kesehatan seseorang.

Dipengaruhi Banyak Faktor

Fenomena skinny fat tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Mulai dari faktor genetik, pola makan, kurang aktivitas fisik, kualitas tidur, hormon, hingga tingkat stres harian.

Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan dengan diet ekstrem atau olahraga sesaat.

Baca Juga: Banyak Orang Tua Masih Salah, Ini Waktu yang Tepat Bayi Mulai MPASI Menurut Ahli Kesehatan Anak

Kunci utama untuk memperbaiki komposisi tubuh adalah konsistensi menjalani pola hidup sehat dalam jangka panjang.

Meningkatkan aktivitas fisik, memperbanyak latihan kekuatan untuk membangun massa otot, menjaga kualitas tidur, serta mengurangi konsumsi makanan ultra-proses menjadi langkah penting untuk mencegah skinny fat.

Jangan Terkecoh Penampilan Fisik

Fenomena skinny fat menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak selalu bisa dilihat hanya dari bentuk tubuh luar.

Seseorang yang tampak kurus belum tentu memiliki kondisi metabolisme yang sehat.

Karena itu, penting untuk mulai memperhatikan kesehatan tubuh secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar angka timbangan atau penampilan fisik semata.

Sebab di balik tubuh yang terlihat ideal, bisa saja tersembunyi risiko penyakit serius yang berkembang perlahan tanpa disadari.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#skinny fat #bahaya lemak viseral #tubuh kurus tidak sehat #obesitas tersembunyi #risiko penyakit jantung