Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengapa Seseorang yang Kurang Kompeten Sering Kali Merasa Paling Pintar di Ruang Publik? Ini Penjelasannya

M Robit Bilhaq • Selasa, 31 Maret 2026 | 14:37 WIB
Fenomena Dunning-Kruger menjelaskan mengapa orang kurang kompeten sering tampil paling percaya diri di ruang publik era digital. (Ilustrasi)
Fenomena Dunning-Kruger menjelaskan mengapa orang kurang kompeten sering tampil paling percaya diri di ruang publik era digital. (Ilustrasi)

 

RADARBONANG.ID – Di era digital saat ini, ruang publik kerap diwarnai oleh fenomena unik: orang yang memiliki pemahaman terbatas justru tampil paling percaya diri dalam menyampaikan pendapat.

Sebaliknya, mereka yang benar-benar ahli sering kali lebih berhati-hati bahkan cenderung meragukan diri sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan telah lama dijelaskan dalam dunia psikologi melalui konsep Dunning-Kruger Effect.

Konsep ini menjelaskan bahwa individu dengan kemampuan rendah sering kali tidak menyadari keterbatasannya, sehingga merasa lebih pintar dari yang sebenarnya.

Baca Juga: Mengapa IQ Tinggi Bukan Penentu Utama Kekayaan Seseorang, Ini Penjelasannya Menurut Verry Irwandi

Ketika Ketidaktahuan Terasa Seperti Kepastian

Efek ini pertama kali diperkenalkan melalui penelitian pada 1999 yang menunjukkan bahwa orang dengan kompetensi rendah cenderung memiliki kepercayaan diri tinggi.

Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengevaluasi diri secara objektif.

Kemampuan tersebut dikenal sebagai metakognisi. Tanpa metakognisi yang baik, seseorang tidak mampu mengenali batas pengetahuannya sendiri.

Akibatnya, mereka merasa sudah cukup memahami suatu topik, padahal sebenarnya masih berada di tahap dasar.

Dalam konteks ini, muncul istilah populer “Mount Stupid”, yaitu fase di mana kepercayaan diri seseorang berada di puncaknya ketika pengetahuannya masih sangat dangkal.

Mengapa Orang Ahli Justru Lebih Ragu?

Menariknya, kondisi ini berbanding terbalik dengan mereka yang benar-benar kompeten.

Semakin dalam seseorang memahami suatu bidang, semakin ia menyadari betapa luas dan kompleksnya pengetahuan tersebut.

Hal ini sering dikaitkan dengan fenomena Impostor Syndrome.

Individu yang mengalami kondisi ini cenderung meragukan kemampuan diri sendiri, bahkan ketika mereka memiliki pencapaian yang tinggi.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Socrates yang menyatakan bahwa kebijaksanaan sejati adalah menyadari bahwa diri sendiri tidak mengetahui segalanya.

Kesadaran akan keterbatasan justru menjadi ciri dari pemahaman yang lebih dalam.

Dampak di Era Digital

Fenomena kepercayaan diri berlebihan ini menjadi semakin terlihat di era media sosial.

Platform digital memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara, tanpa batasan keahlian atau latar belakang.

Masalahnya, pernyataan yang disampaikan secara spontan dan tanpa dasar dapat dengan mudah menyebar luas.

Banyak kasus menunjukkan bagaimana komentar yang tidak tepat dapat berujung pada konsekuensi serius, mulai dari kritik publik hingga dampak terhadap reputasi dan karier.

Internet tidak memiliki tombol “undo”. Jejak digital yang sudah tersebar sulit dihapus sepenuhnya, sehingga kesalahan dalam berpendapat bisa berdampak jangka panjang.

Mengapa Fenomena Ini Berbahaya?

Kepercayaan diri yang tidak diimbangi dengan kompetensi dapat menimbulkan berbagai risiko.

Selain menyebarkan informasi yang keliru, hal ini juga dapat memicu konflik, memperkeruh diskusi publik, dan menghambat pertukaran ide yang sehat.

Dalam skala yang lebih luas, fenomena ini dapat memengaruhi kualitas informasi di masyarakat.

Ketika opini yang tidak berdasar lebih dominan dibandingkan analisis yang mendalam, maka ruang publik menjadi kurang produktif.

Cara Menghindari Jebakan Dunning-Kruger

Untuk menghindari fenomena ini, setiap individu perlu melatih kesadaran diri dan cara berpikir yang lebih kritis.

Salah satu langkah penting adalah berani mengakui keterbatasan pengetahuan.

Menyampaikan pendapat secara asertif, tanpa merendahkan pihak lain, juga menjadi kunci dalam menjaga kualitas diskusi.

Selain itu, penting untuk mendengarkan dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda.

Salah satu teknik yang dapat diterapkan adalah steel man, yaitu upaya memahami dan menyusun argumen terbaik dari pihak lawan sebelum memberikan tanggapan. Pendekatan ini membantu menciptakan diskusi yang lebih adil dan konstruktif.

Baca Juga: Selebgram Clara Shinta Ungkap Dugaan Perselingkuhan Suami, Rekaman Video Call Viral

Pentingnya Kesadaran Diri di Era Informasi

Di tengah arus informasi yang begitu cepat, kemampuan untuk menahan diri menjadi keterampilan yang sangat berharga.

Bukan lagi tentang siapa yang paling sering berbicara, tetapi siapa yang mampu menyampaikan pendapat dengan tepat dan berdasarkan pemahaman yang cukup.

Memahami batas pengetahuan diri sendiri adalah langkah awal menuju pemikiran yang lebih matang.

Dengan begitu, seseorang tidak hanya terhindar dari kesalahan, tetapi juga mampu berkontribusi secara positif dalam ruang publik.

Pada akhirnya, kesadaran diri dan kerendahan hati intelektual menjadi kunci dalam menghadapi dinamika komunikasi di era digital yang semakin kompleks.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Dunning Kruger Effect #orang sok pintar #impostor syndrome #metakognisi #fenomena media sosial