RADARBONANG.ID – Banyak orang merasa sulit berubah meski sudah memiliki niat kuat untuk memperbaiki diri.
Dalam perspektif neuroscience, kondisi ini bukan sekadar soal kemauan, tetapi berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia.
Pakar neuroscience, Rizki Edmi Edison, menjelaskan bahwa otak secara alami cenderung memilih jalur yang paling hemat energi. Kebiasaan lama menjadi “jalan pintas” yang membuat otak tidak perlu bekerja lebih keras.
“Perubahan itu mengurangi kenyamanan, sementara manusia cenderung mencari kepuasan dan rasa aman,” ujarnya dalam diskusi di kanal BigThinkers ID.
Baca Juga: Banting Setir dari Debt Collector, Andes Sudrajat Sukses Raup Omzet Gurame Puluhan Juta
Otak Lebih Suka Zona Nyaman
Setiap kali seseorang mencoba hal baru, otak membutuhkan energi kognitif yang lebih besar. Inilah sebabnya perubahan terasa berat dan sering kali gagal di tengah jalan.
Kebiasaan lama atau habit menjadi pilihan utama karena sudah tertanam kuat dalam sistem otak. Tanpa kesadaran dan usaha ekstra, seseorang akan terus kembali ke pola yang sama.
Peran Penting Mentor dan Refleksi
Dalam proses perubahan, refleksi diri menjadi kunci yang sering diabaikan. Banyak orang terus mencoba hal baru tanpa mengevaluasi kesalahan sebelumnya.
Menurut dr. Edmi, tanpa refleksi, seseorang hanya akan mengulang pola kegagalan yang sama.
Selain itu, kehadiran mentor juga sangat penting. Mentor dapat membantu mempercepat proses belajar sekaligus menghindarkan seseorang dari confirmation bias, yaitu kecenderungan merasa sudah benar tanpa evaluasi objektif.
Dua Sistem Otak: Logika vs Emosi
Dalam pengambilan keputusan, terdapat dua bagian utama otak yang berperan, yaitu prefrontal cortex yang mengatur logika, serta sistem limbik yang mengelola emosi.
Masalah muncul ketika emosi mendominasi. Dalam kondisi marah, sedih, atau euforia berlebihan, kemampuan berpikir logis akan menurun drastis.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak individu cerdas justru gagal dalam kepemimpinan, karena tidak mampu mengendalikan emosi saat mengambil keputusan penting.
“Kepemimpinan itu tentang manusia. Komunikasi dan pengambilan keputusan sangat dipengaruhi kemampuan mengontrol emosi,” jelasnya.
Mitos Multitasking yang Menyesatkan
Di era digital, multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Namun secara ilmiah, konsep ini sebenarnya tidak benar-benar ada.
Yang terjadi adalah rapid task switching, yaitu perpindahan cepat antar tugas yang justru menguras energi otak dan menurunkan kualitas hasil kerja.
Sebagai solusi, dr. Edmi menyarankan teknik fokus seperti time boxing atau metode Pomodoro, yaitu bekerja dalam satu tugas dalam durasi tertentu tanpa gangguan.
Otak Bisa Berubah, Asal Dilatih
Kabar baiknya, otak manusia memiliki kemampuan neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk terus berkembang dan beradaptasi sepanjang hidup.
Baca Juga: Strategi ‘Kuno’ Berbuah Manis, Bluebird Cetak Rekor Pendapatan Rp 5,7 Triliun
Artinya, perubahan tetap mungkin terjadi selama seseorang mau melatih diri, mencoba hal baru, dan konsisten keluar dari zona nyaman.
Kunci Perubahan Ada pada Konsistensi
Pada akhirnya, perubahan bukan hanya soal niat, tetapi tentang memahami cara kerja otak dan melatihnya secara konsisten.
Dengan refleksi diri, bimbingan mentor, kontrol emosi, serta fokus yang terjaga, seseorang tidak hanya mampu berubah, tetapi juga berkembang menjadi pemimpin yang lebih efektif.
Editor : Muhammad Azlan Syah