Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

7 Kebiasaan Belanja yang Tampak Hemat, Tapi Justru Menguras Uang dalam Jangka Panjang Menurut Psikologi

Cicik Nur Latifah • Minggu, 12 April 2026 | 07:49 WIB
Kebiasaan belanja yang terlihat hemat bisa jadi justru membuat pengeluaran semakin besar tanpa disadari (Freepik/BalashMirzabey)
Kebiasaan belanja yang terlihat hemat bisa jadi justru membuat pengeluaran semakin besar tanpa disadari (Freepik/BalashMirzabey)

 

RADARBONANG.ID – Banyak orang merasa sudah berhemat saat berbelanja.

Diskon besar diburu, barang murah dipilih, hingga promo dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Namun dalam perspektif psikologi perilaku konsumen, tidak semua keputusan yang terlihat hemat benar-benar menguntungkan.

Justru, beberapa kebiasaan ini diam-diam membuat pengeluaran semakin besar dalam jangka panjang.

Hal ini terjadi karena otak manusia sering dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, serta ilusi penghematan yang menyesatkan.

Baca Juga: Salah Tulis Komentar? Instagram Kini Sediakan Opsi Edit

Berikut tujuh kebiasaan belanja yang tampak bijak, tetapi sebenarnya bisa merugikan:

1. Terlalu Tergoda Diskon Besar

Label seperti “Diskon 50%” sering membuat seseorang merasa mendapat keuntungan besar.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai anchoring effect, di mana harga awal dijadikan patokan sehingga harga diskon terasa jauh lebih murah.

Akibatnya, seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dan total pengeluaran justru meningkat.

2. Membeli Banyak karena Promo

Promo seperti “beli 2 gratis 1” sering memicu pembelian berlebihan.

Hal ini berkaitan dengan loss aversion, yaitu rasa takut kehilangan kesempatan.

Padahal, barang yang dibeli belum tentu digunakan.

Dampaknya, uang terpakai untuk stok yang tidak perlu, bahkan bisa berakhir terbuang.

3. Selalu Memilih yang Paling Murah

Memilih barang termurah memang terasa hemat di awal. Namun, kualitas yang rendah sering membuat barang cepat rusak.

Fenomena ini disebut false economy, yaitu penghematan semu yang justru membuat pengeluaran lebih besar karena harus membeli ulang.

4. Tergoda Gratis Ongkir

Promo gratis ongkir sering membuat seseorang menambah belanja agar memenuhi minimum pembelian.

Secara psikologis, ongkir dianggap sebagai kerugian yang harus dihindari.

Padahal, tambahan barang yang dibeli bisa lebih mahal dari biaya kirim itu sendiri.

5. Belanja Saat Emosi

Belanja sering dijadikan cara mengatasi stres atau memperbaiki suasana hati.

Hal ini berkaitan dengan sistem dopamin di otak yang memberikan rasa senang sementara.

Namun, keputusan menjadi impulsif dan tidak rasional.

Akibatnya, barang yang dibeli tidak benar-benar dibutuhkan dan hanya memberi kepuasan sesaat.

6. Terjebak Program Poin dan Cashback

Program loyalitas seperti poin dan cashback membuat belanja terasa lebih menguntungkan.

Namun, banyak orang justru berbelanja lebih sering demi mengejar reward tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai gamification effect, di mana belanja terasa seperti permainan yang mendorong konsumsi berlebihan.

7. Takut Kehabisan (FOMO)

Istilah seperti “stok terbatas” atau “flash sale” memicu fear of missing out (FOMO).

Perasaan ini membuat seseorang terburu-buru mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.

Akibatnya, pembelian sering disesali karena tidak benar-benar dibutuhkan.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Semua kebiasaan ini berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang cenderung mencari kepuasan instan dan menghindari kerugian.

Tanpa disadari, keputusan belanja sering dipengaruhi emosi dan persepsi, bukan kebutuhan nyata.

Cara Belanja Lebih Bijak

Agar tidak terjebak dalam “hemat semu”, ada beberapa prinsip sederhana yang bisa diterapkan:

Baca Juga: Gianpiero Lambiase Resmi Tinggalkan Red Bull Racing, Gabung McLaren Mulai 2028

Tidak semua kebiasaan yang terlihat hemat benar-benar menguntungkan.

Banyak di antaranya hanyalah ilusi yang memanfaatkan cara kerja psikologis manusia.

Hemat yang sesungguhnya bukan tentang membeli murah, tetapi tentang membuat keputusan yang tepat dan sadar.

Dengan memahami pola ini, seseorang dapat mengelola keuangan dengan lebih bijak dan menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kebiasaan belanja boros #psikologi konsumen #cara hemat belanja #bias kognitif belanja #tips keuangan pribadi