RADARBONANG.ID - Seringkali kita merasa menjadi korban dari emosi kita sendiri.
Saat marah, kita merasa emosi itu datang begitu saja sebagai reaksi otomatis terhadap lingkungan.
Namun, dr. Jimmly Ardian, spesialis kedokteran jiwa, memberikan sudut pandang mengejutkan.
Emosi bukan sesuatu yang nyata secara biologis seperti organ tubuh, tetapi emosi sebenarnya adalah sebuah konstruksi
Berikut adalah poin-poin utama untuk memahami bagaimana emosi bekerja dalam diri kita:
Perbedaan Afek dan Emosi
Kita perlu membedakan antara "afek" dan "emosi".
Afek adalah sebuah sensasi fisik dasar yang sudah kita miliki sejak bayi (seperti menangis saat lapar).
Afek bekerja dalam empat kuadran utama Pleasure & Calmness (Nyaman & Tenang), Pleasure & Arousal (Nyaman & Bersemangat), Unpleasure & Calmness (Tidak Nyaman & Diam), dan Unpleasure & Arousal (Tidak Nyaman & Meledak).
Baca Juga: Cara Mengelola Emosi: Kenapa Kita Mudah Marah? Ini Penjelasan Gobind Vashdev
Emosi Tidak Memiliki "Sidik Jari" Biologis
Banyak orang percaya bahwa setiap emosi memiliki ekspresi wajah atau area otak yang khas.
Namun, penelitian selama ratusan tahun tidak pernah menemukan "sidik jari" (fingerprint) yang konsisten untuk emosi.
Seseorang bisa saja takut namun tetap diam, atau bahkan tersenyum saat takut menghadapi atasan.
Emosi Adalah Konstruksi Sosial dan Bahasa
Emosi terbentuk dari pengalaman, budaya, dan bahasa yang kita gunakan.
Sebagai contoh, jika seorang anak dibesarkan di lingkungan pecinta reptil, ia mungkin merasa senang melihat ular, sementara anak lain akan merasa takut.
Emosi adalah kesepakatan sosial, mirip seperti uang yang berharga karena kita semua sepakat bahwa itu adalah alat tukar.
Kita Adalah "Tuan" Atas Emosi Kita Sendiri
Kita bukan objek pasif yang hanya menerima trigger dari luar.
Karena emosi adalah konstruksi yang kita bangun, kita sebenarnya memiliki kendali untuk memeriksa dan membentuk ulang emosi tersebut.
Sensasi fisiknya mungkin nyata, tetapi label "emosi" yang kita berikan padanya adalah hasil pemikiran kita.
Pemahaman ini sangat penting bagi mereka yang sering merasa "emosian".
Dengan menyadari bahwa emosi adalah hasil konstruksi pikiran, kita bisa belajar untuk lebih bijak dalam merespons perasaan kita. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni