RADARBONANG.ID – Fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental pada generasi muda kini menjadi sorotan global.
Maudy Ayunda turut mengangkat isu ini dengan membedah buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt.
Dalam ulasannya, Maudy menyoroti perubahan besar yang terjadi sejak era 2010-an, ketika masa kecil anak-anak mulai bergeser dari aktivitas bermain di dunia nyata ke dunia digital berbasis layar ponsel.
Baca Juga: Perundingan AS–Iran Belum Temui Titik Temu, Isu Selat Hormuz Jadi Penghambat Utama
Pergeseran ini dinilai berdampak signifikan terhadap perkembangan mental dan emosional generasi muda.
Masa Kecil Berbasis Layar Gantikan Bermain Bebas
Menurut Maudy, salah satu perubahan paling mencolok adalah hilangnya budaya bermain bebas di luar ruangan.
Dahulu, anak-anak terbiasa belajar melalui interaksi langsung—baik saat bermain, berkonflik, maupun bekerja sama dengan teman sebaya.
Kini, waktu tersebut banyak tergantikan oleh aktivitas di depan layar.
Fenomena ini dikenal sebagai phone-based childhood, di mana anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibanding berinteraksi secara nyata.
“Kita telah mengganti masa kecil berbasis bermain dengan masa kecil berbasis ponsel, sehingga anak-anak tidak belajar cara menyelesaikan konflik sosial secara mandiri,” ungkap Maudy.
Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa keterampilan sosial dasar yang penting, seperti empati, komunikasi langsung, hingga kemampuan menghadapi tantangan secara mandiri.
Dampak Tersembunyi Kehidupan Berbasis Ponsel
Dominasi ponsel dalam kehidupan sehari-hari membawa sejumlah dampak yang sering kali tidak disadari.
Salah satunya adalah menurunnya kualitas interaksi tatap muka, yang berperan penting dalam membangun hubungan emosional yang sehat.
Selain itu, penggunaan gawai secara berlebihan juga berdampak pada kualitas tidur.
Paparan cahaya layar di malam hari dapat mengganggu ritme alami tubuh, sehingga memicu kelelahan dan menurunkan kesehatan mental secara keseluruhan.
Tak hanya itu, fenomena fragmentasi atensi juga semakin umum terjadi.
Otak terbiasa berpindah-pindah fokus secara cepat akibat konsumsi konten singkat, sehingga kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka panjang menjadi menurun.
Paparan konten ekstrem dan budaya perbandingan sosial di media sosial turut memperburuk kondisi ini.
Banyak remaja merasa tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis di dunia maya.
Krisis Kesehatan Mental pada Generasi Muda
Dalam pembahasannya, Maudy juga menyoroti lonjakan angka depresi yang mulai terlihat sejak sekitar tahun 2012.
Fenomena ini tidak terjadi secara acak, melainkan sejalan dengan meningkatnya penggunaan ponsel pintar dan media sosial.
Remaja perempuan disebut lebih rentan terhadap tekanan citra diri akibat paparan standar kecantikan di media sosial.
Sementara itu, remaja laki-laki cenderung mengalami isolasi sosial, yang berujung pada rasa kesepian berkepanjangan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak teknologi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memengaruhi pola interaksi sosial secara luas.
Tanpa pengawasan dan keseimbangan yang tepat, penggunaan teknologi dapat menjadi faktor risiko bagi kesehatan mental.
Maudy menegaskan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam menghadapi situasi ini. Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan emosi secara langsung, bukan hanya melalui layar.
Saran Strategis Hadapi Gempuran Digital
Sebagai langkah preventif, Maudy mengangkat sejumlah rekomendasi yang diusulkan dalam buku tersebut.
Salah satunya adalah menunda pemberian ponsel pintar hingga anak berusia minimal 14 tahun, serta membatasi akses media sosial hingga usia 16 tahun.
Langkah ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional sebelum terpapar dunia digital secara penuh.
Selain itu, kebiasaan sederhana dalam keluarga juga dapat memberikan dampak besar.
Misalnya, menerapkan aturan makan tanpa gawai, meluangkan waktu untuk berbincang secara langsung, atau melakukan aktivitas bersama seperti berjalan sore.
Hal-hal kecil tersebut dinilai mampu memperkuat koneksi emosional dalam keluarga yang mulai tergerus oleh teknologi.
Baca Juga: Indonesia Gagal Pertahankan Gelar, Tumbang Tipis dari Thailand di Final Piala AFF Futsal 2026
Pentingnya Keseimbangan di Era Digital
Ulasan Maudy Ayunda tentang The Anxious Generation menjadi pengingat bahwa teknologi, meski membawa banyak manfaat, juga memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai.
Keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan mental, khususnya bagi generasi muda yang tumbuh di era serba terkoneksi.
Dengan kesadaran yang lebih tinggi dari orang tua, pendidik, dan masyarakat, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh dengan lebih sehat—baik secara mental maupun sosial.
Editor : Muhammad Azlan Syah