RADARBONANG.ID - Buka TikTok sebentar, muncul dance challenge lagu K-pop yang viral.
Scroll Instagram, feed dipenuhi outfit ala Seoul dengan warna pastel dan gaya minimalis.
Malam harinya, banyak anak muda menghabiskan waktu dengan maraton drama Korea sambil menikmati ramen instan atau tteokbokki favorit mereka.
Tanpa disadari, Korean Wave atau Hallyu kini bukan lagi sekadar hiburan.
Budaya populer Korea Selatan sudah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, khususnya bagi generasi muda Indonesia.
Mulai dari musik, fashion, skincare, hingga cara nongkrong, semuanya ikut dipengaruhi oleh tren Korea yang terus berkembang pesat.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Gelombang Hallyu mulai masuk ke Indonesia sejak awal tahun 2000-an lewat drama televisi dan boy group generasi pertama.
Baca Juga: Followers Instagram Mendadak Hilang Massal, Meta Akui Sedang Bersihkan Akun Bot dan Spam
Namun, perkembangan teknologi digital membuat penyebarannya kini jauh lebih cepat dan masif.
Platform seperti TikTok, YouTube, hingga Netflix menjadi media utama yang membuat budaya Korea semakin mudah diakses.
Konten-konten Korea bisa langsung hadir di genggaman pengguna hanya dalam hitungan detik. Bahkan, tren yang muncul di Seoul bisa viral di Indonesia pada hari yang sama.
Musik K-Pop Jadi Bagian dari Identitas Anak Muda
Bagi banyak Gen Z, K-pop bukan hanya musik penghibur semata.
Kehadiran grup seperti BTS, BLACKPINK, NewJeans, hingga SEVENTEEN membawa pengaruh yang lebih luas terhadap pola pikir dan identitas penggemarnya.
Lagu-lagu K-pop dianggap memiliki konsep yang dekat dengan kehidupan anak muda, mulai dari isu self-love, kesehatan mental, kerja keras, hingga keberanian untuk menjadi diri sendiri. Karena itu, banyak penggemar merasa memiliki koneksi emosional dengan idol favorit mereka.
Tak sedikit pula yang akhirnya ikut belajar bahasa Korea, mengoleksi album, hingga aktif dalam komunitas fandom.
Aktivitas tersebut menjadi ruang sosial baru bagi Gen Z untuk mencari teman dan membangun relasi dengan orang yang memiliki minat serupa.
Menurut laporan Korea Foundation tahun 2023, jumlah penggemar Hallyu di dunia mencapai lebih dari 178 juta orang di 118 negara.
Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan basis penggemar budaya Korea terbesar di Asia Tenggara.
Fashion Ala Seoul Jadi Tren Daily Outfit
Pengaruh Korean Wave juga terlihat jelas dalam dunia fashion anak muda Indonesia.
Jika dulu tren banyak dipengaruhi gaya Barat, kini outfit ala Korea mulai mendominasi media sosial maupun street fashion sehari-hari.
Gaya oversized shirt, cardigan simpel, loose pants, rok plisket, hingga sneakers putih menjadi item favorit yang sering digunakan Gen Z.
Warna-warna lembut seperti beige, putih, pastel, dan earth tone juga semakin populer karena dianggap memberikan kesan clean dan aesthetic.
Menariknya, tren ini ikut dimanfaatkan brand fashion lokal. Banyak pelaku usaha mulai menghadirkan koleksi dengan nuansa Korean style agar lebih dekat dengan pasar anak muda.
Bahkan gaya effortless chic ala aktris Korea seperti IU atau Han So-hee kini sering dijadikan referensi fashion harian.
Tidak hanya soal pakaian, Korean Wave juga memengaruhi cara anak muda menata feed media sosial mereka.
Konsep foto minimalis dengan tone hangat dan clean look menjadi gaya visual yang banyak diikuti.
Tren Skincare dan Glass Skin Semakin Digemari
Selain musik dan fashion, dunia kecantikan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh popularitas budaya Korea.
Konsep “glass skin” atau kulit sehat bercahaya membuat banyak Gen Z mulai lebih serius merawat kulit sejak usia muda.
Produk seperti toner, essence, serum, sheet mask, hingga sunscreen kini menjadi bagian dari rutinitas harian yang dianggap penting.
Popularitas idol dan aktris Korea dengan tampilan kulit flawless juga ikut mendorong meningkatnya minat terhadap produk skincare Korea maupun lokal yang mengadopsi konsep K-beauty.
Berdasarkan data Statista, industri K-beauty global terus mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Asia Tenggara termasuk pasar yang berkembang pesat, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan konsumsi produk skincare tertinggi di kalangan usia 18 hingga 24 tahun.
Nongkrong dengan Nuansa Korea Semakin Populer
Pengaruh Korean Wave kini juga terasa di dunia kuliner dan tempat nongkrong.
Banyak cafe menghadirkan konsep Korean street style dengan interior estetik ala Seoul.
Menu seperti corndog, tteokbokki, ramyeon, kimbap, hingga bingsu kini mudah ditemukan di berbagai kota besar di Indonesia.
Tidak sedikit tempat nongkrong yang sengaja memutar playlist K-pop agar suasana terasa lebih autentik.
Bagi sebagian Gen Z, nongkrong bukan lagi sekadar minum kopi bersama teman.
Pengalaman visual, ambience, dan spot foto juga menjadi faktor penting saat memilih tempat berkumpul.
Di Balik Tren, Ada Tekanan Sosial yang Perlu Disadari
Meski membawa banyak pengaruh positif dan kreativitas baru, Korean Wave juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan.
Standar visual idol Korea yang identik dengan tubuh ideal, wajah flawless, dan kehidupan serba aesthetic terkadang memunculkan tekanan sosial bagi sebagian anak muda. Tidak sedikit yang akhirnya merasa insecure karena merasa harus selalu tampil sempurna.
Baca Juga: Psikologi Ungkap Kebiasaan Orang yang Bangun Pagi: Lebih Fokus, Minim Stres, dan Punya Hidup Teratur
Psikolog dari American Psychological Association pernah mengingatkan bahwa paparan budaya populer secara intens dapat memengaruhi persepsi diri remaja, terutama terkait body image dan gaya hidup.
Karena itu, penting bagi Gen Z untuk tetap memiliki filter dalam menikmati tren yang ada.
Mengikuti budaya populer boleh saja, selama tidak membuat kehilangan jati diri atau memaksakan standar yang tidak realistis.
Pada akhirnya, Korean Wave memang telah membawa warna baru dalam kehidupan anak muda Indonesia.
Budaya ini membuat Gen Z lebih terbuka, kreatif, dan terhubung dengan tren global. Namun, di tengah derasnya pengaruh media sosial dan budaya populer, menjadi diri sendiri tetap menjadi hal yang paling penting.
Editor : Muhammad Azlan Syah