Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sering Dianggap Normal, 11 Kebiasaan Ini Ternyata Melukai Mental Karyawan

Cicik Nur Latifah • Jumat, 24 April 2026 | 15:40 WIB
Tanpa Disadari, Inilah 11 Bentuk “Ritual Penghinaan” di Tempat Kerja yang Sering Dianggap Wajar—Padahal Bisa Merusak Mental, Kepercayaan Diri, dan Produktivitas Karyawan (Ilustrasi)
Tanpa Disadari, Inilah 11 Bentuk “Ritual Penghinaan” di Tempat Kerja yang Sering Dianggap Wajar—Padahal Bisa Merusak Mental, Kepercayaan Diri, dan Produktivitas Karyawan (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID – Lingkungan kerja ideal tidak hanya berfokus pada pencapaian target, tetapi juga pada bagaimana setiap individu diperlakukan dengan hormat.

Dalam kajian psikologi organisasi, banyak kebiasaan di kantor yang terlihat wajar, namun sebenarnya dapat berdampak negatif pada kondisi mental karyawan.

Perilaku yang terkesan profesional atau disiplin sering kali justru menyimpan unsur merendahkan.

Jika terus dibiarkan, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan stres, hingga memengaruhi produktivitas.

Baca Juga: Bocah SD di Toba Gagalkan Percobaan Perkosaan, Lempar Pupuk ke Wajah Pelaku

Teguran di Depan Umum

Menegur karyawan di hadapan banyak orang kerap dianggap sebagai bentuk ketegasan. Namun, cara ini berpotensi mempermalukan dan merusak rasa percaya diri individu.

Ide Diambil Tanpa Pengakuan

Mengklaim ide orang lain tanpa memberikan kredit dapat menimbulkan kekecewaan mendalam. Hal ini juga bisa membuat karyawan kehilangan motivasi untuk berkontribusi.

Tugas di Luar Peran Secara Berulang

Memberikan pekerjaan di luar tanggung jawab utama secara terus-menerus dapat dianggap sebagai bentuk meremehkan kemampuan profesional seseorang.

Kritik di Forum Terbuka

Evaluasi melalui forum umum seperti rapat besar atau pesan massal sering kali terasa menyudutkan. Pendekatan personal dinilai lebih efektif dan menghargai.

Pertanyaan Mendadak yang Menekan

Pertanyaan tiba-tiba dalam rapat bisa membuat karyawan merasa terjebak. Alih-alih mendorong partisipasi, cara ini justru menciptakan tekanan.

Dijadikan Contoh Negatif

Menjadikan seseorang sebagai contoh kesalahan di depan umum dapat menimbulkan rasa malu dan keterasingan.

Komentar Soal Penampilan

Komentar negatif terkait penampilan dapat memengaruhi kenyamanan dan rasa percaya diri, meskipun sering dianggap hal sepele.

Kegiatan Kebersamaan yang Dipaksakan

Acara di luar jam kerja seharusnya bersifat opsional. Jika diwajibkan, hal ini justru dapat menjadi beban tambahan bagi karyawan.

Oversharing yang Tidak Tepat

Berbagi hal pribadi secara berlebihan di tempat kerja dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman dan kurang profesional.

Tidak Dilibatkan dalam Diskusi

Mengabaikan karyawan dalam proses pengambilan keputusan dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai dan menurunkan keterlibatan.

Disanksi karena Menjaga Batasan

Karyawan yang menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sering kali dianggap tidak kooperatif, padahal hal tersebut penting untuk kesehatan mental.

Budaya Kerja Sehat Harus Dibangun

Para ahli dalam bidang psikologi organisasi menegaskan bahwa budaya kerja yang sehat dibangun melalui komunikasi terbuka, empati, serta penghargaan terhadap kontribusi individu.

Baca Juga: Meta Perketat Pengawasan, Orang Tua Kini Bisa Pantau Aktivitas AI Remaja

Jika kebiasaan-kebiasaan ini terus dianggap normal, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi juga dapat merusak budaya perusahaan dalam jangka panjang.

Membangun lingkungan kerja yang lebih manusiawi memang membutuhkan waktu.

Namun, perubahan bisa dimulai dari kesadaran untuk menghentikan kebiasaan kecil yang selama ini dianggap biasa, padahal memiliki dampak besar.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#lingkungan kerja toxic #kebiasaan buruk kantor #psikologi kerja #budaya kerja sehat #kesehatan mental karyawan