RADARBONANG.ID – “Baca dua halaman aja udah pusing.”
Kalimat ini sering terdengar dari kalangan generasi muda.
Namun di sisi lain, mereka bisa duduk berjam-jam di coffee shop tanpa merasa lelah.
Laptop terbuka, kopi tersisa setengah, musik mengalun pelan—dan waktu berlalu begitu saja.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan unik, melainkan gambaran perubahan cara Gen Z berinteraksi dengan fokus, distraksi, dan kenyamanan.
Di baliknya, ada pergeseran pola pikir dan cara kerja otak yang dipengaruhi oleh era digital.
Baca Juga: Tangis Suster Natalia Pecah, Dana Umat Rp 28 Miliar Diduga Digelapkan Oknum Bank
Fokus Itu Bukan Hilang, Tapi Berubah Bentuk
Banyak yang menganggap Gen Z kehilangan kemampuan fokus.
Padahal, fokus itu tidak hilang—melainkan berubah bentuk.
Membaca buku menuntut deep focus, yaitu konsentrasi penuh dalam waktu lama tanpa gangguan.
Sebaliknya, suasana coffee shop justru mendukung soft focus: kondisi setengah fokus yang lebih santai dan fleksibel.
Menurut American Psychological Association, paparan informasi digital yang terus-menerus membuat perhatian manusia semakin terfragmentasi.
Otak terbiasa menerima informasi cepat, singkat, dan variatif—bukan teks panjang yang membutuhkan ketahanan konsentrasi.
Inilah yang membuat banyak orang merasa “lelah duluan” saat membaca buku, padahal mereka masih mampu fokus dalam konteks lain yang lebih ringan.
Coffee Shop: Ruang Nyaman Tanpa Tekanan
Berbeda dengan buku yang sering terasa “menuntut”, coffee shop menawarkan ruang yang bebas tekanan.
Tidak ada target halaman yang harus diselesaikan. Tidak ada kewajiban memahami isi.
Seseorang bisa membuka laptop, berbincang, bekerja ringan, atau bahkan sekadar duduk tanpa tujuan jelas.
Suasana yang “hidup tapi tidak berisik” juga menciptakan ilusi produktivitas.
Banyak orang merasa sedang melakukan sesuatu yang bermakna, meskipun output yang dihasilkan belum tentu signifikan.
Fenomena ini dikenal sebagai ambient productivity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa produktif karena lingkungan yang mendukung, bukan karena hasil kerja nyata.
Estetika Jadi Daya Tarik Utama
Tidak bisa dipungkiri, coffee shop masa kini bukan hanya soal kopi, tetapi juga pengalaman visual.
Interior minimalis, pencahayaan hangat, hingga desain minuman yang menarik membuat tempat ini terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Banyak sudut yang dirancang agar terlihat estetik di media sosial.
Hal ini berbeda jauh dengan buku, terutama buku teks, yang sering didominasi tampilan hitam-putih dan teks padat.
Secara visual, buku kalah “menarik perhatian” dibanding lingkungan coffee shop yang dirancang untuk memanjakan mata.
Otak Cenderung Mencari Reward Instan
Salah satu faktor utama di balik fenomena ini adalah cara kerja otak manusia.
Saat membaca buku, hasilnya tidak langsung terasa.
Dibutuhkan waktu untuk memahami isi, mencerna informasi, dan merasakan manfaatnya. Proses ini cenderung lambat.
Sebaliknya, nongkrong di coffee shop memberikan reward instan: rasa kopi, suasana nyaman, interaksi sosial, hingga konten yang bisa dibagikan di media sosial.
Menurut Harvard Medical School, otak manusia lebih tertarik pada aktivitas yang memberikan imbalan cepat karena memicu pelepasan dopamin.
Inilah yang membuat aktivitas ringan seperti scrolling atau nongkrong terasa lebih menyenangkan dibanding membaca buku yang membutuhkan usaha kognitif lebih besar.
Gen Z Bukan Anti Buku, Tapi Beradaptasi
Meski terlihat enggan membaca buku, bukan berarti Gen Z kehilangan minat belajar.
Sebaliknya, mereka tetap mengonsumsi informasi—hanya saja dalam format yang berbeda.
Artikel pendek, thread di media sosial, audiobook, hingga video edukatif menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan pola konsumsi mereka.
Format ini dianggap lebih fleksibel, mudah diakses, dan tidak menuntut konsentrasi panjang dalam satu waktu.
Dengan kata lain, minat belajar tetap ada, tetapi medianya mengalami transformasi.
Antara Nyaman dan Bertumbuh
Nongkrong di coffee shop bukanlah hal yang salah. Bahkan, aktivitas ini bisa menjadi ruang untuk recharge, refleksi, atau mencari inspirasi.
Namun, jika buku selalu kalah dari kenyamanan, mungkin ada hal yang perlu dievaluasi.
Karena pada akhirnya, pertumbuhan tidak hanya datang dari hal-hal yang terasa mudah dan menyenangkan.
Justru, banyak perkembangan terjadi saat seseorang berani menghadapi sesuatu yang awalnya terasa berat.
Baca Juga: Sasar Lansia, Pengedar Uang Palsu di Blitar Dibekuk: Polisi Amankan Sabu-Sabu
Mungkin tantangannya bukan karena “tidak kuat membaca buku”, tetapi karena belum menemukan cara yang tepat untuk menikmatinya.
Bisa jadi dengan memilih buku yang lebih ringan, membaca dalam durasi singkat, atau mengombinasikan dengan format lain seperti audiobook.
Di tengah dunia yang serba cepat, kemampuan untuk kembali fokus secara mendalam justru menjadi keunggulan tersendiri.
Dan mungkin, di situlah letak keseimbangan yang perlu dicari oleh Gen Z—antara kenyamanan dan pertumbuhan.
Editor : Muhammad Azlan Syah