Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sering Overthinking? Ilmuwan Ungkap Alasan Biologis Tubuh Mudah Lelah dan Cema

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Senin, 27 April 2026 | 16:48 WIB
Sering capek padahal nggak ngapa-ngapain?. Ternyata overthinking itu bukan cuma di kepala, tapi sampai ke sel tubuh! (sumber : freepik)
Sering capek padahal nggak ngapa-ngapain?. Ternyata overthinking itu bukan cuma di kepala, tapi sampai ke sel tubuh! (sumber : freepik)

 

RADARBONANG.ID – Pernah merasa lelah padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas? Kondisi ini sering dikaitkan dengan overthinking, namun ternyata penyebabnya tidak hanya berasal dari pikiran semata.

Ilmuwan di bidang biologi molekuler, Riza Putranto, mengungkap bahwa sebagian besar respons tubuh manusia, termasuk rasa cemas dan lelah, memiliki akar biologis yang jauh lebih dalam—bahkan hingga ke tingkat sel.

Tubuh Bekerja Berdasarkan “Instruksi” Sejak Lahir

Menurut Riza, tubuh manusia sebenarnya sudah membawa “program” sejak lahir dalam bentuk DNA.

Baca Juga: Daycare Belum Sepenuhnya Aman: Di Mana Peran Pemerintah?

Informasi ini sering disebut sebagai cetak biru kehidupan yang diwariskan dari orang tua.

Namun, berbeda dengan anggapan umum, DNA bukanlah sistem yang sepenuhnya kaku.

Cara tubuh membaca dan mengeksekusi instruksi tersebut bisa berubah tergantung lingkungan dan pengalaman hidup.

Konsep ini dikenal dalam dunia sains sebagai Epigenetik, yaitu mekanisme yang memungkinkan gen aktif atau nonaktif berdasarkan pengaruh luar seperti pola asuh, stres, hingga gaya hidup.

Overthinking Tidak Hanya Terjadi di Pikiran

Ketika seseorang mengalami overthinking, tubuh tidak hanya “berpikir”, tetapi juga bereaksi secara biologis.

Hormon stres seperti kortisol meningkat, detak jantung berubah, dan sistem saraf menjadi lebih aktif.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat tubuh merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas fisik.

Inilah alasan mengapa overthinking sering diikuti dengan rasa lemas, sulit tidur, hingga kecemasan berkepanjangan.

Trauma Bisa Tersimpan dan Diturunkan

Salah satu temuan yang cukup mengejutkan dalam ilmu biologi modern adalah kemampuan tubuh untuk “mengingat” trauma.

Pengalaman buruk di masa lalu tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga dapat memengaruhi cara kerja sel tubuh.

Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, respons terhadap trauma ini bisa diwariskan ke generasi berikutnya sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup.

Artinya, kecemasan atau sensitivitas emosional yang dirasakan seseorang bisa saja memiliki akar dari pengalaman generasi sebelumnya.

Memaafkan Bukan Sekadar Emosi

Dalam perspektif ilmiah, memaafkan ternyata bukan hanya soal moral atau pilihan pribadi, tetapi juga berdampak langsung pada tubuh.

Ketika seseorang mampu melepaskan emosi negatif, sistem saraf parasimpatik akan aktif.

Sistem ini berfungsi menenangkan tubuh, menurunkan detak jantung, dan membantu menyeimbangkan hormon seperti serotonin dan endorfin.

Sebaliknya, menyimpan emosi negatif dalam waktu lama dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi “siaga”, yang pada akhirnya menguras energi.

Tubuh Memberi Sinyal yang Sering Diabaikan

Riza mengibaratkan bahwa jika sel-sel tubuh bisa berbicara, mereka akan memberi peringatan agar manusia berhenti terjebak dalam pola emosi negatif.

Rasa lelah, cemas, atau bahkan gangguan kesehatan ringan sering kali merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan perubahan.

Mulai dari pola pikir, gaya hidup, hingga asupan yang dikonsumsi sehari-hari, semuanya berperan dalam menjaga keseimbangan sistem biologis.

Kesadaran adalah Kunci

Sebagai manusia dengan tingkat kesadaran tinggi, kita memiliki kemampuan untuk mengubah respons terhadap kondisi yang dialami.

Overthinking memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa dikendalikan dengan memahami bagaimana tubuh bekerja.

Langkah sederhana seperti mengatur napas, menjaga pola tidur, serta mengelola stres dapat membantu tubuh kembali ke kondisi seimbang.

Keikhlasan Adalah Proses Biologis

Menariknya, konsep keikhlasan juga memiliki sisi ilmiah. Menerima kenyataan bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan proses bertahap yang melibatkan adaptasi tubuh.

Seiring waktu, intensitas emosi akan menurun, dan tubuh perlahan kembali stabil.

Baca Juga: Bukan Sekadar Buah Segar, Nanas Ternyata Ampuh Bantu Turunkan Berat Badan

Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik sebenarnya saling terhubung secara erat.

Lebih dari Sekadar Pikiran

Pada akhirnya, overthinking bukan hanya persoalan pikiran, tetapi juga fenomena biologis yang melibatkan seluruh sistem tubuh.

Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih bijak dalam merespons emosi dan menjaga keseimbangan hidup.

Tubuh tidak pernah benar-benar “diam”—ia selalu memberi sinyal. Tinggal bagaimana kita memilih untuk mendengarkan dan meresponsnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#overthinking penyebab biologis #kenapa mudah cemas #epigenetik manusia #trauma diturunkan #kesehatan mental tubuh