RADARBONANG.ID – Dunia digital kini telah berkembang jauh melampaui sekadar ruang berbagi foto atau video singkat.
Bagi Sadam JPG, seorang konten kreator yang telah menjelajahi 61 negara, perjalanan keliling dunia adalah ruang belajar paling nyata tentang kehidupan.
Melalui konten-konten yang kerap viral, ia tidak hanya menampilkan keindahan destinasi, tetapi juga membagikan sudut pandang mendalam tentang arti kemanusiaan, perjuangan, dan mimpi.
Baca Juga: Elon Musk Siap Rilis XChat, Aplikasi Pesaing WhatsApp dengan Fitur Privasi Canggih
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Suara Berkelas, Sadam mengungkap bagaimana perjalanan panjangnya membentuk cara berpikir dan mentalitasnya.
Baginya, traveling bukan tentang gaya hidup mewah atau sekadar pamer pencapaian, melainkan proses memahami dunia secara langsung—tanpa filter dan tanpa prasangka.
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Sadam menegaskan bahwa pengalaman di lapangan seringkali memberikan pelajaran yang tidak bisa didapatkan dari buku atau media sosial.
Ia menyebut, melihat dunia secara langsung membuat seseorang lebih terbuka terhadap perbedaan dan lebih bijak dalam menilai suatu tempat maupun budaya.
“Kalau ingin melihat dunia yang sebenarnya, pergilah traveling. Kalau ingin melihat dunia yang sudah diframing, bacalah berita,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa realitas di lapangan kerap berbeda dengan persepsi yang dibentuk oleh informasi yang beredar.
Dengan melihat langsung, seseorang bisa memahami bahwa setiap tempat memiliki cerita yang jauh lebih kompleks dan manusiawi.
Belajar Kemanusiaan dari Sumba Hingga Uzbekistan
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Sadam justru terjadi di Indonesia, tepatnya di Sumba pada tahun 2020.
Saat itu, ia mengalami kendala berupa ban motor bocor di tengah perjalanan. Namun, situasi tersebut justru membawanya pada pengalaman tak terlupakan.
Alih-alih merasa kesulitan, ia justru disambut hangat oleh warga setempat. Bahkan, ia diangkat sebagai bagian dari keluarga adat.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa kebaikan manusia masih sangat kuat, terutama di tempat-tempat yang jarang tersorot.
Pengalaman serupa juga ia rasakan saat mengunjungi Uzbekistan. Meski negara tersebut baru terbuka untuk wisatawan dalam beberapa tahun terakhir, keramahan masyarakatnya meninggalkan kesan mendalam.
Ia sering diajak masuk ke rumah warga, disuguhi teh dan makanan tanpa diminta imbalan.
Hal-hal sederhana seperti itu, menurut Sadam, menjadi bukti bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat baik.
Hanya saja, kondisi dan lingkungan terkadang memengaruhi bagaimana sifat tersebut muncul.
Perpaduan Latar Belakang yang Membentuk Karakter
Kesuksesan Sadam sebagai konten kreator tidak datang secara instan. Ia memiliki latar belakang yang unik, mulai dari mantan atlet sepak bola nasional kelompok usia hingga menjadi guru sejarah dan sosiologi.
Selain itu, ia juga merupakan lulusan Universitas Indonesia.
Pengalaman sebagai atlet membentuk kedisiplinan dan mental tangguh, sementara latar belakang akademis memberinya kemampuan untuk menganalisis dan menyampaikan cerita dengan sudut pandang yang lebih dalam. Hal ini terlihat dari gaya kontennya yang “raw” atau apa adanya, namun tetap sarat makna.
“Manusia itu butuh proses. Tidak mungkin langsung sampai tujuan tanpa melalui tahapan,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan bahwa dirinya sudah terbiasa bekerja sejak usia 13 tahun untuk membantu keluarga. Pengalaman hidup tersebut menjadi fondasi kuat yang membentuk karakter dan ketekunannya hingga saat ini.
Mimpi Tanpa Batas untuk Generasi Muda
Bagi Sadam, mimpi adalah arah yang menuntun seseorang dalam hidup.
Ia membagi mimpinya menjadi dua kategori, yakni mimpi jangka pendek yang ditargetkan setiap tahun dan mimpi jangka panjang dalam lima tahun ke depan.
Salah satu mimpi besarnya adalah menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil berkeliling dunia menggunakan paspor biasa secara penuh.
Mimpi tersebut bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai simbol bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjelajah dunia.
Ia juga mengingat pengalaman masa lalu ketika ada yang meragukan mimpinya. Bahkan, seorang guru pernah menyarankan agar ia tidak bermimpi terlalu tinggi.
Namun, bagi Sadam, itu adalah saran terburuk yang pernah ia terima.
“Jangan pernah batasi mimpi seseorang. Tidak ada yang tahu sejauh apa manusia bisa berkembang,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat kuat bagi generasi muda, termasuk di Indonesia, bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang melampaui batas yang mereka bayangkan sendiri.
Inspirasi untuk Melangkah Lebih Jauh
Kisah Sadam JPG bukan sekadar cerita tentang perjalanan keliling dunia, tetapi juga tentang keberanian untuk bermimpi dan konsistensi dalam mengejarnya.
Baca Juga: Indonesia Gagal Pertahankan Gelar, Tumbang Tipis dari Thailand di Final Piala AFF Futsal 2026
Ia menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah penentu akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh.
Melalui pengalaman dan kontennya, ia mengajak banyak orang untuk berani keluar dari zona nyaman, melihat dunia secara langsung, dan membangun perspektif yang lebih luas.
Di tengah era digital yang penuh distraksi, pesan sederhana tentang mimpi dan proses justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Editor : Muhammad Azlan Syah