Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kenali Dirimu Sendiri, Bukan Sekadar Healing : Mengapa Meditasi Jadi Kunci Ketenangan Batin Di Tengah Overthinking

Lailatul Khusna Febriyanti • Kamis, 16 April 2026 | 08:37 WIB
Praktisi meditasi mengingatkan bahwa healing bukan sekadar tren, melainkan proses memahami diri yang membutuhkan kesadaran, jeda, dan konsistensi. (Ilustrasi Meditasi-Freepik)
Praktisi meditasi mengingatkan bahwa healing bukan sekadar tren, melainkan proses memahami diri yang membutuhkan kesadaran, jeda, dan konsistensi. (Ilustrasi Meditasi-Freepik)

 

RADARBONANG.ID – Di tengah derasnya arus digital, istilah seperti healing, self-love, hingga meditasi semakin populer, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.

Aktivitas ini kerap dianggap sebagai solusi instan untuk mengatasi tekanan hidup.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah tren ini benar-benar memberi dampak nyata, atau hanya sekadar pelarian emosional?

Seorang praktisi yoga dan meditasi, Pisi, mencoba meluruskan berbagai persepsi tersebut dalam perbincangan santai di kanal YouTube Peep Talk.

Ia menilai bahwa banyak orang mulai tertarik pada meditasi justru ketika hidup mereka sedang tidak stabil.

Baca Juga: 5 Rekomendasi All in One Desktop Terbaik untuk Inventaris Karyawan, Solusi Hemat Ruang dan Praktis untuk Kantor Modern

Menurutnya, kondisi tersebut wajar, tetapi yang menjadi masalah adalah pemahaman yang keliru tentang meditasi itu sendiri.

Banyak orang menganggap meditasi berarti mengosongkan pikiran, padahal kenyataannya tidak demikian.

“Pikiran itu pasti ada, tidak mungkin kosong. Meditasi itu justru bagaimana kita mengatur dan memperhatikan pikiran tersebut agar tidak dikontrol olehnya,” jelas Pisi.

Mengendalikan Pikiran, Bukan Menghilangkannya

Pisi menekankan bahwa perbedaan utama antara overthinking dan meditasi terletak pada siapa yang memegang kendali.

Saat seseorang mengalami overthinking, pikiran cenderung mengambil alih dan membuat individu merasa kewalahan. Sebaliknya, dalam meditasi, individu belajar menjadi pengamat atas pikirannya sendiri.

Ia mengibaratkan pikiran seperti kendaraan. Dalam kondisi overthinking, seseorang seolah menjadi penumpang yang tidak punya kendali.

Sementara dalam meditasi, seseorang duduk di kursi pengemudi dan memegang “setir” tersebut.

Pendekatan ini membantu seseorang untuk tidak reaktif terhadap setiap pikiran yang muncul.

Alih-alih terbawa arus, individu diajak untuk menyadari dan menerima pikiran tanpa harus terjebak di dalamnya.

Kembali ke Kesadaran Melalui Napas

Salah satu teknik paling dasar dalam meditasi adalah fokus pada napas.

Pisi menyebut bahwa napas merupakan alat paling sederhana dan selalu tersedia bagi siapa pun.

Dengan memperhatikan pola napas—apakah panjang, pendek, lega, atau terasa tertahan—seseorang dapat perlahan mengembalikan kesadaran ke tubuh.

Teknik ini tidak membutuhkan alat khusus dan bisa dilakukan kapan saja, bahkan oleh pemula sekalipun.

Latihan sederhana ini menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran atau awareness, yang merupakan inti dari praktik meditasi.

Dari sinilah seseorang mulai mengenali kondisi diri secara lebih jujur dan utuh.

Menghadapi Trauma yang Tersembunyi

Lebih jauh, Pisi mengungkap bahwa meditasi sering kali membuka pintu menuju sisi gelap dalam diri, termasuk trauma masa kecil yang selama ini terpendam.

Ia menyebut bahwa tidak sedikit orang yang justru merasa takut untuk bermeditasi karena harus berhadapan dengan emosi yang selama ini dihindari.

Menurutnya, ada teori yang menyebut bahwa seseorang yang sulit mengingat masa kecilnya kemungkinan menyimpan pengalaman traumatis di alam bawah sadar.

Meditasi dapat menjadi cara untuk mengakses kembali pengalaman tersebut.

“Untuk menyembuhkan, mau tidak mau kita harus merasakannya. Feel it to heal it. Kejadian di masa lalu tersimpan di tubuh karena dulu kita belum mengerti cara memprosesnya,” ujarnya.

Proses ini memang tidak selalu nyaman. Namun, justru dari situlah penyembuhan dapat dimulai.

Meditasi membantu seseorang untuk memproses emosi dengan lebih sadar, bukan menekannya seperti yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Waspada “Overdosis Healing”

Di balik manfaatnya, Pisi juga mengingatkan adanya fenomena yang ia sebut sebagai “overdosis healing”.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang terlalu sering mengikuti berbagai sesi penyembuhan tanpa memberi waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beradaptasi.

Alih-alih sembuh, kondisi ini justru bisa membuat seseorang semakin lelah secara emosional.

Energi yang dilepaskan dari proses healing membutuhkan waktu untuk diintegrasikan ke dalam tubuh.

“Hentikanlah merasa butuh terus-menerus healing setiap hari. Kadang yang kita butuhkan sebenarnya adalah istirahat, jeda, dan grounding,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa healing bukanlah perlombaan atau tren yang harus diikuti secara berlebihan.

Yang lebih penting adalah kualitas kesadaran dalam setiap proses, bukan kuantitas aktivitas yang dilakukan.

Baca Juga: Neymar Jr Kian Dekat ke FC Cincinnati, Negosiasi Masuk Tahap Serius

Mulai dari Langkah Kecil

Sebagai langkah awal, Pisi menyarankan praktik sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, yakni meditasi napas selama lima menit saat bangun tidur dan lima menit sebelum tidur.

Menurutnya, konsistensi dalam latihan kecil jauh lebih berdampak dibandingkan melakukan sesi panjang namun tanpa kesadaran penuh.

Dengan rutinitas sederhana ini, seseorang dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri.

Fenomena tren healing di era digital memang tidak bisa dihindari.

Namun, pemahaman yang tepat menjadi kunci agar praktik ini tidak sekadar menjadi gaya hidup sementara, melainkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kesehatan mental.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#meditasi adalah apa #tren healing #self love berlebihan #manfaat meditasi #overthinking vs meditasi