Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sering Overthinking? Ini 4 Pola Pikir Destruktif yang Diam-Diam Memperburuk Kondisi Menurut Psikologi

Cicik Nur Latifah • Rabu, 8 April 2026 | 13:00 WIB
Overthinking bukan cuma soal pikiran berlebihan—ada pola destruktif di baliknya. Kenali sebelum makin menguasai hidupmu. (Ilustrasi)
Overthinking bukan cuma soal pikiran berlebihan—ada pola destruktif di baliknya. Kenali sebelum makin menguasai hidupmu. (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID — Overthinking merupakan kondisi ketika pikiran terus berputar tanpa henti, membuat seseorang terjebak dalam skenario terburuk atau penyesalan masa lalu.

Dalam kajian Psikologi, kondisi ini tidak hanya memicu kecemasan, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan mental jika terjadi secara terus-menerus.

Mengutip Verywell Mind, salah satu faktor yang membuat overthinking terasa begitu melelahkan adalah munculnya pola pikir destruktif.

Pola ini membuat seseorang sulit berpikir jernih dan terus terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang berulang.

Berikut empat pola pikir destruktif yang paling sering muncul saat overthinking:

Baca Juga: Pernah Dengar Sleepmaxxing? Ini 5 Alasan Kenapa Otak Butuh Istirahat Berkualitas

1. Catastrophizing: Membayangkan Hal Terburuk

Catastrophizing adalah pola pikir yang membuat seseorang melihat masalah kecil seolah menjadi bencana besar.

Pikiran langsung melompat ke kemungkinan terburuk, meskipun belum tentu terjadi.

Dalam kondisi ini, otak kehilangan kemampuan untuk menilai situasi secara rasional.

Akibatnya, seseorang merasa kewalahan dan sulit mencari solusi. Jika dibiarkan, pola ini dapat memicu gangguan seperti Anxiety Disorder hingga insomnia.

2. All-or-Nothing Thinking: Melihat Segalanya Hitam Putih

Pola pikir ini membuat seseorang menilai segala sesuatu secara ekstrem—benar atau salah, sukses atau gagal, tanpa melihat kemungkinan di antaranya.

Contohnya, ketika seseorang merasa bahwa jika tidak menjadi yang terbaik, maka dirinya gagal sepenuhnya. Padahal, dalam realitas, banyak situasi memiliki spektrum yang luas.

Pola ini membuat seseorang lebih mudah overthinking karena standar yang digunakan terlalu kaku dan tidak realistis.

3. Overgeneralizing: Menarik Kesimpulan Berlebihan

Overgeneralizing terjadi ketika seseorang mengambil satu pengalaman negatif dan menjadikannya sebagai kesimpulan besar tentang hidupnya.

Misalnya, satu kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa dirinya akan selalu gagal.

Pola ini sebenarnya merupakan cara otak untuk melindungi diri dari risiko, tetapi justru memperbesar rasa takut.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih pesimis dan enggan mencoba hal baru.

4. Discounting the Positive: Mengabaikan Hal Baik

Dalam pola ini, seseorang cenderung mengabaikan pencapaian atau hal positif yang telah diraih, dan hanya fokus pada kekurangan.

Setiap keberhasilan dianggap tidak berarti, sementara kesalahan kecil dibesar-besarkan.

Hal ini memperkuat pikiran negatif dan membuat overthinking semakin sulit dihentikan.

Mengapa Pola Ini Berbahaya?

Keempat pola pikir ini menciptakan siklus yang saling memperkuat. Pikiran negatif memicu kecemasan, kecemasan memicu overthinking, dan overthinking kembali memperkuat pola pikir negatif.

Jika tidak disadari, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri, mengganggu produktivitas, hingga berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.

Cara Mengatasinya dengan Lebih Sehat

Kabar baiknya, pola pikir destruktif bisa diubah. Salah satu teknik yang direkomendasikan adalah cognitive reframing, yaitu mengubah cara pandang terhadap suatu situasi agar lebih rasional dan seimbang.

Misalnya, daripada langsung berpikir “ini akan gagal,” cobalah mengganti dengan “ini mungkin sulit, tapi masih ada peluang berhasil.”

Selain itu, beberapa langkah lain yang bisa dilakukan antara lain:

Baca Juga: Dugaan Suap Bea Cukai, Bos Rokok HS M Suryo Bakal Dipanggil Ulang KPK

Jika overthinking sudah terasa mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional seperti psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan, tetapi sering kali dipicu oleh pola pikir yang tidak sehat. Dengan mengenali empat pola destruktif ini, seseorang dapat mulai mengambil langkah untuk mengelola pikiran dengan lebih baik.

Pada akhirnya, mengubah cara berpikir adalah kunci untuk keluar dari lingkaran overthinking dan membangun kesehatan mental yang lebih stabil.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#overthinking adalah #pola pikir negatif psikologi #catastrophizing artinya #cognitive reframing #cara mengatasi overthinking