RADARBONANG.ID — Belakangan ini muncul fenomena yang ramai dibicarakan di dunia bisnis digital Indonesia: brand-brand besar disebut mulai meninggalkan marketplace.
Mulai dari brand skincare hingga fashion lokal, banyak yang terlihat semakin aktif mengarahkan konsumen untuk berbelanja langsung melalui website resmi mereka.
Nama seperti Somethinc dan Thenblank sering menjadi contoh paling sering dibahas dalam fenomena ini.
Namun, apakah benar brand-brand tersebut benar-benar keluar dari marketplace?
Baca Juga: Terjebak Ambisi Tanpa Henti, Begini Cara Menemukan Keseimbangan dan Arti “Cukup” dalam Hidup
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Bukan Keluar, Tapi Mengubah Strategi
Yang sebenarnya terjadi bukanlah “eksodus” besar-besaran dari marketplace, melainkan perubahan strategi bisnis digital.
Banyak brand kini mulai menerapkan pendekatan Direct-to-Consumer (D2C), yaitu menjual langsung ke konsumen melalui website sendiri tanpa terlalu bergantung pada platform pihak ketiga.
Marketplace masih digunakan, tetapi posisinya mulai berubah.
Jika dulu menjadi pusat utama penjualan, kini marketplace lebih difungsikan sebagai alat untuk menjangkau pelanggan baru.
Sementara itu, website resmi mulai dijadikan pusat loyalitas pelanggan dan sumber keuntungan jangka panjang.
Kenapa Brand Mulai Mengurangi Ketergantungan?
Ada beberapa alasan kuat mengapa banyak brand mulai serius membangun channel sendiri.
Margin di Marketplace Semakin Tipis
Biaya admin, komisi penjualan, hingga kebutuhan iklan di marketplace membuat margin keuntungan semakin tergerus.
Brand harus bersaing ketat dalam perang harga dan diskon besar-besaran yang terus terjadi hampir setiap hari.
Dengan website sendiri, perusahaan bisa mengatur strategi promosi lebih fleksibel dan menjaga margin keuntungan tetap sehat.
Data Pelanggan Jadi Aset Penting
Di marketplace, sebagian besar data pelanggan dimiliki platform.
Padahal di era digital saat ini, data konsumen menjadi aset yang sangat berharga untuk membangun strategi bisnis jangka panjang.
Melalui website sendiri, brand bisa memahami perilaku pelanggan, membangun loyalty program, hingga melakukan pemasaran yang lebih personal.
Ingin Keluar dari Budaya Diskon
Marketplace identik dengan promo, flash sale, dan perang harga.
Bagi brand yang ingin membangun citra premium atau eksklusif, kondisi ini bisa menjadi masalah.
Produk yang terus-menerus didiskon berisiko menurunkan persepsi nilai di mata konsumen.
Karena itu, banyak brand mulai membangun pengalaman belanja yang lebih eksklusif melalui website mereka sendiri.
Kontrol Pengalaman Belanja Jadi Lebih Besar
Website memberi brand kendali penuh terhadap tampilan visual, storytelling, hingga pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
Mereka bisa menciptakan identitas brand yang lebih kuat tanpa dibatasi aturan platform marketplace.
Strategi Baru: Hybrid dan Omnichannel
Meski begitu, bukan berarti marketplace akan ditinggalkan sepenuhnya.
Tren terbaru justru menunjukkan bahwa banyak brand mulai menerapkan strategi hybrid atau omnichannel.
Marketplace tetap dipakai untuk menjangkau traffic besar dan pelanggan baru.
Sementara website digunakan untuk membangun loyalitas, meningkatkan profit, dan memperkuat hubungan langsung dengan konsumen.
Selain itu, media sosial dimanfaatkan untuk engagement, sedangkan toko offline dipakai untuk menciptakan pengalaman belanja yang lebih nyata.
Kenapa Sedikit Brand Berani Keluar Total?
Realitanya, sangat sedikit brand di Indonesia yang benar-benar berani meninggalkan marketplace sepenuhnya.
Sebab hingga saat ini, marketplace masih menjadi sumber traffic terbesar di industri e-commerce Indonesia.
Banyak konsumen juga merasa lebih nyaman berbelanja melalui marketplace karena dianggap lebih aman dan praktis.
Artinya, keluar total dari marketplace masih menjadi strategi yang sangat berisiko.
Tantangan Membangun Channel Sendiri
Membangun website dan channel sendiri juga bukan perkara mudah.
Brand harus siap mengeluarkan biaya besar untuk marketing, teknologi, dan pengelolaan operasional.
Mereka juga harus membangun traffic dari nol serta meyakinkan konsumen agar mau berpindah dari marketplace ke website resmi.
Karena itu, strategi ini membutuhkan waktu panjang dan konsistensi tinggi.
Industri E-Commerce Sedang Berubah
Fenomena ini menunjukkan bahwa industri e-commerce mulai memasuki fase baru.
Brand tidak lagi ingin sepenuhnya bergantung pada platform besar.
Mereka mulai berusaha membangun ekosistem digital yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Marketplace masih tetap penting, tetapi kini bukan lagi satu-satunya pusat bisnis.
Baca Juga: Kesepian di Era Media Sosial, Kenapa Banyak Koneksi Justru Tidak Membuat Kita Lebih Dekat?
Bukan Pergi, Tapi Berkembang
Narasi bahwa brand besar ramai-ramai keluar dari marketplace memang terdengar menarik, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks.
Yang sedang terjadi sebenarnya adalah evolusi strategi bisnis digital.
Brand mulai mengurangi ketergantungan terhadap satu platform, membangun aset digital sendiri, dan memperkuat hubungan langsung dengan pelanggan mereka.
Fenomena ini bukan tentang “meninggalkan marketplace”, melainkan tentang bagaimana brand berkembang menjadi lebih mandiri di era digital yang semakin kompetitif.
Editor : Muhammad Azlan Syah