RADARBONANG.ID – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul sebuah tren unik di kalangan anak muda yang dikenal dengan istilah bed rotting.
Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok dan X, bahkan menjadi viral dengan jutaan penayangan.
Secara sederhana, bed rotting menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu seharian di tempat tidur.
Aktivitas ini tidak selalu berarti tidur, tetapi juga bisa berupa menonton film, scrolling media sosial, membaca buku, atau sekadar berdiam diri tanpa melakukan apa pun.
Baca Juga: Mudik Bukan Sekadar Pulang Kampung, Tapi Mesin Waktu yang Membawa Kita ke Masa Kecil
Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk self care. Namun bagi yang lain, tren ini dianggap sebagai kemalasan yang “dikemas” dengan istilah modern.
Ketika Rebahan Jadi Cara Mengisi Energi
Popularitas bed rotting meningkat seiring banyaknya pengguna media sosial yang membagikan pengalaman mereka menikmati hari tanpa aktivitas produktif.
Tagar terkait tren ini pun dengan cepat menyebar dan menjadi bagian dari gaya hidup digital generasi muda.
Bagi kalangan Gen Z, yang hidup di tengah tekanan akademik, pekerjaan, hingga tuntutan sosial, rebahan seharian dianggap sebagai cara untuk mengisi ulang energi mental.
Tidak sedikit yang merasa aktivitas ini membantu meredakan stres setelah menjalani hari-hari yang padat. Dalam konteks ini, bed rotting menjadi bentuk sederhana dari upaya memperlambat ritme hidup.
Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Topik seperti burnout, kelelahan emosional, dan kebutuhan untuk beristirahat kini lebih terbuka dibicarakan dibandingkan sebelumnya.
Self Care atau Sekadar Alasan untuk Malas?
Meski terlihat santai dan menyenangkan, tren ini tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Sebagian orang menilai bahwa kebiasaan rebahan terlalu lama justru bisa berdampak negatif jika dilakukan secara berlebihan.
Menghabiskan waktu terlalu lama di tempat tidur berpotensi menurunkan produktivitas, memicu kebiasaan menunda pekerjaan, hingga membuat tubuh kurang aktif bergerak. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Namun di sisi lain, banyak ahli menekankan bahwa istirahat tetap merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.
Selama dilakukan dalam batas wajar, mengambil waktu untuk tidak melakukan apa pun bukanlah hal yang salah.
Masalah muncul ketika bed rotting berubah menjadi pola menghindari tanggung jawab atau rutinitas harian.
Kenapa Gen Z Menyukai Tren Ini?
Ada beberapa alasan mengapa tren ini begitu cepat populer di kalangan anak muda.
Pertama, mereka hidup di era digital dengan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Notifikasi yang terus masuk dan ekspektasi sosial yang tinggi membuat tekanan terasa semakin intens.
Kedua, banyak anak muda mengalami burnout lebih cepat, baik dari pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial. Rebahan seharian menjadi cara paling mudah untuk “pause” dari rutinitas tersebut.
Ketiga, budaya self care yang semakin berkembang membuat aktivitas seperti ini lebih diterima secara sosial. Apa yang dulu mungkin dianggap malas, kini bisa dipandang sebagai bentuk merawat diri.
Kunci Utamanya: Seimbang
Pada akhirnya, bed rotting bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baik atau buruk. Semuanya bergantung pada bagaimana seseorang mengelola waktu dan kebiasaannya.
Sesekali rebahan seharian bisa menjadi cara efektif untuk memulihkan energi. Namun jika dilakukan terlalu sering, hal ini justru bisa membuat seseorang kesulitan kembali ke pola hidup produktif.
Di tengah tren gaya hidup yang terus berubah, menjaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas tetap menjadi kunci utama.
Jadi, apakah bed rotting merupakan bentuk self care atau sekadar kemalasan? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang.
Namun satu hal yang pasti, tren ini mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda dalam menjaga kesehatan mental di dunia yang semakin cepat dan menuntut. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah