Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pikun Tak Lagi Sekadar Faktor Usia, Ini Penemuan Baru Penyebab Hilangnya Ingatan dan Solusinya

Andika Julia Perdana Putra • Sabtu, 4 April 2026 | 07:35 WIB
Pikun ternyata dipicu perubahan molekuler di otak, dan ilmuwan kini menemukan cara baru untuk meningkatkan kembali daya ingat. (M Robit Bilhaq)
Pikun ternyata dipicu perubahan molekuler di otak, dan ilmuwan kini menemukan cara baru untuk meningkatkan kembali daya ingat. (M Robit Bilhaq)

 

RADARBONANG.ID – Selama ini, penurunan daya ingat atau pikun sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penyebabnya tidak sesederhana itu.

Ilmuwan kini menemukan bahwa perubahan spesifik di tingkat molekuler dalam otak menjadi faktor utama yang memicu melemahnya kemampuan kognitif.

Temuan ini membuka peluang baru dalam dunia medis untuk mengatasi gangguan memori, bahkan berpotensi menjadi langkah awal dalam penanganan demensia.

Baca Juga: Netizen Indonesia Sulit Dinasehati? Ini 5 Penyebab Utamanya Menurut Perspektif Sosial

Pergeseran Molekuler di Otak Jadi Kunci

Penelitian dari Virginia Tech mengungkap bahwa penurunan memori berkaitan dengan perubahan mekanisme molekuler di dalam sel otak.

Timothy Jarome, profesor yang terlibat dalam studi ini, menjelaskan bahwa perubahan tersebut memengaruhi cara neuron berkomunikasi dan menyimpan informasi.

Dengan kata lain, pikun bukan hanya soal usia, tetapi juga soal bagaimana sistem biologis otak berubah seiring waktu.

Peran Mekanisme Poliubikuitinasi K63

Fokus utama penelitian ini adalah mekanisme yang dikenal sebagai poliubikuitinasi K63. Mekanisme ini berperan dalam mengatur perilaku protein di dalam sel saraf.

Dalam kondisi normal, proses ini membantu neuron bekerja secara optimal, termasuk dalam pembentukan dan penyimpanan memori.

Namun, saat usia bertambah, terjadi ketidakseimbangan dalam aktivitas mekanisme tersebut yang berdampak pada penurunan fungsi ingatan.

Dua Bagian Otak yang Terpengaruh

Penelitian ini juga menyoroti dua bagian penting otak, yaitu hipokampus dan amigdala.

Ketidakseimbangan inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab utama gangguan memori pada usia lanjut.

Terobosan dengan Teknologi Penyuntingan Gen

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti menggunakan teknologi CRISPR-dCas13.

Teknik ini digunakan untuk “menyetel ulang” aktivitas molekuler di kedua bagian otak tersebut.

Hasilnya cukup menjanjikan—penyesuaian aktivitas di hipokampus dan amigdala mampu meningkatkan performa memori secara signifikan.

Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan terapi baru untuk gangguan kognitif.

Peran Gen IGF2 dalam Memori

Selain itu, penelitian lanjutan juga menyoroti peran IGF2, yaitu gen yang berfungsi dalam pembentukan ingatan.

Seiring bertambahnya usia, aktivitas gen ini cenderung menurun. Hal ini turut berkontribusi terhadap melemahnya kemampuan otak dalam menyimpan dan mengingat informasi.

Dengan memahami peran IGF2, para ilmuwan berharap dapat menemukan cara untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan fungsi memori di usia lanjut.

Baca Juga: Unik! Bunga Hias Seperti Tulip dan Lily Dijual dalam Bentuk Umbi di Belanda

Harapan Baru dalam Dunia Kesehatan

Penemuan ini menjadi titik terang dalam upaya memahami proses penuaan otak.

Jika sebelumnya pikun dianggap tak terhindarkan, kini ada harapan bahwa kondisi tersebut dapat diperlambat atau bahkan diatasi.

Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan sebelum diterapkan secara luas, hasil ini memberikan arah baru dalam pengembangan terapi untuk gangguan memori.

Dengan pendekatan berbasis sains molekuler, masa depan pengobatan penyakit kognitif diprediksi akan semakin berkembang dan memberikan harapan bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#penyebab pikun #penelitian otak #hipokampus #kesehatan otak #demensia