RADARBONANG.ID – Kekayaan sering kali diasosiasikan dengan kenyamanan hidup dan kebebasan finansial.
Namun dalam kajian psikologi sosial, kondisi tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan sikap empati dan kerendahan hati.
Di kalangan masyarakat menengah atas, terdapat kecenderungan munculnya perilaku toxic yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
Rasa aman secara finansial dapat membentuk pola pikir tertentu yang berpengaruh pada cara berinteraksi dengan orang lain.
Jika tidak dikendalikan, perilaku ini bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menciptakan jarak emosional dan menurunkan kualitas kehidupan secara keseluruhan.
Baca Juga: Joachim Löw Jadi Pelatih Ghana? Negosiasi Menguat Jelang Piala Dunia 2026
Mengacu pada Geediting, berikut tujuh perilaku toxic yang kerap ditemukan:
1. Memperlakukan Pekerja Layanan Seperti Tidak Terlihat
Sebagian individu memperlakukan pekerja layanan—seperti pelayan restoran atau staf hotel—seolah hanya bagian dari sistem, bukan manusia. Mereka kerap menghindari kontak mata, berbicara dengan nada merendahkan, hingga meluapkan emosi atas hal yang bukan tanggung jawab pekerja.
Perilaku ini mencerminkan bentuk dehumanisasi yang dapat melukai martabat orang lain dan memperkuat kesenjangan sosial.
2. “Membeli” Anak dari Konsekuensi
Dalam beberapa kasus, kesalahan anak—baik di bidang akademik maupun hukum—diselesaikan dengan kekuatan finansial. Mulai dari menyewa pengacara mahal hingga menyelesaikan masalah secara diam-diam.
Dampaknya, anak tidak belajar tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa uang dapat menyelesaikan segala hal, yang pada akhirnya membentuk karakter yang rapuh.
3. Menjadikan Filantropi sebagai Alat Kontrol
Kegiatan amal atau donasi yang seharusnya menjadi bentuk kepedulian sosial, terkadang berubah menjadi alat untuk mendapatkan pengaruh. Misalnya, meminta perlakuan khusus atau menghindari kritik publik.
Alih-alih tulus, filantropi justru menjadi transaksi demi menjaga citra dan kekuasaan.
4. Menormalkan Budaya Kerja Berlebihan
Budaya kerja ekstrem sering dianggap sebagai simbol dedikasi tinggi. Padahal, dalam banyak kasus, hal ini bisa mengarah pada eksploitasi tenaga kerja.
Ironisnya, mereka yang mendorong budaya ini sering kali memiliki privilese untuk beristirahat, sementara karyawan tidak memiliki kebebasan yang sama.
5. Menyebarkan Mitos “Kerja Keras”
Banyak individu mengklaim kesuksesan mereka murni hasil kerja keras, tanpa mengakui faktor lain seperti koneksi, dukungan keluarga, atau warisan.
Narasi ini menciptakan standar yang tidak realistis dan dapat membuat orang lain merasa gagal, meskipun berada dalam kondisi yang sangat berbeda.
6. Mengorbankan Komunitas demi Keuntungan
Fenomena seperti gentrifikasi sering dibungkus dengan istilah pembangunan. Namun di balik itu, terdapat dampak berupa penggusuran masyarakat lokal dan hilangnya identitas komunitas.
Keuntungan ekonomi sering kali menjadi prioritas, sementara dampak sosial diabaikan.
7. Memainkan Sistem demi Kepentingan Pribadi
Sebagian individu memanfaatkan celah dalam sistem publik, seperti subsidi atau regulasi pajak, untuk keuntungan pribadi. Sementara itu, kontribusi terhadap masyarakat tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Baca Juga: Candi Cetho: Candi di Atas Awan Peninggalan Majapahit yang Sarat Nilai Spiritual
Praktik ini memperlebar ketimpangan dan membebankan risiko kepada masyarakat luas.
Kesimpulan
Perilaku-perilaku tersebut menunjukkan bahwa kekayaan tanpa kesadaran sosial dapat membawa dampak negatif yang luas.
Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari jumlah materi yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dan berkontribusi pada lingkungannya.
Membangun empati, tanggung jawab, dan kesadaran sosial menjadi kunci agar kekayaan tidak justru menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kemanusiaan.
Editor : Muhammad Azlan Syah