Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

4 Kebiasaan Kerja Kantor Menyebalkan yang Jadikan Work From Home Pilihan Terbaik, Kata Psikologi

Cicik Nur Latifah • Selasa, 21 April 2026 | 10:12 WIB
Banyak pekerja memilih WFH bukan hanya karena fleksibilitas, tetapi untuk menghindari kebiasaan kantor yang mengganggu kenyamanan dan produktivitas. (Ilustrasi)
Banyak pekerja memilih WFH bukan hanya karena fleksibilitas, tetapi untuk menghindari kebiasaan kantor yang mengganggu kenyamanan dan produktivitas. (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID – Tren kerja dari rumah atau work from home (WFH) kini tidak lagi sekadar soal fleksibilitas waktu.

Bagi banyak pekerja, WFH menjadi pilihan rasional untuk menghindari berbagai kebiasaan negatif di lingkungan kantor yang dinilai mengganggu kenyamanan dan produktivitas.

Secara psikologis, interaksi sosial di tempat kerja memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional seseorang.

Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat memicu stres, menurunkan fokus, hingga berdampak pada performa kerja secara keseluruhan.

Hal inilah yang membuat sebagian pekerja lebih memilih bekerja dari rumah dibanding kembali ke kantor.

Baca Juga: Dasha Gartman Ungkap Alasan Betah Tinggal di Indonesia, Ternyata Karena Timunc

Survei: Banyak Pekerja Hindari Kantor

Survei yang dilakukan Indeed dan dilaporkan Fortune menunjukkan bahwa satu dari lima pekerja sengaja menghindari kantor demi menjauhi rekan kerja yang dianggap mengganggu. Bahkan, sekitar 25 persen manajer senior mengaku enggan mengikuti kebijakan kembali ke kantor karena perilaku staf yang dinilai menjengkelkan.

Dilansir dari YourTango, terdapat empat kebiasaan kerja di kantor yang paling sering dikeluhkan dan mendorong pekerja memilih WFH.

1. Budaya Gosip yang Merusak Lingkungan Kerja

Gosip menjadi salah satu masalah paling umum di kantor. Survei terhadap lebih dari seribu pekerja dan ratusan atasan di Inggris menunjukkan bahwa kebiasaan ini menjadi keluhan utama.

Meski tidak semua gosip bersifat negatif, pembicaraan yang menyerang atau merugikan orang lain dapat menciptakan suasana kerja yang tidak sehat. Lingkungan yang dipenuhi gosip beracun cenderung memicu ketidakpercayaan, konflik, dan persaingan yang melelahkan secara mental.

WFH menjadi solusi bagi sebagian pekerja untuk menjauh dari dinamika sosial yang tidak produktif tersebut.

2. Oversharing atau Terlalu Banyak Berbagi Hal Pribadi

Lebih dari 20 persen pekerja mengaku terganggu dengan rekan kerja yang terlalu sering membagikan informasi pribadi yang tidak relevan dengan pekerjaan.

Percakapan ringan memang penting untuk membangun relasi, tetapi ketika batas profesional dilanggar, hal tersebut justru menimbulkan ketidaknyamanan. Di era digital, batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin tipis, sehingga tidak semua orang merasa nyaman dengan keterbukaan berlebihan.

Dengan WFH, pekerja memiliki kontrol lebih besar terhadap interaksi sosial dan dapat menjaga batas profesional dengan lebih baik.

3. Perilaku Menggoda yang Tidak Profesional

Perilaku menggoda atau flirting di lingkungan kerja juga menjadi salah satu keluhan utama. Meski sering dianggap sebagai candaan, tindakan ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman jika tidak pada tempatnya.

Lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberikan rasa aman secara emosional. Ketika batas profesional dilanggar, konsentrasi dan produktivitas pun dapat terganggu.

Bekerja dari rumah memberikan jarak yang membantu pekerja terhindar dari situasi yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan tersebut.

4. Dipotong Bicara dan Tidak Dihargai dalam Rapat

Dalam rapat kantor, kebiasaan memotong pembicaraan masih sering terjadi. Hal ini membuat seseorang merasa tidak dihargai dan tidak didengar, terutama jika dilakukan oleh atasan.

Dampaknya bisa lebih besar karena adanya ketimpangan kekuasaan di lingkungan kerja. Data menunjukkan bahwa 76 persen pekerja yang dipaksa kembali ke kantor mempertimbangkan untuk resign.

Selain itu, 46 persen pekerja mengaku frustrasi karena hasil kerja mereka diambil alih oleh orang lain, sementara 34 persen lainnya menyebut micromanagement sebagai alasan utama memilih kerja jarak jauh.

Rapat virtual dinilai lebih tertib karena adanya aturan seperti mematikan mikrofon, yang membantu menjaga alur komunikasi tetap terstruktur.

Baca Juga: Iran Balas Penyitaan Kapal dengan Serangan Drone ke Kapal AS di Teluk Oman, Ketegangan Memanas

Kenyamanan Psikologis Jadi Faktor Utama

Fenomena meningkatnya minat terhadap WFH menunjukkan bahwa kenyamanan psikologis kini menjadi faktor penting dalam dunia kerja. Tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan kerja memengaruhi kesejahteraan mental karyawan.

Perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta perlu memahami bahwa budaya kerja memiliki peran besar dalam produktivitas. Lingkungan yang sehat, komunikasi yang baik, serta rasa saling menghargai menjadi kunci utama.

WFH bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari kebutuhan pekerja modern akan ruang kerja yang lebih nyaman, aman, dan mendukung kinerja secara optimal. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#WFH vs kerja kantor #alasan pilih work from home #lingkungan kerja toxic #kebiasaan buruk di kantor #produktivitas kerja