RADARBONANG.ID – Sosok beauty influencer ternama Tasya Farasya selama ini dikenal dengan kehidupan yang glamor dan penuh pencapaian.
Namun di balik kesuksesan yang terlihat di layar, ia menyimpan kisah pilu yang baru-baru ini diungkap ke publik.
Dalam perbincangan di kanal YouTube C8 Podcast bersama Ivan Gunawan, Tasya akhirnya berbagi cerita tentang fase terberat dalam hidupnya.
Ia mengungkapkan bahwa momen bahagia saat rumah impiannya selesai dibangun justru beriringan dengan runtuhnya rumah tangga yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
“Sekarang jadinya rumahku sudah jadi, tapi rumah tangganya enggak ada,” ujar Tasya dengan nada yang mencerminkan keikhlasan sekaligus kepedihan.
Pengakuan ini sontak menyadarkan publik bahwa kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial tidak selalu mencerminkan realita sebenarnya.
Perpisahan yang Mengubah Segalanya
Perpisahan tersebut menjadi titik balik besar dalam kehidupan Tasya.
Setelah lebih dari satu dekade membina hubungan, keputusan berpisah tentu bukan hal yang mudah.
Ia mengaku harus menghadapi tekanan emosional yang luar biasa, terutama karena selama ini ia dikenal sebagai sosok yang kuat dan mandiri di hadapan publik.
Tak hanya soal kehilangan pasangan, Tasya juga harus beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai orang tua tunggal.
Perubahan ini menuntutnya untuk mengambil peran lebih besar dalam mengurus keluarga sekaligus mempertahankan karier yang telah ia bangun.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Fisik
Fase sulit tersebut tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memengaruhi kesehatan Tasya secara keseluruhan. Ia mengaku sempat mengalami stres berat yang berujung pada insomnia akut.
Kondisinya bahkan membuatnya harus menjalani pemeriksaan gelombang otak untuk memahami pola pikirnya yang terus aktif tanpa henti.
Dalam situasi tersebut, Tasya merasa sulit mengendalikan pikirannya sendiri.
Ia menggambarkan bagaimana otaknya terus bekerja bahkan saat tubuhnya kelelahan, membuatnya sulit mendapatkan istirahat yang cukup.
Selain itu, tekanan emosional juga berdampak pada kondisi fisiknya.
Tasya mengungkapkan bahwa berat badannya sempat naik hingga 12 kilogram dalam waktu singkat.
Kenaikan berat badan itu terjadi karena ia menjadikan makanan manis sebagai pelarian dari rasa sedih yang ia alami.
“Naik 12 kilo tanpa aku sadari. Habis cerai dengan laki-laki yang 14 tahun bersama aku, ya sudah aku makan cookies, brownies, semua yang manis-manis,” kenangnya.
Pengakuan ini menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan mental dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari seseorang, termasuk pola makan.
Belajar Ikhlas Demi Anak
Di tengah kondisi sulit tersebut, Tasya berusaha tetap tegar demi kedua buah hatinya, Maryam dan Isa.
Ia menyadari bahwa anak-anak tetap membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, meskipun hubungan pernikahan telah berakhir.
Baginya, perpisahan bukan berarti memutus tanggung jawab sebagai orang tua.
Ia berkomitmen untuk tetap menghadirkan sosok ibu yang kuat dan penuh kasih bagi anak-anaknya.
Tasya juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik demi perkembangan psikologis anak.
Ia tidak ingin konflik rumah tangga berdampak negatif pada masa depan mereka.
Sosok Ibu Jadi Sumber Kekuatan
Dalam menghadapi cobaan hidup, Tasya mengaku banyak belajar dari ibunya, Alawiyah Alatas.
Ia menyebut sang ibu sebagai figur luar biasa yang mampu menjalankan peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu.
Sejak kecil, Tasya telah melihat bagaimana ibunya membesarkan anak-anak dengan penuh ketegasan sekaligus kasih sayang.
Hal inilah yang kini menjadi inspirasinya untuk menjalani kehidupan sebagai single parent.
“Mama itu benar-benar figur yang bisa menutup kekurangan sosok ayah di diri aku. Tegasnya seorang ayah, lembutnya seorang ibu, semua ada di Mama,” ungkapnya.
Nilai-nilai yang ditanamkan sang ibu menjadi pegangan kuat bagi Tasya untuk tetap bertahan dalam situasi sulit.
Lebih Hati-Hati dan Fokus Masa Depan
Kini, Tasya memilih untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan berhati-hati, terutama dalam menggunakan media sosial.
Ia mengaku telah belajar dari pengalaman dan tidak lagi ingin terlalu terbuka tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Setelah melewati berbagai badai kehidupan, Tasya juga memilih untuk tidak terburu-buru membuat langkah besar.
Ia ingin menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, termasuk menempati rumah impian yang akhirnya selesai dibangun.
Selain itu, ia juga fokus mengembangkan bisnis yang telah dirintis dari nol hingga sukses seperti sekarang.
Baginya, stabilitas dan ketenangan menjadi prioritas utama di fase kehidupan saat ini.
Menerima Takdir dengan Lapang Dada
Di akhir perbincangan, Tasya menyampaikan pesan penuh makna tentang penerimaan.
Ia percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup memiliki tujuan dan pelajaran yang berharga.
“Yang terjadi sekarang adalah takdir yang terbaik buat aku. Semuanya harus jadi pelajaran,” tuturnya.
Kisah Tasya Farasya menjadi pengingat bahwa di balik kesuksesan seseorang, sering kali tersimpan perjuangan yang tidak terlihat.
Keberanian untuk bangkit dan menerima keadaan menjadi kunci untuk melanjutkan hidup dengan lebih kuat.
Editor : Muhammad Azlan Syah