Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Perintis Bukan Pewaris, Kisah Tirta Prayuda Bangun Big Alpha dari Kursi Roda

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Rabu, 22 April 2026 | 08:52 WIB
Tirta Prayuda membuktikan keterbatasan bukan akhir, tetapi awal untuk membangun dampak melalui literasi finansial bagi generasi muda. (sumber : instagram @romeogadungan)
Tirta Prayuda membuktikan keterbatasan bukan akhir, tetapi awal untuk membangun dampak melalui literasi finansial bagi generasi muda. (sumber : instagram @romeogadungan)

 

RADARBONANG.ID – Kisah hidup Tirta Prayuda menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan akhir dari segalanya.

CEO Big Alpha ini berhasil mengubah cara anak muda memahami keuangan, dari yang rumit menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami.

Namun di balik kesuksesan tersebut, terdapat perjalanan panjang yang penuh ujian. Tirta pernah berada di titik terendah dalam hidupnya saat didiagnosis penyakit langka yang mengubah segalanya.

Titik Balik: Didiagnosis Penyakit Langka

Dalam perbincangan di kanal YouTube Paraswara, Tirta Prayuda mengungkapkan momen paling sulit dalam hidupnya terjadi pada tahun 2016.

Baca Juga: 3 Strategi Mengoptimalkan Kekuatan Diri: Cara Cerdas Mengarahkan Karakter untuk Hidup Berkualitas

Ia didiagnosis menderita Guillain-Barre Syndrome (GBS), sebuah penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan mendadak.

Saat itu, Tirta sedang berada di puncak kariernya di industri minyak internasional.

Dalam sekejap, semuanya berubah. Ia harus menghabiskan waktu berbulan-bulan terbaring di tempat tidur tanpa kepastian kapan bisa pulih.

Kondisi tersebut sempat membuatnya terpuruk dan mempertanyakan arah hidup.

Namun, di tengah keterbatasan itu, muncul kesadaran penting: dunia tidak akan berhenti hanya karena dirinya berhenti.

Bangkit dari Mentalitas Korban

Momen tersebut menjadi titik balik bagi Tirta Prayuda. Ia mulai melepaskan mentalitas korban dan memilih untuk mengambil kendali atas hidupnya.

Menurutnya, setiap orang memiliki pilihan untuk terus terjebak dalam keadaan atau bangkit dan menciptakan perubahan.

Kesadaran ini menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya selanjutnya.

Ia menyadari bahwa penderitaan tidak bisa dijadikan alasan selamanya. Ada batas waktu di mana seseorang harus berhenti menyalahkan keadaan dan mulai bergerak maju.

Lahirnya Big Alpha dari Niat Sederhana

Ide mendirikan Big Alpha berawal dari keinginan Tirta untuk membalas “utang moral” atas beasiswa yang pernah ia terima.

Ia mulai dengan mengadakan kelas investasi gratis untuk masyarakat. Namun, dari situ ia justru menemukan masalah yang lebih besar, yaitu rendahnya literasi keuangan di kalangan anak muda.

Banyak orang ingin belajar investasi, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Informasi yang tersedia sering kali terlalu teknis dan sulit dipahami.

Melihat celah tersebut, Tirta bersama dua rekannya membangun Big Alpha sebagai jembatan antara dunia keuangan yang kompleks dengan kebutuhan generasi muda yang menginginkan penjelasan sederhana.

Membangun Kepercayaan di Era Digital

Dalam mengembangkan platformnya, Tirta Prayuda menekankan pentingnya kepercayaan audiens.

Ia percaya bahwa konten finansial tidak hanya soal angka, tetapi juga soal kredibilitas.

Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus jujur, transparan, dan relevan dengan kondisi nyata masyarakat.

Selain itu, ia juga menerapkan gaya kepemimpinan yang adaptif, menyesuaikan strategi dengan kemampuan tim dalam mengolah konten kreatif.

Pendekatan ini membuat Big Alpha berkembang menjadi salah satu platform literasi finansial yang dekat dengan generasi milenial.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam perjalanannya, Tirta Prayuda menekankan pentingnya akuntabilitas pribadi.

Menurutnya, setiap orang bertanggung jawab penuh atas hidupnya sendiri.

Latar belakang, kesulitan, atau pengalaman pahit memang membentuk seseorang, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkembang.

Ia juga mengingatkan anak muda agar lebih bijak dalam mengelola keuangan, terutama terkait gaya hidup.

“Menaikkan gaya hidup itu mudah, tapi menurunkannya sangat sulit,” pesannya.

Karena itu, hidup sesuai kemampuan menjadi prinsip penting agar kondisi finansial tetap stabil, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dari Keterbatasan Jadi Kekuatan

Kini, Big Alpha telah berkembang menjadi ekosistem kreatif yang menjangkau banyak anak muda di Indonesia.

Tirta berharap platform ini bisa terus relevan dan menjangkau lebih luas, termasuk ke daerah-daerah yang masih minim akses literasi keuangan.

Perjalanannya menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang.

Justru dari keterbatasan itulah lahir perspektif baru yang bisa membawa perubahan besar.

Baca Juga: Kenapa Penyakit Ginjal Sering Baru Terdeteksi Saat Parah? Ini Penjelasan Lengkap dari Ahli

Nasib Ditentukan oleh Diri Sendiri

Di akhir kisahnya, Tirta Prayuda menegaskan bahwa tidak ada orang lain yang akan mengubah hidup seseorang selain dirinya sendiri.

Kesuksesan bukan datang dari kondisi yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk bangkit dan terus melangkah, bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.

Cerita ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki kendali atas hidupnya.

Tinggal bagaimana memilih untuk bertahan, atau bangkit dan menciptakan masa depan yang lebih baik. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Tirta Prayuda #Big Alpha #Guillain Barre Syndrome #literasi finansial Indonesia #kisah inspiratif