RADARBONANG.ID – Fenomena generasi muda yang kesulitan menabung kini semakin sering jadi perbincangan.
Banyak anak muda mengaku gaji mereka cepat habis bahkan sebelum akhir bulan tiba.
Menariknya, penyebab kondisi ini ternyata tidak sesederhana sekadar dianggap boros atau terlalu sering nongkrong.
Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, curhatan soal rekening menipis di tanggal muda makin sering bermunculan.
Mulai dari biaya kos yang naik, harga makanan yang makin mahal, hingga pengeluaran kecil yang terasa “tidak sadar” terus menguras saldo rekening.
Fenomena ini membuat banyak orang bertanya-tanya: kenapa Generasi Z terasa semakin sulit menabung?
Ternyata jawabannya jauh lebih kompleks dibanding sekadar gaya hidup konsumtif.
Hidup di Era Serba Mahal
Banyak anak muda saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Harga kebutuhan pokok terus meningkat, biaya tempat tinggal makin tinggi, sementara kebutuhan digital juga ikut bertambah.
Jika dulu pengeluaran anak muda mungkin hanya sebatas makan, transportasi, dan pulsa, sekarang daftar pengeluaran rutin menjadi jauh lebih panjang.
Mulai dari:
- langganan streaming,
- internet,
- aplikasi hiburan,
- transportasi online,
- kopi kekinian,
- hingga cicilan paylater.
Masalahnya, pengeluaran kecil tetapi rutin ini sering tidak terasa besar saat dilakukan satu per satu.
Namun ketika dikumpulkan dalam sebulan, nominalnya bisa sangat menguras keuangan.
FOMO Jadi Tekanan Finansial Baru
Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi kondisi finansial anak muda saat ini adalah fenomena Fear of Missing Out atau FOMO.
Media sosial membuat banyak orang merasa harus terus mengikuti tren terbaru agar tidak dianggap tertinggal.
Mulai dari gadget baru, outfit viral, konser musik, tempat nongkrong estetik, hingga tren liburan mendadak.
Tanpa disadari, banyak pengeluaran dilakukan bukan karena benar-benar dibutuhkan, tetapi demi menjaga eksistensi sosial di dunia digital.
Hal inilah yang membuat tekanan finansial generasi muda terasa semakin besar.
Karena di era sekarang, standar “kehidupan ideal” sering terbentuk dari apa yang dilihat di media sosial setiap hari.
Paylater Membuat Pengeluaran Terasa Ringan
Kemunculan layanan buy now pay later atau paylater juga ikut mengubah pola konsumsi generasi muda.
Sistem “beli sekarang bayar nanti” membuat banyak orang merasa pengeluaran mereka masih aman.
Padahal, tagihan sebenarnya terus menumpuk di belakang.
Pembayaran digital membuat rasa kehilangan uang terasa lebih kecil dibanding saat menggunakan uang tunai.
Akibatnya, banyak orang menjadi lebih impulsif saat berbelanja online.
Sekali dua kali mungkin terasa ringan.
Namun jika dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, kondisi finansial perlahan bisa menjadi tidak sehat.
Banyak Anak Muda Mulai Pesimistis Soal Masa Depan
Fenomena lain yang cukup mengejutkan adalah perubahan pola pikir terhadap masa depan.
Sebagian Generasi Z mulai merasa harga rumah terlalu mahal, pekerjaan tidak stabil, dan biaya hidup terus naik.
Kondisi tersebut memunculkan pola pikir bahwa tujuan finansial jangka panjang terasa semakin sulit dicapai.
Akibatnya, sebagian orang memilih menikmati uang sekarang daripada terlalu fokus menabung.
Fenomena ini bahkan ramai dibahas dalam tren seperti quiet quitting hingga soft saving di media sosial.
Bukan Tidak Mau Menabung
Meski sering dianggap malas menabung, kenyataannya banyak anak muda tetap memiliki kesadaran finansial.
Hanya saja, cara mengelola uang kini mulai berubah.
Sebagian generasi muda lebih memilih menyimpan uang dalam bentuk investasi digital, reksa dana, emas, atau membangun side hustle tambahan.
Mereka cenderung mencari sistem keuangan yang lebih fleksibel dibanding sekadar menabung secara konvensional.
Karena itu, kondisi finansial Generasi Z sebenarnya tidak bisa dinilai hanya dari jumlah tabungan di rekening.
Financial Awareness Jadi Kunci Penting
Di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup digital, para pakar keuangan menilai financial awareness atau kesadaran finansial menjadi hal yang sangat penting.
Anak muda perlu memahami perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial yang muncul dari media digital.
Karena tanpa kesadaran tersebut, kenaikan pendapatan sebesar apa pun tetap berpotensi habis tanpa sisa.
Kemampuan mengatur uang saat ini bukan lagi sekadar soal menabung.
Tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengendalikan gaya hidup dan mengambil keputusan finansial sehari-hari.\
Tantangan Finansial Generasi Z Memang Berbeda
Fenomena sulit menabung di kalangan Generasi Z pada akhirnya memang tidak bisa dilihat secara hitam putih.
Ada kombinasi tekanan ekonomi, perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga budaya digital yang membuat kondisi finansial generasi muda terasa jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.
Namun di balik semua tantangan tersebut, satu hal tetap penting: kemampuan memahami dan mengendalikan keuangan pribadi.
Karena tanpa itu, banyak anak muda bisa terus terjebak dalam siklus “gaji cuma numpang lewat”. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah