Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Awas! Scrolling Media Sosial Bisa Membuat Otak Semakin Lemot, Ini Penjelasan Ilmiahnya

M Robit Bilhaq • Jumat, 13 Maret 2026 | 14:55 WIB

Scrolling tanpa henti ternyata bisa membuat otak semakin sulit fokus. Fenomena “brain rot” kini mulai banyak dibahas para ahli di era media sosial
Scrolling tanpa henti ternyata bisa membuat otak semakin sulit fokus. Fenomena “brain rot” kini mulai banyak dibahas para ahli di era media sosial

RADARBONANG.ID – Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Banyak orang memulai hari dengan membuka ponsel, mengecek notifikasi, lalu tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling berbagai konten.

Namun di balik kebiasaan tersebut, para ahli mulai mengingatkan tentang fenomena baru yang dikenal sebagai brain rot.

Istilah ini merujuk pada kondisi penurunan kualitas mental dan intelektual akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang dangkal dan tidak menantang secara kognitif.

Fenomena brain rot bahkan mendapat perhatian luas setelah dipilih sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press.

Baca Juga: Fenomena “Gamis Bini Orang” Meledak di 2026: Dari Candaan Netizen Jadi Tren Fashion Muslimah yang Elegan

Penggunaan istilah ini melonjak hingga sekitar 230 persen sepanjang tahun tersebut, menandakan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak konsumsi konten digital yang berlebihan.

Apa Itu Brain Rot?

Secara sederhana, brain rot menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten pendek yang cepat dan berulang, seperti video singkat atau meme, sehingga otak menjadi terbiasa dengan rangsangan instan.

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube menjadi tempat paling umum munculnya fenomena ini karena sistem algoritma mereka dirancang untuk membuat pengguna terus menonton konten tanpa henti.

Beberapa ciri seseorang yang mengalami brain rot antara lain:

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa kelelahan mental meski tidak melakukan aktivitas berat.

Peran Dopamin dalam Kebiasaan Scrolling

Dari sisi sains, fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja dopamin di dalam otak. Dopamin sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan” karena berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.

Dalam kondisi normal, dopamin dilepaskan setelah seseorang melakukan usaha tertentu, misalnya berolahraga, menyelesaikan pekerjaan, atau mempelajari sesuatu yang baru.

Namun media sosial bekerja dengan cara berbeda. Algoritma platform digital mampu memberikan rangsangan dopamin secara instan melalui konten yang terus berganti setiap beberapa detik.

Setiap kali seseorang menemukan video lucu, menarik, atau mengejutkan, otak akan melepaskan dopamin dalam jumlah kecil.

Hal ini membuat pengguna terdorong untuk terus menggulir layar demi mendapatkan sensasi yang sama.

Masalahnya, jika rangsangan ini terjadi terlalu sering, otak akan menyesuaikan diri dengan cara mengurangi jumlah reseptor dopamin. Akibatnya, seseorang mulai merasa “mati rasa” terhadap konten biasa dan membutuhkan lebih banyak rangsangan untuk merasa senang.

Kondisi ini sering disebut sebagai zombie scrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan yang jelas.

Attention Span Semakin Pendek

Selain memengaruhi hormon, konsumsi konten pendek secara terus-menerus juga dapat memengaruhi attention span atau kemampuan fokus seseorang.

Ketika otak terbiasa menerima informasi dalam bentuk sangat singkat, kemampuan untuk membaca teks panjang, memahami materi kompleks, atau berkonsentrasi dalam waktu lama menjadi semakin berkurang.

Padahal otak manusia memiliki sifat neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk berubah mengikuti aktivitas yang sering dilakukan.

Jika seseorang lebih sering mengonsumsi konten instan dan jarang melakukan aktivitas berpikir mendalam, jaringan saraf di otak dapat mengalami proses yang disebut synaptic pruning—yakni pemutusan koneksi saraf yang jarang digunakan.

Solusi: Detoks Media Sosial

Untuk mengurangi dampak tersebut, para ahli menyarankan langkah sederhana namun cukup menantang: melakukan digital detox atau detoks media sosial.

Salah satu cara yang sering direkomendasikan adalah mengurangi penggunaan media sosial selama beberapa minggu atau bahkan satu bulan.

Sebagai gantinya, waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling bisa dialihkan ke aktivitas yang lebih merangsang otak, seperti:

Dengan memberikan “latihan” yang lebih menantang bagi otak, koneksi saraf diharapkan dapat kembali aktif dan kuat.

Baca Juga: Scrolling Tanpa Henti: Kenapa Setelah Berjam-jam Main HP Kita Justru Merasa Lelah dan Kosong?

Menjaga Keseimbangan di Era Digital

Media sosial sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Platform digital tetap memiliki manfaat besar sebagai sumber informasi, hiburan, dan sarana komunikasi.

Namun seperti banyak hal lain dalam hidup, kuncinya terletak pada keseimbangan.

Jika digunakan secara bijak, teknologi dapat membantu manusia berkembang. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kontrol, kebiasaan sederhana seperti scrolling justru bisa membuat otak semakin lambat dan sulit fokus.

Karena itu, sesekali meletakkan ponsel dan memberi ruang bagi otak untuk berpikir lebih dalam mungkin menjadi langkah kecil yang sangat berarti bagi kesehatan mental di era digital.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#attention span menurun #efek scrolling terlalu lama #Bahaya konten pendek #dopamin dan media sosial #brain rot media sosial