RADARBONANG.ID – Memasuki dunia kerja kerap menjadi fase yang membingungkan, terutama bagi generasi muda seperti Gen Z.
Banyaknya pilihan karier, ditambah derasnya arus informasi dan opini yang saling bertentangan, membuat tidak sedikit orang merasa terjebak dalam ambiguitas.
Menanggapi fenomena ini, career coach sekaligus leadership trainer, Ajeng Asmarandhany, menekankan pentingnya membangun kesadaran diri sebagai fondasi utama dalam menentukan arah karier.
Baca Juga: Chrome Siapkan Fitur Lazy Loading untuk Video dan Audio, Halaman Web Bisa Lebih Cepat
Ia menyebut, kebingungan sering kali muncul bukan karena kurangnya peluang, tetapi karena terlalu banyak “suara luar” yang memengaruhi keputusan.
Kompas Karier Ada di Dalam Diri
Menurut Ajeng, setiap individu sejatinya memiliki “kompas internal” yang dapat menjadi panduan dalam menentukan pilihan hidup.
Namun, kompas ini sering kali terabaikan karena seseorang lebih fokus mendengarkan ekspektasi dari lingkungan sekitar.
“Di dunia modern dengan banyak informasi dan opini yang kontradiktif, sangat penting untuk look within. Kompas untuk memilih itu ada di dalam, karena kalau terus mendengar dari luar, akan terasa membingungkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tanpa kesadaran diri yang kuat, seseorang cenderung menjalani karier hanya demi memenuhi standar sosial—seperti jabatan tinggi atau pengakuan eksternal—tanpa benar-benar memahami apakah hal tersebut sesuai dengan nilai hidupnya.
Akibatnya, pencapaian yang diraih sering kali terasa hampa dan tidak memberikan kepuasan jangka panjang.
Ketika Ambisi Tidak Lagi Bermakna
Ajeng juga membagikan pengalaman pribadinya yang menjadi titik balik dalam memaknai hidup.
Ia kehilangan kakek dan neneknya dalam waktu yang berdekatan saat pandemi.
Peristiwa tersebut menyadarkannya bahwa waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas.
Ia mulai mempertanyakan kembali makna kerja keras yang selama ini dijalani, terutama ketika harus mengorbankan waktu bersama orang-orang terdekat.
“Selama ini saya merasa kerja itu sudah hebat, tapi ternyata waktu saya justru habis untuk hal-hal yang tidak terlalu bermakna,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Ajeng mulai mendesain ulang gaya hidupnya secara lebih sadar dan terarah.
Ia menekankan bahwa definisi sukses seharusnya tidak hanya diukur dari materi atau jabatan, tetapi juga dari keseimbangan antara waktu, energi, dan kualitas hidup.
Pentingnya Resiliensi yang Sehat
Dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang penuh tekanan, Ajeng menilai resiliensi sebagai kemampuan penting yang harus dimiliki.
Namun, ia mengingatkan bahwa resiliensi bukan berarti memaksakan diri untuk terus bertahan dalam kondisi yang tidak sehat.
Resiliensi yang tepat adalah kemampuan untuk bangkit setelah jatuh, sekaligus memahami kapan harus berhenti dan mencari bantuan.
Dengan demikian, seseorang tidak terjebak dalam siklus kelelahan atau burnout yang berkepanjangan.
Berani Mengubah Arah (Pivot)
Selain itu, Ajeng juga menekankan bahwa tidak ada salahnya untuk mengubah arah karier jika dirasa sudah tidak selaras dengan tujuan hidup.
Banyak orang takut untuk memulai ulang karena khawatir dianggap gagal.
Padahal, menurutnya, keberanian untuk melakukan pivot justru menunjukkan kedewasaan dalam mengambil keputusan.
“Kalau ternyata kita sadar bahwa ini bukan jalan yang tepat, tidak apa-apa untuk berubah arah. Kita tidak akan tahu sebelum mencoba,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa melepaskan keterikatan terhadap hasil tertentu juga penting agar seseorang lebih fleksibel dalam menjalani proses.
Baca Juga: Penyebab Perokok Sulit Berhenti Menurut Ilmiah, Ini Penjelasan Lengkapnya
Menemukan Arah di Tengah Kebisingan
Di tengah dunia yang penuh distraksi dan tekanan sosial, pesan utama Ajeng menjadi pengingat bahwa kejelasan arah hidup tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri.
Dengan membangun kesadaran diri, memahami nilai hidup, serta berani mengambil keputusan yang autentik, seseorang dapat keluar dari ambiguitas karier yang membingungkan.
Pada akhirnya, perjalanan karier bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga tentang memahami siapa diri kita dan apa yang benar-benar bermakna dalam hidup. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah