Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Hidup Terlalu Ramai, Pikiran Jadi Lelah: Fenomena Overstimulation Syndrome yang Diam-Diam Menggerogoti Gen Z

Arinie Khaqqo • Kamis, 9 April 2026 | 15:22 WIB
Overstimulation syndrome membuat pikiran lelah akibat terlalu banyak rangsangan sehingga penting memberi jeda di tengah dunia yang serba cepat (Ilustrasi)
Overstimulation syndrome membuat pikiran lelah akibat terlalu banyak rangsangan sehingga penting memberi jeda di tengah dunia yang serba cepat (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID – Pernah merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat? Atau tiba-tiba ingin menjauh dari notifikasi, suara, dan interaksi sosial? Bisa jadi itu tanda Overstimulation Syndrome, kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan.

Fenomena ini semakin umum terjadi di era digital, terutama di kalangan Gen Z yang hidup di tengah arus informasi tanpa henti.

Baca Juga: Diam-Diam Mematikan Stimulus Anak! Kalimat ‘Nanti Juga Bisa Sendiri’ Ternyata Lebih Berbahaya dari Screen Time

Dunia yang Tak Pernah Benar-Benar Sepi

Setiap hari, otak dipenuhi berbagai stimulus—mulai dari notifikasi pesan, media sosial, video pendek, musik, hingga tuntutan pekerjaan atau tugas.

Bahkan saat beristirahat, banyak orang tetap terpapar layar. Akibatnya, otak tidak pernah benar-benar mendapatkan jeda.

Alih-alih pulih, pikiran justru terus bekerja memproses informasi. Inilah yang kemudian memicu kelelahan mental yang sering tidak disadari.

Tanda-Tanda Overstimulation yang Sering Diabaikan

Kondisi ini sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, ada beberapa tanda yang menunjukkan otak sudah mengalami overload:

Jika dialami terus-menerus, kondisi ini bisa berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.

Gen Z dan Tekanan untuk Selalu “Online”

Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan karena tumbuh di lingkungan digital yang serba cepat.

Informasi datang tanpa henti, dan ada dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru.

Fenomena FOMO memperkuat kebiasaan ini. Banyak orang merasa harus terus online agar tidak ketinggalan tren.

Ironisnya, aktivitas yang awalnya untuk hiburan justru menjadi sumber kelelahan mental baru.

Dampak yang Tidak Bisa Dianggap Sepele

Jika tidak dikelola, overstimulation dapat memicu berbagai masalah, seperti:

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental secara menyeluruh.

Cara Sederhana Mengurangi Overstimulation

Menghindari stimulus sepenuhnya mungkin sulit. Namun, ada langkah kecil yang bisa dilakukan untuk memberi ruang bagi pikiran:

Langkah ini membantu otak kembali ke kondisi yang lebih seimbang.

Tren Baru: Kembali ke Kesederhanaan

Kesadaran akan overstimulation mulai melahirkan tren gaya hidup baru. Aktivitas seperti silent walking, journaling, hingga hidup minimalis kini semakin diminati.

Semua tren ini memiliki satu tujuan: memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi keterampilan yang semakin penting.

Baca Juga: Anak Jadi Konten Sejak Bayi? Fenomena ‘Sharenting’ yang Diam-Diam Bisa Berdampak Panjang

Ketenangan Jadi “Kemewahan” Baru

Overstimulation syndrome menjadi sinyal bahwa manusia hidup di era yang penuh rangsangan. Jika tidak disadari, kondisi ini dapat menguras energi mental secara perlahan.

Mungkin solusi terbaik bukan menambah aktivitas baru, melainkan belajar berhenti—meski hanya beberapa menit.

Karena di dunia yang tidak pernah benar-benar sunyi, ketenangan adalah sesuatu yang harus diupayakan, bukan sekadar ditunggu.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#overstimulation syndrome #kelelahan mental #Gen Z #burnout #fomo