RADARBONANG.ID – Overthinking atau kebiasaan berpikir berlebihan kini menjadi fenomena yang semakin umum di tengah kehidupan modern.
Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola pikir yang terus berputar, memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Mulai dari kekhawatiran soal masa depan hingga ketakutan akan kegagalan, semua bercampur menjadi tekanan mental yang sulit dikendalikan.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat membuat pikiran kelelahan layaknya mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti hingga mengalami “overheat”.
Baca Juga: Pro-Kontra Pajak Kapal Selat Malaka, Untung Ekonomi atau Risiko Politik?
Overthinking dan Cara Kerja Pikiran
Menurut Wayan Mustika, overthinking sebenarnya terjadi ketika pikiran mencoba “menarik” masa depan ke masa kini.
Seseorang ingin memastikan sesuatu yang belum terjadi atau justru takut terhadap kemungkinan buruk.
Akibatnya, pikiran bekerja terlalu keras dan memicu ketegangan mental. Kondisi ini membuat tubuh ikut merespons, sehingga muncul rasa tidak nyaman secara fisik.
Dampak Nyata pada Tubuh
Overthinking bukan hanya persoalan pikiran. Dalam banyak kasus, kondisi ini bisa berkembang menjadi psikosomatik, yaitu gangguan fisik yang dipicu oleh tekanan mental.
Gejala yang muncul bisa beragam, mulai dari jantung berdebar, sesak napas, hingga gangguan pencernaan.
Hal ini menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang sangat erat.
Mengubah Pola: Dari Pertanyaan ke Pernyataan
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatasi overthinking adalah dengan mengubah cara berbicara pada diri sendiri.
Saat cemas, seseorang cenderung dipenuhi pertanyaan seperti “Kenapa saya begini?” atau “Bagaimana jika gagal?”.
Masalahnya, pertanyaan ini justru membuat otak terus mencari jawaban, yang sering kali berujung pada kecemasan baru.
Solusinya adalah mengubah pertanyaan menjadi pernyataan. Misalnya, dari “Saya kenapa?” menjadi “Saya baik-baik saja”.
Dengan cara ini, pikiran diberikan kepastian, bukan keraguan.
Teknik ini sering disebut sebagai “P3K mental” karena bisa dilakukan dengan cepat saat kecemasan muncul.
Analogi Mesin yang Overheat
Untuk memahami kondisi ini, bayangkan tubuh seperti kendaraan.
Ketika dipacu terlalu cepat tanpa kontrol, mesin akan panas dan berisiko rusak.
Hal yang sama terjadi pada pikiran. Terlalu banyak memikirkan hal di luar kendali membuat mental kelelahan.
Bahkan, saat mencoba berhenti mendadak, efeknya justru bisa lebih berat.
Karena itu, penting untuk mengelola ritme berpikir agar tetap stabil dan tidak berlebihan.
Pentingnya Hidup di Masa Kini
Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi overthinking adalah dengan menerapkan konsep hidup di masa sekarang atau mindful living.
Fokus pada apa yang sedang dilakukan saat ini membantu pikiran tidak melayang terlalu jauh.
Masa lalu tidak bisa diubah, sementara masa depan belum tentu terjadi.
Dengan menyadari hal ini, seseorang bisa lebih tenang dalam menjalani hidup tanpa tekanan berlebih.
Belajar dari Filosofi Sederhana
Ada analogi menarik yang bisa diambil dari kehidupan sehari-hari: ikan laut tetap memiliki rasa tawar meski hidup di air asin.
Artinya, lingkungan tidak selalu harus memengaruhi kondisi batin.
Di tengah tekanan hidup yang tinggi, seseorang tetap bisa memilih untuk tenang dan tidak larut dalam kecemasan.
Baca Juga: Rahasia Sukses, 8 Kebiasaan Kecil Ini Jarang Disadari
Langkah Kecil, Dampak Besar
Mengatasi overthinking tidak harus dengan cara rumit.
Perubahan kecil seperti mengatur pola pikir, mengubah dialog internal, dan fokus pada masa kini sudah menjadi langkah awal yang penting.
Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini dapat membantu menjaga kesehatan mental dan mencegah kecemasan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pada akhirnya, ketenangan bukan datang dari hilangnya masalah, tetapi dari kemampuan mengelola pikiran dengan lebih bijak.
Editor : Muhammad Azlan Syah