RADARBONANG.ID – Pola asuh anak terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.
Jika dulu orang tua identik dengan ketegasan yang kerap dibarengi bentakan, kini generasi muda mulai menggeser pendekatan tersebut ke arah yang lebih empatik.
Muncul tren “No Toxic Parenting”, gaya asuh ala Gen Z yang disebut lebih “waras” karena menempatkan kesehatan mental anak sebagai prioritas.
Namun, benarkah pendekatan ini menjadi kunci anak tumbuh lebih bahagia, atau justru berisiko terlalu permisif?
Fenomena ini semakin ramai diperbincangkan, terutama di media sosial, di mana orang tua muda mulai sadar bahwa membesarkan anak bukan soal kuasa, melainkan soal memahami.
Dari Perintah ke Pendengaran
Perubahan paling mencolok terlihat dari cara komunikasi dalam keluarga.
Jika dulu anak dituntut patuh tanpa banyak bertanya, kini pendekatannya beralih menjadi lebih terbuka.
Kalimat seperti “pokoknya harus nurut” mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, orang tua mencoba memahami emosi anak dengan pendekatan yang lebih lembut.
Ungkapan seperti “kamu lagi sedih ya?” atau “ceritakan ke mama” menjadi bentuk komunikasi baru yang menekankan pentingnya validasi perasaan.
Perubahan ini tidak muncul begitu saja. Banyak dari generasi ini tumbuh dalam pola asuh keras yang minim empati, sehingga mereka berusaha memutus rantai tersebut.
Apa Itu Toxic Parenting?
Toxic parenting tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Justru, bentuk yang sering dianggap sepele bisa berdampak besar dalam jangka panjang.
Beberapa contoh yang kini mulai dihindari antara lain membandingkan anak, mengabaikan perasaan mereka, mengontrol secara berlebihan tanpa komunikasi, hingga memberi label negatif.
Dampaknya tidak main-main. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini berisiko mengalami Rendah Diri, kesulitan mengelola emosi, hingga trauma yang terbawa hingga dewasa.
Gaya Asuh Gen Z: Empati dengan Batas
Meski sering dianggap terlalu lembut, gaya asuh Gen Z sebenarnya memiliki prinsip yang cukup kuat.
Bukan sekadar memanjakan, tetapi menyeimbangkan empati dengan batasan.
Pertama, validasi emosi anak. Anak diperbolehkan merasa marah, sedih, atau kecewa, tanpa langsung dihakimi.
Kedua, komunikasi dua arah. Anak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, bukan hanya mendengar perintah.
Ketiga, disiplin tanpa kekerasan. Hukuman fisik mulai ditinggalkan dan diganti dengan konsekuensi logis.
Keempat, pendekatan Mindful Parenting, di mana orang tua lebih sadar terhadap ucapan dan tindakan mereka, terutama saat emosi memuncak.
Kenapa Disebut Lebih “Waras”?
Istilah “waras” muncul karena pendekatan ini dinilai lebih sehat secara psikologis.
Anak tidak hanya dituntut patuh, tetapi juga diajarkan memahami diri sendiri.
Gaya ini dianggap mampu mendukung kesehatan mental anak, membangun hubungan yang lebih dekat dengan orang tua, serta mengurangi risiko trauma jangka panjang.
Anak tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga memiliki kestabilan emosi yang lebih baik.
Kritik: Terlalu Lembek?
Di sisi lain, tidak sedikit yang mengkritik gaya asuh ini. Ada anggapan bahwa pendekatan terlalu empatik dapat membuat anak menjadi kurang disiplin atau terlalu bebas.
Sebagian juga menilai orang tua bisa kehilangan wibawa jika terlalu sering berdiskusi tanpa batas.
Namun, banyak ahli menekankan bahwa masalahnya bukan pada empati, melainkan pada keseimbangan.
Empati tanpa batas tetap berpotensi menimbulkan masalah jika tidak disertai ketegasan.
Kunci Utama: Kesadaran Orang Tua
Pada akhirnya, bukan soal generasi mana yang paling benar. Inti dari parenting adalah kesadaran orang tua dalam memahami kebutuhan anak.
Kemauan untuk belajar, kemampuan mengelola emosi, serta konsistensi dalam mendidik menjadi faktor utama keberhasilan pola asuh.
Karena satu hal yang pasti, luka emosional dari masa kecil dapat bertahan lebih lama dibandingkan yang dibayangkan.
Baca Juga: Mantan Insinyur Meta Diselidiki Polisi Inggris, Diduga Unduh 30 Ribu Foto Pribadi Pengguna Facebook
Parenting Bukan Soal Sempurna
Gaya asuh Gen Z mungkin belum sempurna. Namun, ada satu hal yang patut diapresiasi: keberanian untuk berubah.
Mengakui bahwa pola lama tidak selalu benar adalah langkah awal menuju generasi yang lebih sehat—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.
Di tengah perubahan zaman, parenting bukan lagi tentang menjadi orang tua yang paling berkuasa, melainkan yang paling sadar.
Editor : Muhammad Azlan Syah