Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Gengsi Gen Z: Rela Utang Demi Konten, Jebakan Pamer yang Berujung Sengsara

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Selasa, 14 April 2026 | 11:58 WIB
Fenomena flexing di kalangan Gen Z picu gaya hidup konsumtif yang berisiko merusak finansial dan kesehatan mental (Sumber: freepik)
Fenomena flexing di kalangan Gen Z picu gaya hidup konsumtif yang berisiko merusak finansial dan kesehatan mental (Sumber: freepik)

 

RADARBONANG.ID – Budaya pamer atau flexing kini menjadi fenomena yang semakin marak di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.

Di era media sosial, citra diri kerap menjadi prioritas utama, bahkan tak jarang mengalahkan kondisi finansial yang sebenarnya.

Banyak anak muda rela mengorbankan kestabilan keuangan demi terlihat “berada” di dunia maya.

Mulai dari membeli gawai kelas atas dengan sistem cicilan hingga nongkrong di tempat-tempat mahal, semuanya dilakukan demi konten dan pengakuan sosial.

Baca Juga: Berikut Negara Produsen Plastik Terbesar Dunia di Tengah Ancaman Lonjakan Harga

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi pribadi, tetapi juga berpotensi memicu masalah psikologis jika terus dibiarkan.

Haus Pengakuan di Media Sosial

Salah satu akar dari fenomena ini adalah kebutuhan akan validasi eksternal. Media sosial menciptakan standar semu tentang kesuksesan dan kebahagiaan, yang sering kali diukur dari penampilan dan gaya hidup.

Menurut Maria Viona Kalista, perilaku flexing biasanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tekanan untuk selalu tampil sempurna membuat banyak orang merasa harus mengikuti tren, meski sebenarnya tidak mampu secara finansial.

Gaya Hidup yang Melampaui Kemampuan

Tidak sedikit anak muda yang memaksakan diri membeli barang branded atau teknologi terbaru melalui cicilan berbunga tinggi. Padahal, kondisi keuangan mereka sering kali belum stabil.

Fenomena ini semakin ekstrem dengan munculnya jasa sewa barang mewah hingga jasa manipulasi tampilan ponsel demi konten media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa citra sering kali lebih diutamakan daripada kenyataan.

Jika terus berlanjut, kebiasaan ini dapat menjerumuskan seseorang ke dalam pola hidup konsumtif yang sulit dihentikan.

Keputusasaan Masa Depan Jadi Pemicu

Di balik gaya hidup tersebut, terdapat faktor lain yang cukup mengkhawatirkan, yaitu rasa putus asa terhadap masa depan.

Harga properti yang terus meningkat membuat sebagian Gen Z merasa sulit mencapai target jangka panjang seperti memiliki rumah. Akibatnya, mereka cenderung memilih menikmati kesenangan jangka pendek dibandingkan menabung untuk masa depan.

Pola pikir ini dikenal sebagai instant gratification, yaitu keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara instan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Ancaman Pinjaman Online dan Kesehatan Mental

Gaya hidup konsumtif yang tidak terkontrol sering kali berujung pada penggunaan pinjaman online atau pinjol. Kemudahan akses membuat banyak orang tergoda untuk berutang demi memenuhi gaya hidup.

Namun, ketika tidak mampu membayar, tekanan finansial ini dapat berkembang menjadi stres, kecemasan, bahkan gangguan kesehatan mental.

Siklus “gali lubang tutup lubang” pun menjadi jebakan yang sulit keluar, dan berpotensi merusak kehidupan dalam jangka panjang.

Pentingnya Literasi Keuangan

Menghadapi fenomena ini, penting bagi generasi muda untuk memiliki literasi keuangan yang baik. Memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan menjadi langkah awal yang sangat krusial.

Mencatat pengeluaran, membuat anggaran bulanan, serta menghindari utang konsumtif dapat membantu menjaga stabilitas finansial.

Selain itu, menerapkan gaya hidup minimalis juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi kebiasaan berbelanja berlebihan.

Mengelola Pengaruh Media Sosial

Tidak kalah penting, mengurangi paparan media sosial juga dapat membantu menjaga kesehatan mental. Terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” dapat memicu rasa iri dan tidak puas terhadap diri sendiri.

Baca Juga: Huawei Pura 90 Pro dan Pro Max Rilis 20 April, Ini Bocoran Spesifikasi dan Desainnya

Dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, seseorang bisa lebih fokus pada kehidupan nyata dan pencapaian pribadi yang lebih bermakna.

Fenomena flexing di kalangan Gen Z menjadi pengingat bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial mencerminkan realitas sebenarnya.

Menjaga keseimbangan antara gaya hidup, kondisi finansial, dan kesehatan mental adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang lebih stabil dan bermakna.

Pada akhirnya, menjadi “cukup” jauh lebih penting daripada sekadar terlihat “kaya”.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#fenomena flexing Gen Z #literasi keuangan #gaya hidup konsumtif #dampak media sosial #kesehatan mental anak muda