RADARBONANG.ID – Banyak masyarakat kini mengeluhkan nilai uang Rp 100 ribu yang terasa semakin cepat habis dibandingkan beberapa tahun lalu.
Meski secara data resmi inflasi Indonesia masih tergolong rendah, realitas di lapangan justru menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap daya beli masyarakat.
Fenomena ini menjadi sorotan karena adanya ketimpangan antara data makroekonomi dengan pengalaman nyata masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Inovasi Pertanian: Mengenal Yakon, Si ‘Ubi Peru’ yang Bikin Petani Wonosobo Banjir Orderan
Kenaikan harga kebutuhan pokok serta praktik shrinkflation membuat nilai uang seolah terus menyusut.
Terjebak dalam Ilusi Inflasi
Secara statistik, inflasi di Indonesia pada tahun 2024 tercatat relatif rendah, bahkan sempat mengalami deflasi.
Namun, angka tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi riil yang dirasakan masyarakat.
Hal ini terjadi karena inflasi dihitung berdasarkan rata-rata dari berbagai komoditas, termasuk barang seperti elektronik yang harganya cenderung turun seiring perkembangan teknologi.
Penurunan harga di sektor ini ikut menekan angka inflasi secara keseluruhan.
Di sisi lain, kebutuhan utama seperti bahan pangan, biaya tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan justru mengalami kenaikan signifikan.
Karena komponen inilah yang paling sering dibelanjakan masyarakat, beban pengeluaran tetap terasa berat meski inflasi terlihat stabil.
Kondisi inilah yang disebut sebagai ilusi inflasi—ketika angka resmi tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan ekonomi yang dirasakan secara langsung.
Strategi Terselubung Produsen
Selain kenaikan harga, masyarakat juga dihadapkan pada fenomena shrinkflation.
Ini merupakan strategi produsen dengan cara mengurangi ukuran, berat, atau isi produk, namun tetap mempertahankan harga yang sama.
Secara kasat mata, perubahan ini sering kali sulit disadari.
Produk terlihat sama, tetapi jumlah yang didapatkan konsumen sebenarnya lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
Strategi ini dipilih karena secara psikologis konsumen lebih peka terhadap perubahan harga daripada perubahan isi.
Dengan menjaga harga tetap, produsen dapat mempertahankan daya tarik produk di pasar, meskipun nilai sebenarnya menurun.
Di tengah kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah, shrinkflation menjadi solusi bagi banyak pelaku usaha untuk menjaga margin keuntungan tanpa harus menaikkan harga secara langsung.
Kelas Menengah Kian Terhimpit
Dampak dari fenomena ini paling terasa pada kelompok kelas menengah.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah masyarakat yang berada di kategori ini mengalami penurunan signifikan.
Banyak yang sebelumnya memiliki kondisi ekonomi stabil kini bergeser menjadi kelompok rentan.
Salah satu penyebabnya adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dengan kenaikan biaya hidup.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.000 per dolar AS juga ikut memperparah situasi.
Barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor mengalami kenaikan harga, sehingga berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga.
Di sisi lain, terbatasnya lapangan kerja formal mendorong sebagian masyarakat beralih ke sektor informal dengan pendapatan yang tidak tetap.
Kondisi ini menciptakan tekanan ekonomi yang berkelanjutan.
Uang Besar yang Terasa Kecil
Gabungan dari ilusi inflasi, shrinkflation, dan tekanan ekonomi struktural membuat nilai uang Rp 100 ribu terasa jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Secara nominal memang tidak berubah, tetapi daya beli terus menurun.
Barang yang dulu bisa dibeli dalam jumlah tertentu kini harus ditebus dengan biaya lebih besar atau jumlah yang lebih sedikit.
Perubahan ini terjadi secara perlahan, sehingga sering kali tidak disadari. Namun dalam jangka panjang, dampaknya sangat terasa dalam pola konsumsi masyarakat.
Pentingnya Adaptasi dan Literasi Keuangan
Menghadapi kondisi ini, masyarakat perlu lebih cermat dalam mengelola keuangan.
Baca Juga: Bukan Lagi Laut Bebas, Selat Hormuz Berubah Jadi Gerbang Berbayar yang Mengancam Ekonomi Global
Membandingkan harga berdasarkan satuan, memperhatikan isi produk, serta mengutamakan kebutuhan utama menjadi langkah penting.
Selain itu, peningkatan literasi keuangan juga menjadi kunci agar masyarakat mampu memahami dinamika ekonomi yang terjadi, bukan hanya berdasarkan persepsi, tetapi juga dengan pemahaman yang lebih utuh.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kondisi ekonomi tidak selalu bisa dilihat dari angka statistik semata.
Pengalaman sehari-hari masyarakat tetap menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan ekonomi secara keseluruhan.
Editor : Muhammad Azlan Syah