Studi Ungkap Hubungan Mengejutkan antara Selera Makanan dan Kepribadian, Pecinta Rasa Pahit Dikaitkan dengan Sifat Antisosial

M Robit Bilhaq • Dipublikasikan Senin, 4 Mei 2026 | 09:53 WIB
Suka kopi pahit?, Studi terbaru bilang ada kaitannya dengan kepribadian “gelap”. Fakta ilmiah atau cuma kebetulan? (sumber: freepik.com, ilustrasi psikopat)
Suka kopi pahit?, Studi terbaru bilang ada kaitannya dengan kepribadian “gelap”. Fakta ilmiah atau cuma kebetulan? (sumber: freepik.com, ilustrasi psikopat)

RADARBONANG.ID – Apakah selera makanan bisa mencerminkan kepribadian seseorang? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun sejumlah penelitian ilmiah terbaru justru menemukan adanya hubungan menarik antara preferensi rasa dengan karakter individu.

Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Innsbruck mengungkap bahwa pilihan rasa tertentu, terutama rasa pahit, dapat berkaitan dengan kecenderungan sifat antisosial.

Penelitian Libatkan Ratusan Responden

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis data dari 953 responden di Amerika Serikat.

Baca Juga: Bikin Nangis Tanpa Sadar! Ini Drama Korea tentang Perawat yang Kisahnya Relate Banget dengan Kehidupan Nyata

Para peserta diminta untuk menilai tingkat kesukaan mereka terhadap berbagai rasa makanan dan minuman, mulai dari manis, asin, asam, hingga pahit.

Tidak hanya itu, para responden juga diwajibkan mengisi sejumlah kuesioner kepribadian.

Survei ini dirancang untuk mengukur berbagai aspek psikologis, termasuk narsisme, agresivitas, psikopati, serta kecenderungan sadisme.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat keterkaitan antara preferensi rasa dengan karakter psikologis secara lebih komprehensif.

Rasa Pahit dan Kecenderungan Sadistik

Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang cukup signifikan antara kegemaran terhadap rasa pahit dengan kecenderungan perilaku sadistik.

Para peneliti menjelaskan bahwa individu yang menyukai makanan atau minuman pahit cenderung memiliki tingkat kesenangan tertentu terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan, termasuk dalam konteks sosial.

Korelasi ini tidak berarti bahwa setiap orang yang menyukai rasa pahit memiliki sifat buruk, melainkan menunjukkan adanya pola tertentu dalam preferensi rasa dan kepribadian.

Didukung Penelitian Lain

Temuan ini juga diperkuat oleh riset lain yang dilakukan oleh Christina Sagioglou dan Tobias Greitemeyer.

Penelitian mereka juga menemukan bahwa preferensi terhadap rasa pahit berkaitan dengan sifat-sifat yang tergolong dalam “dark personality traits”, seperti manipulatif, kurang empati, hingga kecenderungan agresif.

Beberapa contoh makanan dan minuman dengan rasa pahit antara lain kopi, bir, air tonik, lobak, hingga seledri.

Perbandingan dengan Rasa Lain

Menariknya, jika dibandingkan dengan rasa lainnya, rasa pahit dianggap memiliki hubungan paling kuat dengan sisi kepribadian yang lebih “gelap”.

Sebaliknya, individu yang memiliki kepribadian ramah dan hangat cenderung lebih menyukai makanan manis seperti cokelat atau permen.

Hal ini menunjukkan bahwa preferensi rasa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang.

Fenomena Supertasting dan Respons Emosional

Peneliti juga menyoroti fenomena yang dikenal sebagai “supertasting”, yaitu kondisi di mana seseorang memiliki sensitivitas tinggi terhadap rasa pahit.

Individu dengan kemampuan ini biasanya memiliki respons emosional yang lebih kuat terhadap berbagai stimulus, baik pada manusia maupun hewan seperti tikus dalam penelitian laboratorium.

Fenomena ini menambah kompleksitas hubungan antara persepsi rasa dan kondisi psikologis.

Memahami Istilah Psikopat Secara Medis

Dalam konteks ilmiah, istilah “psikopat” sering kali disalahartikan.

Secara medis, kondisi ini lebih dikenal sebagai Gangguan Kepribadian Antisosial.

Gangguan ini ditandai dengan pola perilaku yang mengabaikan norma sosial dan hak orang lain.

Individu dengan kondisi ini juga cenderung manipulatif, impulsif, dan kurang memiliki rasa empati.

Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil penelitian ini tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan selera makanan.

Jangan Menyimpulkan Secara Berlebihan

Para ahli menegaskan bahwa hubungan antara selera makan dan kepribadian bersifat korelatif, bukan kausal.

Artinya, preferensi terhadap rasa tertentu tidak secara langsung menyebabkan seseorang memiliki kepribadian tertentu.

Baca Juga: Dunia Narnia Bangkit Lagi! Versi Baru Ini Janjikan Cerita Lebih Emosional dan Visual Lebih Megah

Banyak faktor lain yang memengaruhi kepribadian, mulai dari lingkungan, pengalaman hidup, hingga kondisi biologis.

Temuan Menarik, Bukan Label Mutlak

Meski demikian, penelitian ini tetap memberikan wawasan menarik tentang bagaimana aspek sederhana seperti selera makanan dapat berkaitan dengan psikologi manusia.

Temuan ini bisa menjadi bahan refleksi, namun tidak seharusnya digunakan untuk memberi label atau penilaian terhadap seseorang.

Pada akhirnya, kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar pilihan rasa dalam makanan sehari-hari.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : cnbcindonesia.com
selera makan dan kepribadian rasa pahit psikopat penelitian psikologi makanan preferensi rasa manusia studi University of Innsbruck