Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Di Tengah Tren Flexing dan Tekanan Media Sosial, ‘Seni Bodo Amat’ Jadi Cara Gen Z Menjaga Kesehatan Mental

Widodo • Kamis, 7 Mei 2026 | 16:08 WIB
Di era semua orang terlihat sukses di medsos, Gen Z mulai menemukan cara bertahan: “seni bodo amat” Bukan malas atau nggak punya ambisi, tapi belajar nggak membandingkan hidup sendiri dengan highlight hidup orang lain. (ilustrasi squidward, tokoh animasi Spongebob yang menggambarkan watak seorang yang "bodo amat")
Di era semua orang terlihat sukses di medsos, Gen Z mulai menemukan cara bertahan: “seni bodo amat” Bukan malas atau nggak punya ambisi, tapi belajar nggak membandingkan hidup sendiri dengan highlight hidup orang lain. (ilustrasi squidward, tokoh animasi Spongebob yang menggambarkan watak seorang yang "bodo amat")

RADARBONANG.ID – Timeline media sosial sekarang terasa makin penuh dengan kehidupan yang tampak “sempurna”.

Ada yang pamer liburan ke luar negeri, gadget terbaru, outfit mahal, kendaraan baru, hingga pencapaian karier yang terlihat begitu mulus.

Di Instagram dan TikTok, semua seolah berlomba menunjukkan versi terbaik hidup mereka.

Masalahnya, semakin sering melihat itu semua, banyak orang—terutama Gen Z—mulai merasa tertinggal.

Tanpa sadar, media sosial perlahan berubah dari tempat hiburan menjadi arena perbandingan sosial yang melelahkan secara mental.

Baca Juga: Brand Besar Mulai Tinggalkan Marketplace? Ternyata Ada Strategi Diam-Diam yang Sedang Dimainkan

Di tengah derasnya budaya flexing itu, muncul satu pola pikir yang kini mulai banyak dibicarakan: “seni bodo amat”.

Bukan berarti cuek total atau tidak punya ambisi hidup. Tapi lebih kepada kemampuan untuk memilih mana yang memang layak dipikirkan, dan mana yang sebenarnya tidak perlu terlalu masuk ke kepala.

Ketika Semua Orang Terlihat Lebih Sukses

Cukup scroll beberapa menit saja, timeline bisa dipenuhi berbagai pencapaian orang lain.

Ada yang baru wisuda, baru menikah, baru beli mobil, resign lalu sukses bisnis, sampai konten “produktif” yang kadang membuat orang lain merasa hidupnya kurang maju.

Padahal, yang muncul di media sosial sering kali hanyalah highlight kehidupan—bagian terbaik yang sudah dipilih, diedit, dan dikemas agar menarik dilihat.

Fenomena ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Menurut American Psychological Association, paparan konten semacam itu secara terus-menerus bisa memicu rasa minder, kecemasan, hingga menurunkan kepercayaan diri, terutama pada remaja dan dewasa muda.

Tidak heran jika banyak orang sekarang merasa cepat lelah secara mental meski sebenarnya tidak sedang menghadapi masalah besar di dunia nyata.

“Bodo Amat” Bukan Berarti Tidak Punya Target

Di sinilah konsep “seni bodo amat” mulai terasa relevan.

Maknanya bukan hidup tanpa tujuan atau menyerah pada keadaan. Justru sebaliknya, ini tentang kemampuan fokus pada perjalanan diri sendiri tanpa terlalu sibuk mengawasi kehidupan orang lain.

Psikolog menyebut hal ini sebagai emotional boundary atau batasan emosional.

Kemampuan tersebut penting agar seseorang tidak terlalu mudah terseret tekanan sosial yang muncul dari lingkungan digital.

Menurut riset dari Harvard Medical School, kemampuan mengelola emosi dan membatasi paparan media sosial punya pengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang.

Orang yang mampu menjaga batas emosional cenderung lebih stabil, tidak mudah stres, dan lebih mampu menikmati hidupnya sendiri.

Flexing Tidak Selalu Salah

Sebenarnya, flexing sendiri tidak selalu negatif.

Bagi sebagian orang, menunjukkan hasil kerja keras adalah bentuk ekspresi diri atau cara menikmati pencapaian pribadi.

Masalah muncul ketika flexing berubah menjadi standar sosial tidak tertulis.

Ketika orang mulai merasa harus ikut terlihat sukses, harus ikut tren, atau harus punya sesuatu hanya demi validasi sosial.

Apalagi Gen Z hidup di era yang hampir semuanya terhubung internet selama 24 jam.

Bangun tidur buka HP, sebelum tidur lihat timeline lagi. Setiap hari otak terus dibanjiri kehidupan orang lain.

Tanpa sadar, muncul tekanan untuk ikut mengejar hal-hal yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan.

Belajar Memilih Apa yang Perlu Dipedulikan

“Seni bodo amat” pada akhirnya bukan soal menjadi orang dingin atau anti sosial.

Ini lebih mirip skill bertahan hidup di era digital.

Skill untuk tahu kapan harus peduli, kapan harus diam, dan kapan harus melewati sesuatu tanpa perlu ikut terbawa emosi.

Tidak semua komentar perlu dibalas.

Tidak semua tren wajib diikuti.

Dan tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan ukuran keberhasilan diri sendiri.

Hal-hal sederhana seperti membatasi screen time, berhenti doomscrolling, atau unfollow akun yang memicu overthinking bisa menjadi langkah kecil yang dampaknya besar bagi kesehatan mental.

Menjaga Waras di Tengah Kebisingan Digital

Di era media sosial sekarang, semua orang bisa menjadi “panggung”.

Semua orang bisa terlihat sukses, bahagia, dan sempurna hanya lewat beberapa unggahan.

Karena itu, menjaga kewarasan justru menjadi tantangan yang semakin penting.

Menariknya, solusi yang mulai banyak dipilih generasi muda ternyata bukan sesuatu yang rumit.

Baca Juga: LHKPN Prabowo Belum Tampil di e-LHKPN, KPK Sebut Masih Tahap Verifikasi Administratif

Bukan motivasi berlebihan. Bukan juga hidup kompetitif tanpa henti.

Melainkan kemampuan sederhana untuk berkata: “nggak semua hal harus dipikirin.”

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat keren di layar.

Tapi siapa yang paling nyaman menjalani hidupnya sendiri di dunia nyata.

Di tengah tren flexing yang makin keras, mungkin “bodo amat” bukan tanda kalah.

Bisa jadi, itu justru bentuk kontrol diri agar tetap berjalan tanpa harus ikut arus yang belum tentu cocok dengan diri sendiri. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#seni bodo amat #flexing media sosial #overthinking karena medsos #tren gen z #kesehatan mental Gen Z