Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Konten Kreator Korea Na Daehoon Ungkap Sisi Lain Jadi Ayah, Sempat Khawatir Anak Alami Speech Delay

Lailatul Khusna Febriyanti • Senin, 27 April 2026 | 11:12 WIB
Foto Daehoon dengan ketiga anaknya (Sumber : Instagram @ daehoon_na)
Foto Daehoon dengan ketiga anaknya (Sumber : Instagram @ daehoon_na)

 

RADARBONANG.ID – Menjadi orang tua bukan sekadar peran, tetapi perjalanan penuh tantangan dan pembelajaran.

Hal ini juga dirasakan oleh konten kreator asal Korea Selatan, Na Daehoon, yang kini menetap di Indonesia bersama keluarganya.

Dalam sebuah perbincangan santai di kanal YouTube Tuah Kreasi bersama Praz Teguh dan Arif Brata, Daehoon membuka sisi personalnya sebagai seorang ayah.

Ia berbagi cerita tentang bagaimana dirinya berusaha hadir secara utuh untuk anak-anaknya, termasuk saat menghadapi kekhawatiran besar ketika anak pertamanya mengalami keterlambatan bicara atau speech delay.

Baca Juga: Rahasia Sukses, 8 Kebiasaan Kecil Ini Jarang Disadari

Peran Ayah Tak Sekadar Pencari Nafkah

Dalam diskusi tersebut, dibahas pula fenomena banyaknya anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional.

Kondisi ini sering disebut sebagai fatherless, di mana figur ayah hadir secara fisik tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak.

Menanggapi hal itu, Daehoon menegaskan bahwa peran ayah jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan finansial.

Baginya, kehadiran secara emosional adalah hal yang tidak tergantikan.

Ia berusaha untuk selalu hadir dalam momen kecil sekalipun.

Bahkan ketika lelah setelah bekerja, ia tetap meluangkan waktu untuk anak-anaknya.

Permintaan sederhana seperti diajak berkeliling naik motor di sekitar rumah selalu ia usahakan untuk dipenuhi.

Baginya, momen kecil seperti itulah yang akan menjadi kenangan besar bagi anak di masa depan.

Kekhawatiran Saat Anak Mengalami Speech Delay

Salah satu fase paling menantang dalam perjalanan menjadi orang tua adalah ketika anak pertama Daehoon mengalami speech delay. Kondisi ini membuatnya sempat merasa cemas dan khawatir.

Ia menyadari bahwa perkembangan bicara anaknya tidak sesuai dengan usia pada umumnya.

Rasa takut pun muncul, terutama sebagai orang tua yang ingin melihat anak tumbuh dengan optimal.

Namun, Daehoon tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah dengan membawa anaknya ke terapi dan memberikan pendampingan intensif.

Usaha tersebut tidak mudah, tetapi ia menjalaninya dengan penuh kesabaran.

Baginya, setiap perkembangan kecil adalah kemajuan yang patut disyukuri.

Disiplin sebagai Bentuk Kasih Sayang

Meski dikenal hangat dan dekat dengan anak-anaknya, Daehoon tetap menerapkan disiplin dalam pola asuh.

Salah satunya terkait pola makan, terutama dalam membatasi konsumsi makanan manis.

Ia percaya bahwa disiplin bukanlah bentuk kekerasan, melainkan bagian dari kasih sayang jangka panjang.

Dengan aturan yang jelas, anak-anak bisa tumbuh lebih sehat dan terarah.

Pendekatan ini mencerminkan nilai yang ia bawa dari budaya Korea, di mana keseimbangan antara kasih sayang dan kedisiplinan sangat dijunjung tinggi.

Bahasa sebagai Jendela Dunia

Selain kesehatan dan karakter, Daehoon juga menaruh perhatian besar pada pendidikan bahasa.

Meski sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, ia tetap mengenalkan bahasa Korea kepada anak-anaknya.

Baginya, kemampuan berbahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jembatan untuk memahami budaya dan dunia yang lebih luas.

Ia meyakini bahwa anak yang menguasai lebih dari satu bahasa akan memiliki perspektif yang lebih terbuka.

Membangun Kedekatan Lewat Hal Sederhana

Di tengah kesibukannya, Daehoon tetap mencari cara untuk membangun kedekatan dengan anak-anaknya. Salah satunya melalui hobi berkendara.

Mengajak anak naik motor berkeliling bukan hanya soal aktivitas fisik, tetapi juga cara untuk menciptakan momen kebersamaan.

Dalam kesederhanaan itulah, hubungan emosional terbangun dengan kuat.

Anak merasa diperhatikan, sementara orang tua bisa lebih memahami dunia mereka.

Menjadi Ayah yang Hadir Sepenuhnya

Kisah Na Daehoon menjadi pengingat bahwa peran ayah tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Kehadiran, perhatian, dan komunikasi adalah fondasi utama dalam membangun hubungan dengan anak.

Tidak harus selalu dengan hal besar, justru momen kecil yang dilakukan dengan tulus sering kali menjadi yang paling berkesan.

Baca Juga: Rekor Baru! Stok Beras 5 Juta Ton, Pemerintah Diminta Jaga Keadilan Distribusi

Lebih dari Sekadar Tanggung Jawab

Pada akhirnya, menjadi ayah bukan hanya tentang tanggung jawab, tetapi juga tentang komitmen untuk terus belajar dan hadir dalam setiap fase kehidupan anak.

Dari menghadapi kekhawatiran seperti speech delay, hingga membangun kedekatan melalui aktivitas sederhana, semua menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keluarga.

Pesan yang disampaikan Daehoon sederhana namun bermakna: menjadi ayah yang baik bukan soal sempurna, tetapi tentang selalu ada.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#na daehoon anak speech delay #peran ayah dalam keluarga #fatherless indonesia #parenting ayah #perkembangan anak