RADARBONANG.ID – Dunia investasi Indonesia kembali diramaikan dengan pernyataan kontroversial dari seorang trader bernama Aris yang mengklaim mampu membaca arah pergerakan pasar dengan tingkat akurasi tinggi tanpa bergantung pada analisis fundamental.
Pendekatan ini memicu perdebatan, terutama di kalangan investor yang selama ini menjadikan laporan keuangan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan.
Aris, yang telah lama berkecimpung di pasar finansial, mengungkapkan bahwa metode yang ia gunakan lahir dari pengalaman panjang, termasuk fase kerugian besar yang pernah ia alami.
Dari proses tersebut, ia mengembangkan pendekatan berbasis pola teknikal yang menurutnya lebih mencerminkan kondisi pasar secara real-time dibandingkan data historis.
Baca Juga: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi, dari Disiplin Catat Keuangan hingga Rem Gaya Hidup
Ia mengklaim metode tersebut telah diuji lebih dari 200 kali dengan tingkat konsistensi yang tinggi.
Menurutnya, pergerakan harga pada berbagai instrumen seperti emas, minyak, hingga indeks saham global sebenarnya mengikuti pola matematis tertentu yang bisa dideteksi lebih awal sebelum sentimen pasar terbentuk melalui berita.
Skeptis terhadap Analisis Fundamental
Aris secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap analisis fundamental yang umum digunakan investor.
Ia menilai laporan keuangan hanya merepresentasikan kondisi masa lalu dan sering kali terlambat untuk dijadikan acuan dalam membaca peluang ke depan.
“Fundamental itu membaca data tiga bulan lalu. Sementara pasar bergerak setiap detik. Kalau ingin mendapatkan peluang besar, kita harus membaca apa yang sedang dan akan terjadi, bukan yang sudah lewat,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi manipulasi pasar, khususnya di saham dan aset kripto.
Menurutnya, keberadaan pemodal besar atau yang kerap disebut “bandar” dapat memengaruhi pergerakan harga secara signifikan.
Hal ini membuatnya lebih memilih bertransaksi di pasar forex dan komoditas global yang dinilai memiliki likuiditas tinggi dan lebih sulit dikendalikan oleh satu pihak.
IHSG dan Bitcoin Dibayangi Koreksi
Dalam analisanya, Aris memberikan peringatan serius terhadap potensi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia menyebut bahwa IHSG berpotensi turun hingga level 6.280 dalam waktu tertentu.
Bahkan, jika tekanan jual semakin kuat dan menembus level psikologis 5.000, indeks tersebut berpeluang melanjutkan penurunan hingga menyentuh 4.600.
Tak hanya IHSG, aset kripto seperti Bitcoin juga diprediksi mengalami volatilitas tinggi.
Aris memperkirakan bahwa meskipun terdapat peluang kenaikan jangka panjang hingga 107.000 dolar AS, fase koreksi tetap tak terhindarkan.
Ia menyebut kisaran penurunan bisa mencapai 57.000 hingga 50.000 dolar AS.
“Kalau level 50.000 jebol, bukan tidak mungkin Bitcoin turun lebih dalam ke sekitar 35.600,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan pembelian tambahan saat harga turun tanpa sinyal teknikal yang jelas. Menurutnya, langkah tersebut justru berisiko memperbesar kerugian.
Andalkan Pola Teknikal dan Disiplin Manajemen Risiko
Berbeda dengan pendekatan investasi jangka panjang berbasis fundamental, Aris menekankan pentingnya pemahaman pola teknikal serta disiplin dalam manajemen risiko.
Salah satu metode yang ia gunakan adalah harmonic pattern untuk mengidentifikasi titik jenuh harga, baik saat overbought maupun oversold.
Ia meyakini bahwa analisis teknikal sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan narasi yang berkembang di media.
“Biasanya teknikal sudah memberi sinyal lebih dulu, baru kemudian berita mengikuti,” katanya.
Bagi investor yang tengah mengalami kerugian atau terjebak pada posisi tertentu, Aris menyarankan untuk tidak hanya menunggu pasar berbalik arah.
Ia merekomendasikan strategi lindung nilai atau hedging, misalnya dengan mengambil posisi berlawanan di pasar lain seperti forex atau indeks global guna menyeimbangkan risiko.
Fokus Bertahan, Bukan Sekadar Untung Besar
Di akhir pemaparannya, Aris menegaskan bahwa kunci utama dalam trading bukanlah mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat, melainkan kemampuan bertahan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi, dari Disiplin Catat Keuangan hingga Rem Gaya Hidup
Ia menilai banyak investor pemula terjebak pada ekspektasi instan tanpa memahami risiko yang ada.
Menurutnya, strategi terbaik adalah menjaga keberlangsungan modal melalui pengelolaan risiko yang disiplin serta akumulasi keuntungan secara bertahap.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan mengambil risiko besar dalam satu transaksi.
“Yang terpenting itu menjaga akun tetap hidup. Keuntungan kecil tapi konsisten jauh lebih baik daripada sekali besar tapi berujung kehilangan semuanya,” tutupnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada klaim tanpa bukti.
Setiap metode, menurutnya, harus diuji melalui histori transaksi yang jelas dan berulang, sehingga dapat dipastikan validitasnya sebelum digunakan secara nyata di pasar.
Editor : Muhammad Azlan Syah