Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Nasib Kelas Menengah di Ujung Tanduk: Gaji Tergerus AI, Mimpi Punya Rumah Kian Menjauh

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Jumat, 27 Maret 2026 | 13:52 WIB
Kelas menengah kini dihadapkan pada realitas baru: gaji stagnan, harga rumah melambung, dan ancaman AI. Bertahan atau berubah jadi kunci masa depan. (ilustrasi pekerjaan manusia yang tergantikan oleh AI)
Kelas menengah kini dihadapkan pada realitas baru: gaji stagnan, harga rumah melambung, dan ancaman AI. Bertahan atau berubah jadi kunci masa depan. (ilustrasi pekerjaan manusia yang tergantikan oleh AI)

 

RADARBONANG.ID – Posisi kelas menengah kini berada di persimpangan yang mengkhawatirkan.

Di tengah tekanan ekonomi global dan percepatan teknologi, kelompok ini dinilai semakin rentan kehilangan stabilitas finansial. 

Dulu, bekerja tetap dengan penghasilan stabil dianggap cukup untuk mencapai kehidupan mapan—memiliki rumah, kendaraan, hingga tabungan masa depan. Namun, realitas saat ini menunjukkan gambaran yang jauh berbeda.

Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa dunia tengah bergerak menuju pola baru yang lebih keras dan kompetitif.

Baca Juga: Restrukturisasi PlayStation Berlanjut, Sony Tutup Dark Outlaw Games

Investor muda Timothy Ronald bahkan menyebut bahwa sistem ekonomi modern perlahan mengikis eksistensi kelas menengah.

Menurutnya, masyarakat akan terpolarisasi menjadi dua kelompok besar: kalangan elit pemilik aset dan kelompok pekerja yang hanya mampu menyewa.

Pola Pikir Lama Tak Lagi Relevan

Selama puluhan tahun, nasihat klasik seperti “bekerja keras, menabung, lalu membeli rumah” menjadi pedoman utama.

 Namun, lonjakan harga properti yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan membuat formula ini semakin sulit diterapkan.

Di kota-kota besar, harga rumah bisa meningkat berkali-kali lipat dalam satu dekade. Sementara itu, kenaikan gaji pekerja cenderung stagnan.

Kondisi ini membuat generasi muda semakin sulit mengejar kepemilikan aset, bahkan sekadar untuk memiliki rumah pertama.

“Dunia yang sekarang kalian lihat itu sudah tidak lagi didesain untuk adanya kelas menengah,” ujar Timothy.

Ia menilai bahwa sistem ekonomi saat ini lebih menguntungkan mereka yang sudah memiliki aset dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan gaji.

Akibatnya, konsep kepemilikan mulai bergeser. Banyak orang kini lebih memilih atau terpaksa untuk menyewa, baik tempat tinggal, kendaraan, hingga kebutuhan gaya hidup lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai “renting economy”.

Ancaman AI dan Ketidakpastian Pekerjaan

Selain tekanan ekonomi, perkembangan Artificial Intelligence atau AI juga menjadi faktor yang mempercepat perubahan.

Teknologi ini mampu menggantikan banyak pekerjaan berbasis pengetahuan, seperti analis keuangan, penulis, hingga pekerjaan administratif.

Kemajuan AI membuat perusahaan semakin efisien, tetapi di sisi lain mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.

Hal ini berpotensi menekan pendapatan kelas menengah yang selama ini bergantung pada pekerjaan kantoran.

Timothy bahkan secara terbuka menyatakan bahwa banyak pekerjaan yang dulunya dianggap “aman” kini mulai terancam.

Dengan sistem otomatisasi, perusahaan dapat menghemat biaya operasional tanpa harus merekrut banyak karyawan.

Terjebak Gaya Hidup dan Utang

Masalah lain yang memperparah kondisi kelas menengah adalah gaya hidup konsumtif.

Kemudahan akses kredit seperti KPR, cicilan kendaraan, hingga layanan paylater membuat banyak orang terjebak dalam utang jangka panjang.

Alih-alih membangun aset, sebagian besar pendapatan justru habis untuk membayar cicilan.

Situasi ini membuat kelas menengah kehilangan fleksibilitas finansial dan sulit untuk naik kelas secara ekonomi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Ketika penghasilan stagnan dan pengeluaran terus meningkat, kemampuan untuk berinvestasi menjadi semakin kecil.

Pergeseran Menuju “Renting Economy”

Fenomena “renting economy” diprediksi akan semakin dominan di masa depan. Dalam sistem ini, kepemilikan pribadi bukan lagi prioritas.

Banyak orang akan lebih memilih menyewa karena lebih fleksibel dan tidak membutuhkan modal besar di awal.

Namun, di balik fleksibilitas tersebut, terdapat risiko ketergantungan jangka panjang.

 Tanpa kepemilikan aset, individu akan terus mengeluarkan biaya tanpa membangun kekayaan.

Bagi kalangan elit, kondisi ini justru menguntungkan. Mereka yang memiliki aset dapat memperoleh penghasilan pasif dari penyewaan, sementara kelas menengah menjadi konsumen yang terus membayar.

Solusi: Beralih ke Mentalitas Pemilik

Menghadapi perubahan ini, Timothy menekankan pentingnya perubahan pola pikir.

Ia menyarankan agar masyarakat mulai beralih dari mentalitas konsumen menjadi pemilik atau “owner”.

Menurutnya, tidak semua aset harus berupa rumah tinggal. Justru, aset yang menghasilkan arus kas seperti bisnis, saham, atau properti sewa dinilai lebih penting untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Selain itu, peningkatan keterampilan juga menjadi kunci utama. Di era AI, kemampuan yang tidak mudah digantikan mesin—seperti kreativitas, kepemimpinan, dan problem solving—akan menjadi nilai tambah.

Kesadaran finansial dan literasi investasi juga perlu ditingkatkan. Menunda investasi dengan alasan menunggu penghasilan besar justru dianggap sebagai kesalahan fatal yang dapat memperparah kondisi finansial di masa depan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Guyonan, Ini Alasan Ilmiah Umur Laki-Laki Lebih Pendek dari Perempuan

Masa Depan Kelas Menengah

Transformasi ekonomi global tidak dapat dihindari. Kelas menengah kini dituntut untuk beradaptasi lebih cepat agar tidak tertinggal.

Tanpa perubahan strategi, bukan tidak mungkin mimpi memiliki rumah sendiri hanya akan menjadi angan, tergantikan oleh gaya hidup sewa seumur hidup.

Di tengah tantangan ini, satu hal menjadi jelas: bertahan saja tidak cukup. Kelas menengah harus bergerak, belajar, dan berinvestasi untuk tetap relevan dalam sistem ekonomi yang terus berubah.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kelas menengah #dampak AI terhadap pekerjaan #renting economy #harga properti naik #generasi muda sulit beli rumah #investasi pemula