Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Parenting Check! Cara Didik Anakmu Masuk Tipe yang Mana? Ini 6 Gaya Parenting yang Lagi “Ngegas” di 2026

Siska Yudianti • Jumat, 10 April 2026 | 07:47 WIB
Setiap cara mendidik anak membentuk masa depan mereka, sudah tahu gaya parenting Anda termasuk yang mana? (Ilustrasi)
Setiap cara mendidik anak membentuk masa depan mereka, sudah tahu gaya parenting Anda termasuk yang mana? (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID – Cara Anda berbicara, memberi aturan, hingga merespons tangisan anak ternyata bukan sekadar kebiasaan sehari-hari.

Tanpa disadari, semua itu adalah bagian dari pola asuh yang membentuk masa depan anak.

Dalam dunia psikologi, gaya parenting memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi, mental, hingga kemampuan sosial anak.

Namun, banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik tanpa benar-benar memahami gaya parenting apa yang sebenarnya mereka terapkan.

Di era modern—terutama dengan pengaruh generasi muda—tren parenting juga mengalami perubahan.

Baca Juga: Google Chrome Akhirnya Hadirkan Tab Vertikal di Desktop, Navigasi Banyak Tab Jadi Lebih Mudah

Kini, pendekatan menjadi lebih terbuka, empatik, dan komunikatif, meski tetap menghadirkan tantangan tersendiri.

Lalu, Anda termasuk tipe yang mana? Berikut enam gaya parenting yang paling umum di 2026 beserta dampaknya.

Authoritarian Parenting: “Pokoknya Harus Nurut!”

Gaya parenting ini menekankan pada disiplin tinggi dan kepatuhan tanpa banyak ruang untuk diskusi. Orang tua menjadi sosok yang dominan, sementara anak diharapkan mengikuti aturan tanpa bertanya.

Contoh yang sering muncul seperti larangan membantah atau keharusan mengikuti perintah tanpa penjelasan.

Dampaknya, anak biasanya tumbuh disiplin dan terstruktur. Namun di sisi lain, mereka bisa kurang percaya diri, takut mengambil keputusan, dan kesulitan mengekspresikan emosi. Dalam jangka panjang, anak bisa menjadi terlalu penurut atau justru memberontak.

Permissive Parenting: “Ya Udah, Terserah Kamu”

Berbanding terbalik dengan authoritarian, gaya ini memberikan kebebasan penuh kepada anak. Orang tua cenderung menghindari konflik dan lebih mengutamakan kebahagiaan anak.

Sekilas terlihat hangat dan santai, tetapi tanpa batasan yang jelas, anak bisa kesulitan memahami aturan.

Dampaknya, anak cenderung kurang disiplin, impulsif, dan sulit mengontrol diri. Kebebasan tanpa arahan justru bisa membuat anak kehilangan rasa aman.

Uninvolved Parenting: Minim Keterlibatan

Gaya parenting ini sering tidak disadari. Orang tua hadir secara fisik, tetapi minim keterlibatan emosional. Interaksi terbatas, dan kebutuhan anak hanya dipenuhi secara dasar.

Kondisi ini sering terjadi karena kesibukan, tekanan pekerjaan, atau kurangnya kesadaran akan pentingnya hubungan emosional.

Dampaknya cukup serius. Anak bisa merasa tidak diperhatikan, mengalami kesulitan emosional, dan kesulitan membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Authoritative Parenting: Tegas Tapi Hangat

Gaya ini sering dianggap sebagai yang paling ideal. Orang tua tetap menetapkan aturan, tetapi juga terbuka terhadap komunikasi dan diskusi.

Anak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, namun tetap diarahkan dengan jelas.

Dampaknya sangat positif. Anak cenderung memiliki rasa percaya diri yang tinggi, mandiri, serta mampu mengelola emosi dengan baik. Mereka merasa dihargai sekaligus memiliki batasan yang jelas.

Helicopter Parenting: Terlalu Melindungi

Orang tua dengan gaya ini cenderung terlalu terlibat dalam kehidupan anak. Mereka ingin memastikan anak selalu aman, bahkan sampai mengontrol banyak aspek kehidupan anak.

Mulai dari memilihkan keputusan hingga ikut campur dalam masalah kecil, semuanya dilakukan demi melindungi anak.

Namun, dampaknya anak bisa menjadi kurang mandiri, takut mencoba hal baru, dan terlalu bergantung pada orang tua. Niat baik ini justru bisa menghambat perkembangan kemandirian anak.

Gentle Parenting: Lembut dan Empatik

Gaya ini semakin populer di kalangan orang tua muda. Fokusnya adalah memahami emosi anak, membangun koneksi, dan menghindari hukuman keras.

Pendekatan dilakukan melalui komunikasi, empati, dan validasi perasaan anak.

Dampaknya, anak tumbuh dengan kesadaran emosi yang baik, kemampuan komunikasi yang kuat, serta empati tinggi. Namun, penting diingat bahwa gentle parenting tetap membutuhkan batasan agar tidak berubah menjadi terlalu permisif.

Parenting Bukan Soal Hitam Putih

Pada kenyataannya, tidak ada orang tua yang sepenuhnya berada dalam satu kategori. Banyak yang menggabungkan beberapa gaya sekaligus, tergantung situasi dan kondisi.

Misalnya, tegas dalam hal pendidikan, tetapi lembut saat anak menghadapi masalah emosional. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar.

Yang terpenting adalah kesadaran. Dengan memahami gaya parenting yang diterapkan, orang tua bisa mengurangi dampak negatif, memperkuat hubungan dengan anak, serta membantu mereka tumbuh secara optimal.

Fakta yang Sering Terlewat

Banyak orang tua fokus pada apa yang diajarkan, tetapi lupa bahwa cara mengajarkan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.

Anak tidak hanya mendengar, tetapi juga meniru. Cara orang tua marah, berbicara, hingga menunjukkan kasih sayang akan membentuk cara anak memahami emosi dan hubungan.

Baca Juga: WALHI Dorong UMKM Pakai Daun Pisang dan Kertas di Tengah Harga Plastik Melonjak

Kesimpulan: Belajar Lebih Penting dari Sempurna

Parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang kemauan untuk terus belajar, refleksi, dan berubah demi kebaikan anak.

Setiap interaksi kecil hari ini memiliki peran besar dalam membentuk masa depan mereka.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya sederhana: dari enam gaya parenting tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?

Editor : Muhammad Azlan Syah
#gaya parenting 2026 #jenis pola asuh anak #authoritarian parenting #gentle parenting #Parenting gen z